Hubungan PA 212 danPrabowo Bak Benang Kusut

Prabowo Subianto. (Foto: Rifkianto Nugroho)

ACEHSATU.COM | JAKARTA – Hubungan antara PA 212 dan Prabowo Subianto pasang surut bak benang kusut.

Dulu satu komando mendukung Ketum Gerindra itu duduk di kursi RI 1, kini nyaring sebut Prabowo sudah finish.

Hubungan Prabowo dengan PA 212 itu dimulai sejak Pilpres 2019 lalu. PA 212 dkk menggelar Ijtimak Ulama yang mana keputusan forum itu merekomendasikan Prabowo sebagai Capres 2019.

Ijtimak Ulama diinisiasi oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama, Front Pembela Islam, dan PA 212.

Forum Ijtimak Ulama juga berjilid-jilid. Pada Ijtimak Ulama yang pertama, Prabowo dapat rekomendasi untuk berpasangan dengan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf dan Ustaz Abdul Somad.

Rekomendasi itu keluar pada Juli 2018.

Dinamika politik pada saat itu berkembang. Sampai akhirnya Prabowo berpasangan dengan Sandiaga Uno.

PA 212 pun tak lantas langsung mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga. Karena dua nama di Ijtimak Ulama I tak ada yang dipilih, Habib Rizieq Syihab meminta digelar Ijtimak Ulama II.

Akhirnya keputusan mendukung atau tidak pasangan Prabowo-Sandiaga ditetapkan melalui Ijtimak Ulama II.

Pada 16 September 2018, Imam besar FPI Habib Rizieq Syihab secara resmi menyatakan dukungannya kepada pasangan bakal capres Prabowo Subianto dan bakal cawapres Sandiaga Uno.

Lalu Pilpres 2019 digelar pada 17 April 2019. Kekalahan Prabowo-Sandiaga dari pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin berdasarkan situng KPU, menambah babak baru Ijtimak Ulama jilid III.

Ijtimak Ulama III menyimpulkan Pilpres 2019 diwarnai kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif. Ijtimak lalu mendesak Bawaslu-KPU untuk mendiskualifikasi paslon 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dari Pilpres 2019. Namun Jokowi-Ma’ruf tetap dinyatakan menang oleh KPU.

Sampai pada Ijtimak Ulama Jilid IV, PA 212 masih berada di belakang Prabowo.

Ijtimak Ulama IV ini tetap menyimpulkan bahwa kemenangan Jokowi-Ma’ruf sarat akan kecurangan. Mereka menolak pemerintahan yang dipimpin Jokowi-Ma’ruf.

Pasang badan PA 212 untuk Prabowo lantas luntur ketika Prabowo masuk kabinet Indonesia Maju Presiden Jokowi. Prabowo ditunjuk Jokowi sebagai Menteri Pertahanan.

Ketua PA 212 Slamet Maarif menanggapi dingin keputusan Prabowo jadi pembantu Presiden. Namun dia mendoakan Prabowo agar bisa menjaga pertahanan negara dan umat.

“Kami tidak ingin mencampuri hak pribadi PS (Prabowo Subianto), jika itu keputusan yang diambil PS menjadi Menhan, kita hanya bisa mendoakan semoga ada manfaat buat pertahanan negara dan umat, tetapi secara organisasi, kami tetap berpegang pada hasil Ijtimak ulama 4, dan tidak akan rekonsiliasi dengan kekuasaan yang curang dan zalim,” kata Slamet, Kamis (24/10/2019).

Sepuluh Bulan Ketum Gerindra itu masuk pemerintahan Jokowi, hubungan Prabowo dengan PA 212 sudah benar-benar surut. Apalagi ketika Partai Gerindra bicara soal proyeksi Prabowo pada Pilpres 2024.

Slamet Ma’arif menilai Prabowo sudah finish. Dia menegaskan hubungan PA 212 dengan Gerindra sudah selesai pasca-Pilpres 2019. Begitupun perihal dukungannya terhadap Prabowo saat ini.

“Kita kemarin dukung PS full karena hasil Ijtima Ulama untuk pilpres. Jadi pilpres selesai, ya sudah, selesailah,” ucap Slamet, Senin (10/8/2020).

“Tetapi, dengan pribadi atau kawan-kawan Gerindra sesama anak bangsa, ya kita masih bersahabatlah untuk saling mengingatkan sesama saudara,” sambungnya.

Begitu pula Pilpres 2024. Slamet mengatakan PA 212 akan berpikir 1.000 kali untuk mendukung Prabowo lagi, jika Menteri Pertahanan itu maju Pilpres 2024 nanti.

Menurut Slamet, sudah seharusnya Pilpres 2024 diisi generasi muda. Dia pun berharap Prabowo memberi kesempatan kepada generasi muda untuk berlaga di Pilpres 2024 nantinya.

“Kami sendiri harus berpikir 1.000 kali untuk dukung beliau lagi nanti. Insyaallah 2024 tahunnya generasi muda untuk pimpin negeri ini,” imbuhnya.

Alasan berpikir 1.000 kali itu adalah PA 212 memiliki banyak catatan untuk Prabowo. Ketika ditanyakan mengapa seribu kali berpikir sebelum mendukung Prabowo di 2024, Slamet menyinggung soal pergelaran Pilpres 2019. Catatan itu termasuk bergabungnya Prabowo ke pemerintah Presiden Jokowi.

“Termasuk gabung dengan pemerintah Jokowi,” ucap Slamet.

Sementara itu, Waketum Gerindra Sufmi Dasco Ahamd menganggap pernyataan Slamet Ma’arif hanya sebuah pendapat. Dia menyebutkan, jika Slamet Ma’arif ingin mengajukan calon lain, ia dipersilakan untuk membuat partai sendiri.

“Pendapat itu boleh-boleh saja, tetapi kita Gerindra punya mekanisme sendiri dan mekanisme itu diatur sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai Gerindra. Ya kalau Pak Slamet Ma’arif mengatakan Pak Prabowo sudah selesai mungkin berbeda pendapat dengan kader Partai Gerindra. Kami juga menghargai apabila kemudian Pak Slamet Ma’arif berpikir untuk membuat partai sendiri,” Dasco saat dihubungi terpisah.

Dasco juga menanggapi usulan Slamet Ma’arif untuk mencalonkan kader muda di Gerindra tidak sesuai dengan apa yang diputuskan partai. Dasco menegaskan pencalonan dari Gerindra mengikuti mekanisme yang setelah ditetapkan. (*)