Indonesia Berada dalam Pusaran Budaya Seks Bebas, Korupsi dan Pelacuran Politik

Tidak ada rasa malu lagi untuk melakukan hubungan badan, berciuman dan bertelanjang bulat di depan umum, dijalanan dan di area publik.
Hamdani.

ACEHSATU.COM – Manusia tergolong makhluk pemuja kenikmatan.

Andai dia tidak dilandasi dengan iman dan akal, maka tak ubahnya mereka seperti hewan.

Benarkah?

Anda boleh berkata tidak, karena itu hak siapapun untuk berpendapat.

Namun seperti hewan yang saya maksud bahwa manusia sampai tidak lagi memiliki sifat malu dalam dirinya.

Jika Anda melihat hewan yang seenaknya berjalan di depan siapapun tanpa mengenakan pakaian, maka begitulah manusia yang sudah seperti hewan.

Tidak ada rasa malu lagi untuk melakukan hubungan badan, berciuman dan bertelanjang bulat di depan umum, dijalanan, dan di area publik.

Apalagi di cafe-cafe, hotel, kantoran, dan mohon maaf barangkali ada yang sudah berlaku di tempat ibadah (ada sekte tertentu).

Seks memang salah satu kenikmatan.

Manusia sebagai mahkluk yang diciptakan untuk hidup berkembang biak dengan memiliki keturunan, maka seks menjadi sarana untuk meneruskan keturunan tersebut.

Melalui hubungan intim manusia bisa hamil dan dilahirkan secara terus menerus.

Memang tidak ada yang salah dengan seks, karena hal itu adalah fitrah.

Bahkan seks yang dijaga dan disalurkan dengan tepat dapat membawa manusia pada derajat lebih tinggi.

Namun sebaliknya seks juga dapat menjadi malapetaka apabila manusia tidak pandai menyalurkannya.

Ia dapat menjerumuskan manusia jadi hina dibawah derajat hewan.

Hari-hari ini kelalaian manusia dalam menjadi hasrat seksnya mencuat.

Banyak artis yang terlibat praktik prostitusi dan berperan sebagai pemeran video syur (dikonsumsi publik) membuktikan bahwa hasrat seks tersebut telah menjerumuskannya.

Bukan hanya sekedar menjadi penikmat seks bahkan telah mengkomersialisasikan hasrat tersebut untuk menghasilkan rupiah.

Praktik bisnis haram menjual diri dengan layanan seks dan nafsu birahi sekarang ini telah menjadi ancaman nyata dan sangat riskan terhadap kelangsungan hidup sosial masyarakat Indonesia yang konon berbudaya timur.

Kini seks telah berubah menjadi sebuah senjata yang mampu menghancurkan moralitas, dan kehormatan manusia.

Bagaimana tidak?

Seorang figur publik yang telah menjadi idola para remaja dan anak muda justru menjadi ikon penjual “kenikmatan” demi kehidupan yang serba mewah dan glamour.

Bukannya menunjukkan prestasi yang dapat menginspirasi kawula muda, justru menunjukkan jalan cara mencari rupiah dengan keliru dan salah.

Konkritnya, penangkapan yang kesekian kalinya para artis yang diduga menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) di beberapa kota merupakan bukti nyata kehancuran moral bangsa.

Disisi lain ada juga satu kenikmatan yang tak kalah sedapnya dengan hasrat seks yaitu korupsi.

Bagai wabah atau endemis (lebih parah dari Covid-19) yang telah merusak seluruh aspek kehidupan manusia Indonesia terus berlangsung.

Sampai-sampai bantuan sosial untuk rakyat pun dikorup, mereka tidak peduli.

Seolah tidak ada siapapun yang dapat menghentikannya para koruptor semakin berani dan tanpa malu-malu melakukan perbuatan hina tersebut.

Bagaikan pelacur yang sudah terbiasa menjajakan dirinya dipinggir jalan, begitulah pula para koruptor.

Mereka tidak segan-segan dan tidak pula malu untuk mengutil uang negara dan melakukan praktik suap menyuap agar tercapai apa yang mereka inginkan.

Hal itu juga merupakan penyimpangan prilaku sebagaimana manusia tidak mampu mengendalikan hasrat seks mereka.

Yang kalau dibiarkan terus berlangsung, maka hancurlah seluruh tatanan kehidupan manusia yang tertib, sehat, dan aman.

Karena itu antara seks bebas dan korupsi memang sumber kejahatan.

Kedua kenikmatan yang kontradiktif namun saling membutuhkan.

Maksudnya, secara empiris banyak pelaku korupsi yang menggunakan hasil penjarahan uang secara haram digunakan untuk jajan seks melalui penyedia jasa bisnis “daging hidup” di hotel-hotel atau pihak agen atau muncikari.

Dari sekian banyak pelaku korupsi yang berasal dari kalangan politisi, pejabat, dan pengusaha yang terungkap pernah menjadi konsumen para penjual seks.

Silakan cari sendiri data tentang ini, cukup Anda buka bank data yang Anda punya, pasti tahu siapa-siapa saja mereka.

Lain praktik seks bebas dan murahan, lain pula model pelacuran politik.

Istilah pelacuran politik diberikan karena pada sifat dan aktivitas politik yang dilakukan oleh politisi kerap mencirikan sifat pelacur.

Yang semestinya politik itu lebih bermartabat, penuh penghormatan. Namun ditangan politisi pelacur politik menjadi hina, rendah, dan hanya mementingkan nafsu birahinya saja.

Jadi dapat disimpulkan bahwa seks menyimpang, korupsi dan politik memang sama-sama nikmat dan mempunyai rasa kenikmatan yang luar biasa bagi mereka yang senang melakukannya.

Yang seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang benar, lurus, dan beretika.

Dengan begitu para aktornya akan menjadi lebih terhormat dan bermartabat.

Hentikanlah segala perilaku dan tindakan yang dapat merugikan orang banyak.

Tinggalkanlah hobi jajan seks (drama perselingkuhan, wanita simpenan, lelaki panggilan) diluar sementara Anda memiliki pasangan yang setia melayani Anda setiap saat.

Bahkan aktivitas seks bisa dilakukan secara bebas tanpa perlu sembunyi-sembunyi karena takut ditangkap.

Bahkan jika Anda lakukan dengan niat ibadah, maka aktivitas seks tersebut menjadi amal ibadah.

Begitu pula dengan politik.

Perlihatkan dan tampilkan cara berpolitik dewasa, penuh penghormatan, dan tidak menggunakan segala cara untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan.

Meskipun memiliki kekuasaan saat ini.

Hindari menerapkan standar ganda pada ujung pedang kekuasaan yang telah diberikan pada Anda.

Karena semua itu akan dimintai pertanggungjwaban.

Maka hati-hatilah jangan menjadi aktor politik dengan menampilkan diri seperti seorang pelacur yang tanpa malu-malu menjual diri pada pilihan yang keliru. (*)