In Memoriam Nurdin Abdurahman; Selamat Jalan Guruku

Selamat Jalan Guruku

Oleh Saifuddin Bantasyam

Innalillahiwainnailahiraji’un.

Melalui media sosial, saya membaca informasi bahwa Drs Nurdin Abdurrahman, M.Si meninggal dunia di Bireun, pada Senin subuh, 8 Juni 2020.

Semoga Allah menerima seluruh ibadah dan amal beliau dan menempatkan beliau dalam surga jannah.

Saya memiliki sejumlah kenangan dengan beliau khususnya saat beliau  berprofesi sebagai Dosen Bahasa Inggris di Universitas Syiah Kuala dulu.

Saya adalah salah satu mahasiswa beliau dalam Program English Intensive Course (untuk para dosen muda Unsyiah).

Cara mengajarnya sangat enak, tak terlihat seperti sedang mengajar melainkan semacam menjalani perbincangan sosial biasa.

Beliau juga sangat penyabar.

Sifat sering senyum, rapi, dan wajah gantengnya yang mirip aktor film India adalah satu atribut lain yang melekat kepada beliau.

Satu hari, saya lupa tahun berapa,  kami ada kelas di Lab Bahasa Inggris Unsyiah, saat mana beliau seharusnya mengisi kelas 1.5 jam. Tetapi beliau tak pernah muncul sampai jam belajar habis. Besoknya kami mendengar kabar bahwa beliau berhalangan karena memenuhi panggilan polisi atas dugaan keterlibatan beliau menjadi simpatisan GAM.

Hal ini pula yang membuat, pada masa-masa sebelumnya, beliau sering ditahan oleh pihak kepolisian di beberapa tempat di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Saya tak ingat lagi bagaimana awal dan ujung, namun yang saya mendengar bahwa pada 2001/2002 Pak Nurdin mendapat suaka dan menetap di Australia sebagai permanent resident.

Saat itu Hendry Dunant Centre (HDC) sedang memfasilitasi perundingan GAM-RI yang pertama (disebut dengan Jeda Kemanusiaan—Humanitarian Pause).

Menurut beliau turut memberikan beberapa pemikiran untuk kesuksesan Jeda Kemanusiaan itu, terutama terkait kesepakatan Cesscation of Hostility Action (CoHA)—kesepakatan menghentikan kekerasan.

Pada periode antara 1999-2002, seingat saya, Pak Nurdin juga menjabat sebagai Direktur RATA (Rehabilitation Action for Torture Victims).

Dalam masa ini, saya yang menjabat Direktur Forum/Yayasan Peduli Hak Asasi Manusia, dan kemudian pada awal Januari 2000 menjadi Program Officer UNDP Banda Aceh, saya beberapa kali berkomunikasi dengan beliau untuk masalah-masalah kemanusiaan.

Misalnya, menangani beberapa korban konflik untuk memperoleh akses pengobatan di Banda Aceh.

Dalam perundingan berikutnya antara GAM-RI di Helsinki, difasilitasi oleh Martti Ahtisaari awal 2005, Pak Nurdin mulai terlibat penuh sebagai juru runding GAM bersama dengan Malik Mahmud, dr Zaini Abdullah, Nur Djuli, dan Bachtiar Abdullah.

Dalam perjalanannya kemudian, beliau mencalonkan diri sebagai calon Bupati Bireun dan terpilih untuk menjabat pada periode 2007-2012.

Tetapi beliau maju bukan atas usungan dari kalangan eks GAM, melainkan dari jalur independen.

Keputusan ini membuat beliau dijauhi eks GAM. Tahun 2012 beliau mencalonkan diri kembali, namun tidak terpilih.

Saya sempat bertemu suatu acara di Kantor Bupati Bireun, beliau mengatakan kepada audiens bahwa saya adalah sahabat beliau, sambil menambahkan beberapa hal berkaitan dengan kegiatan saya dulu di YPHAM, dan juga berkaitan dengan LSM RATA.

Menyebut saya sebagai sahabatnya adalah bagian dari kerendahan hati beliau (humbleness).

Karena itu saya mengklarifikasi kepada audiens bahwa beliau adalah guru (gurei) atau dosen Bahasa Inggris saya di Unsyiah dulu.

Saya kemudian ketemu lagi dengan beliau pada suatu kegiatan di sebuah hotel di Banda Aceh pada tahun 2018.

Saat bersua, saya menyapa beliau dengan penuh takzim, karena beliau adalah guru saya. Ada sekitar lima menit kami habiskan untuk saling menukar kabar tentang beberapa hal.

Di akhir acara, semua peserta berfoto bersama.

Saat itu saya mendapatkan nomor WA beliau dan kemudian juga saling berkomunikasi.

Saya senang mengetahui bahwa beliau mengabdi juga sebagai dosen di Universitas Almuslim Bireun sebagai dosen bahasa Inggris.

Setelah sekian lama tak lagi mengajar dalam kelas, saya dapat merasakan betapa bergairahnya beliau bertemu lagi dengan mahasiswa dengan generasi yang berbeda dengan saya dan kawan-kawan dulu.

Pada bulan Juli 2018, beliau mengirimkan satu pesan via WA ke saya. Judulnya adalah Sopir Angkot Menyebarkan Energi Positif.

Ini cerita tentang supir angkota yang menggratiskan 4 (empat) kursi kepada seorang ibu dengan tiga anaknya yang ingin ke terminal bus.

Sebelumnya mereka sudah sekian lama menunggu tapi tak ada satu pun angkot yang mau mengangkut mereka karena si ibu hanya punya ongkos untuk dirinya sendiri, tak cukup untuk anak-anaknya.

Mereka pun tiba di terminal bus. Si ibu berterima kasih kepada sang supir.

Namun di belakang ibu itu, Namun di belakang ibu itu, ada seorang penumpang pria turun dan membayar Rp. 25.000,-Ketika Sopir akan memberi kembalian, pria itu berkata: “ Untuk Ongkosku dan 4 orang penumpang tadi… “Teruslah jadi orang baik ya dik,” kata pria tersebut kepada sopir angkot muda itu. Seorang ibu yg jujur.

Seorang sopir yang baik hati.

Seorang penumpang yang dermawan.

Mereka saling mendukung dalam berbuat kebaikan.

Di akhir WA itu, Pak Nurdin menulis: Hidup ini hanya sekali dan begitu singkat. Marilah kita terus berbuat baik, jangan berhenti dan jangan pernah merasa lelah untuk berbuat kebajikan.

Tidak perlu harus kaya untuk melakukan kebaikan.  Selamat berlomba – lomba dalam kebaikan.

Ada pesan lain yang beliau bagikan ke saya yang juga tak bisa saya lupakan.

Dikirimkan ke WA saya pada Juni tahun yang sama.

Kali ini adalah tentang #Love #Parents #Mother #Father. Beliau membagi cerita tentang seekor ibu kucing yang tertabrak, kepalanya retak kakinya pun patah, tapi ia masih berusaha mendatangi anaknya yang sedang menunggunya pulang membawa sedikit makanan. Ia berjalan jauh dengan keadaan sekarat, terseok “sambil mengingat anak”nya.

Ketika sampai, lalu ia pun terkapar tak berdaya, sedangkan anak-anaknya yang masih kecil & belum mengerti apapun, mendekati ibunya lalu menyusu kepada induknya,  yang sudah tak bernyawa.

Untukmu, Duhai bunga yang tak pernah layu/Untukmu, yang telah mengusap air mataku/Untukmu, yang telah membasuh kotoranku/Yang telah menyuapi makan dan minum dengan tanganmu ke mulutku/Untukmu, yang menjadikan haribaan sebagai ketenangan bagiku/

Betapa letihnya engkau, Ibu/Wahai Ibu/Pintu mana lagi yg bisa terbuka untukku jika seandainya pintumu telah tertutup?/Wahai Ibu,

Siapa pula yang dapat mendekatkan dirinya kepadaku jika seandainya selain engkau?/Wahai Ibu, Siapa pula yang akan menyayangiku jika seandainya engkau telah murka kepadaku?/

Bagian akhir dari pesan tersebut berbunyi: Jika engkau kehilangan ibumu, atau kehilangan ayahmu, bisakah engkau mendapatkan gantinya??Kemanakah engkau mencari gantinya?Perjuangan seorang ibu/ayah terhadap anaknya, tak akan pernah terbayarkan/ Mari kita doakan kedua orang tua kita: Allahummaghfirli waliwaalidayya warhamhumma kama robbayaana shighaara. Aamiin…

“Kontak” terakhir saya dengan adalah pada 28 Januari lalu, melalui artikel beliau dalam Harian Serambi Indonesia berjudul “Saya Hadir Kenapa Harus Teken Absen?” Sebuah tulisan yang renyah, koreksi beliau terhadap kesalahkaprahan kita tentang bahasa.

Begitulah pertemuan saya dengan beliau semasa hidup. Beberapa WA kepada saya yang antara lain berisikan dua cerita tersebut, saya terima sebagai cara beliau mendidik saya tentang kehidupan ini. Beliau memang guru saya dan saya adalah muridnya.

Selamat jalan guruku!