oleh

Imam Ali: Hati-hati, Kecemburuan Kunci Perceraian

-Kolom-280 views

ACEHSATU.COM – Kata orang kecemburuan adalah bumbu dalam hidup berumah tangga. Ibarat makanan, tidak lezat dan hambar rasanya bila tidak ada kecemburuan. Anggapan itu tidak semuanya salah.

Kecemburuan juga pernah menghiasi rumah tangga dan kisah kehidupan Rasulullah Saw ketika beliau hidup bersama Ummahatul Mukminin Siti Aisyah. Bahkan bisa dikatakan cemburu adalah tanda cinta.

Seorang suami yang tidak memiliki kecemburuan sama sekali, nyaris bisa disebut sebagai dayyuus. Profil laki-laki (suami) yang di dalam hadits disebut tidak akan pernah masuk surga.

Demikian juga seorang istri. Kecemburuan seorang istri bisa memiliki dua bentuk bila dilihat dari sudut objek kecemburuan. Pertama, kecemburuan istrinya terhadap madunya. Kedua, kecemburuan seorang istri terhadap wanita lain yang belum sah menjadi istri sah suaminya.

Pada kasus pertama kecemburuan seperti itu sebenarnya wajar-wajar saja. Siti Aisyah Radhiallu ‘anha juga pernah merasakan kecemburuan seperti itu. Asal tidak berlebihan dan tidak menyebabkan terjadinya perbuatan dosa, tidak menjadi masalah. Namun bila dilampiaskan secara berlebihan, tidak jarang bisa berakibat fatal.

Abul Aswad pernah berkata, “hati-hati terhadap kecemburuan, karena bisa menjadi kunci perceraian.”

Adapun kecemburuan yang kedua, harus diwaspadai lebih ketat lagi. Karena kecemburuan tersebut mengandung prasangka yang diharamkan, mengandung kecurigaan atau bahkan tuduhan yang tidak diperbolehkan dalam Islam, kecuali dengan bukti-bukti yang jelas.

Ini nasehat Imam Ali terhadap persoalan ini. Beliau berkata, “waspadalah terhadap kecemburuan, karena kecemburuan adalah kunci perceraian. Jangan banyak mengecam, karena kecaman itu melahirkan kebencian.”

Sebagai perempuan, seorang istri wajar saja mengalami kecemburuan karena sebab-sebab yang jelas. Karena kecemburuan itu berawal dari rasa cinta.

Cinta itu sendiri sering ditafsirkan sebagai perasaan memiliki. Saat merasa memiliki, wajar pula bila seseorang merasa sayang dan dekat dengan yang dimilikinya.

Saat sayang dan dekat, wajar pula bila ia berusaha mempertahankan untuk terus menjadi miliknya. Dan dari situlah berawal kecemburuan. Karena ada rasa kekuatiran bahwa orang lain akan mencoba pula memilikinya atau sudah jelas memang memilikinya bersama-sama namun ia tidak rela dinomorduakan.

Cemburu bukanlah sesuatu yang diusahakan oleh wanita. Ia bisa disebut sebagai ledakan fitrah kewanitaan. Namun bila wanita berlebih-lebihan dalam cemburu, maka ujung-ujungnya bisa tercela.

Kecemburuan yang sekedar dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, itulah yang disebut sebagai cemburu yang tercela. Sebab ada pula cemburu yang disyariatkan yaitu kecemburuan istri terhadap suami karena kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang suaminya tersebut.

Itu artinya, cemburu bukanlah keburukan. Cemburu yang buruk adalah cemburu yang berlebih-lebihan. Cemburu istri terhadap suaminya, hakekatnya adalah rasa simpati yang jujur yang didasari oleh rasa cinta yang mendalam terhadap suaminya itu.

Namun perasaan itu terkadang dinodai oleh hasrat dan ketamakan untuk mementingkan dirinya, selain merupakan kondisi jiwa yang mengungkapkan kekhawatiran wanita terhadap masa depan hidupnya.

Zainuddin dalam bukunya menuliskan perpaduan ini merupakan cinta yang dalam, egois yang berlebih-lebihan dan kekhawatiran yang sangat. Hal inilah yang menyebabkan perasaan atau emosi cemburu dalam diri wanita.

Lebih lanjut ia menukilkan bahwa perasaan cinta seorang istri terhadap suaminya kadang membahagiakan dan menciptakan iklim yang kondusif untuk mmewujudkan hasratnya.

Namun emosi istri untuk mencintai dirinya sendiri atau rasa kuatirnya akan masa depannya, kadang menggiring suami untuk mencintai dirinya saja. Ia berangan-angan segala kebaikan hanya untuk dirinya dan anak-anaknya.

Cemburu melampaui batas

Terkadang kecemburuan itu melampaui batas, sehingga menyebabkan seorang istri melakukan tindakan aneh dan memalukan. Pada mulanya ia meragukan integritas suami dan menuduh tingkah-lakunya macam-macam.

Ia berprasangka buruk terhadap suaminya ketika ia berpaling dan melihat seorang wanita yang sedang berjalan. Ia juga mencurigai suaminya ketikan berbicara di telepon dengan suara pelan. Ia menduga yang bukan-bukan ketika suami bepergian jauh atau semacamnya.

Bahkan ia mencurigai suaminya ketika sibuk sehingga melupakan istrinya. Padahal tidak terlihat sedikit pun hal-hal yang mencurigakan pada diri sang suami, selain juga pada diri wanita itu sendiri.

Membuat gagal

Intinya bila kecemburuan itu pada jalur yang salah, atau dilakukan secara berlebihan oleh seorang istri terhadap suaminya, pasti akan menciptakan derita berkepanjangan pada diri sang suami, selain juga pada diri wanita itu sendiri. Bahkan bisa membuat seorang suami mencari wanita idaman lain.

Wanita dengan tipikal pencemburu buta, bisa menjadi neraka bagi siapapun yang menjadi suaminya. Wanita seperti itu, ibarat duri dalam daging, kecil tapi berbahaya dan menyakitkan. Karena ia bisa menghalangi banyak maksud baik, bisa merusak banyak aktivitas, dan bisa mengganggu banyak pekejaan, tugas dan kewajiban yang diemban oleh suami mereka.

Itu bukan berarti hidup dengan istri nyaris tanpa cemburu akan begitu menyenangkan. Sebutlah cemburu itu sebagai bumbu maka bagaimana bisa merasakan lezatnya cinta dan sayang istri atau suami bila tidak ada cemburu didalamnya.

Namun takarlah kecemburuan itu sesuai dengan porsinya. Tidak berlebihan dan atau tidak ada sama sekali. Bagaimana seorang istri bisa merasakan kebanggaan bila suami yang dicintainya tidak pernah mencemburuinya atau sebaliknya. Kecemburuan ala-kadarnya tetaplah sebuah keharusan. (*)

Komentar

Indeks Berita