IJTI Aceh Kecam Arogansi Kamerawan yang Mengaku dari Polda

Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah Aceh mengecam arogansi yang dilakukan oleh oknum kamerawan yang mengaku dari Mapolda Aceh saat wawancara istri Kapolda Aceh.
IJTI Aceh
Ilustrasi - Aksi solidaritas wartawan untuk menolak tindakan intimidasi dan kekerasan terhadap kerja jurnalis. (ANTARA FOTO/Noveradika/Koz/nz/aa.)

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH  — Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah Aceh mengecam arogansi yang dilakukan oleh oknum kamerawan yang mengaku dari Mapolda Aceh saat wawancara istri Kapolda Aceh.

Ketua IJTI Pengda Aceh Munir Noer di Banda Aceh, Jumat, mengatakan arogansi tersebut dialami Fadli Batubara, kontributor TVOne, saat mewawancarai istri Kapolda Aceh.

“Saya mengecam kejadian ini. Polda Aceh dan wartawan bermitra dengan baok. Pelaku harus meminta maaf kepada korban secara institusi kepolisian, kita tidak akan berhenti sampai di sini,” kata Munir Noer.

Munir mengatakan tugas wartawan dilindungi undang-undang mendapatkan informasi yang layak diketahui oleh publik, tentunya dengan kode etik jurnalistik. Jadi bila ada yang menghalangi, maka IJTV tidak akan tinggal diam.

“Kami tidak tutup mata dan tidak diam dengan kejadian ini. Polda Aceh polisi juga harus memastikan kepada anggotanya agar kejadian serupa tidak berulang,” jelas Munir Noer.

Sementara itu, Fadli Batubara menuturkan kejadian bermula saat sesi wawancara usai peluncuran buku fotografi karyanya Winta Widodo, istri Kapolda Aceh Ijren Pol Wahyu Widada di Museum Tsunami, Banda Aceh, Jumat (19/2).

“Saat wawancara berlangsun, saya menegur dia karena mikrofon kameranya masuk ke dalam frame kamera saya. Tapi, pelaku yang arogan malah menepuk kamera saya,” kata Fadli Batubara yang menjadi korban arogansi tersebut.

IJTI Aceh
Ilustrasi – Aksi solidaritas wartawan untuk menolak tindakan intimidasi dan kekerasan terhadap kerja jurnalis. (ANTARA FOTO/Noveradika/Koz/nz/aa.)

Usai wawancara, Fadli memanggil yang bersangkutan untuk menanyainya. Namun, yang bersangkutan justru memaki dan mengatakan dirinya dari Polda Aceh.

“Dia pegang kerah baju saya dan bilang dari Polda Aceh. Kemudian, ada yang melerai kami,” terang Fadli.

Senada juga disampaikan, Taufan, kontributor Inews TV. Ia mengatakan kejadian terjadi saat wawancara. Terdengar cekcok antara keduanya, sehingga sempat menggangu proses wawancara.

“Ketika wawancara terdengar cekcok, hingga kamera saya ikut goyang juga. Selesai wawancara mereka malah sempat bersitegang juga, sehingga langsung dilerai kawan-kawan,” kata Taufan.

Untuk diketahui, dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers dijelaskan bahwa bagi siapa saja yang melakukan kekerasan dan menghalangi wartawan dalam melaksanakan tugas peliputannya, maka dapat dikenakan hukuman dua tahun penjara dan denda paling banyak Rp500 juta rupiah.

Dalam Pasal 4 UU Nomor 40 Tahun 1999 menyatakan menjamin kemerdekaan pers dan pers nasional memiliki hak mencari, memperoleh dan menyebar luaskan gagasan dan informasi. (*)