Hidup Dengan Kebiasaan Baru dan Kekacauan Ekonomi Berkepanjangan

Oleh : Dr. Zainuddin, SE.,M.Si

ACEHSATU.COM – Akhirnya kita (manusia) sebagai bagian dari ciptaan Allah SWT harus angkat tangan (nyerah) untuk sementara kepada ciptaan Allah SWT yang lebih kecil (Virus Covid-19). Dimana, manusia harus memformulasikan kebiasaan baru sebagai cara beraktivitas untuk menghindari paparan dari covid-19.

Semua sendi pergaulan bermasyarakat harus ditata kembali, begitu juga halnya dalam aktivitas ekonomi dan dunia pendidikan harus semua ditinjau ulang pola yang adjustment dengan penanggulangan wabah.

Jika kebiasaan lama dalam pergaulan pada saat ada pertemuan diawali dengan bersalaman dan sun pipi bahkan ada sebagaian saling berpelukan sebagai sesuatu yang baik dan bernilai sebelumnya, akan tetapi setelah covid-19 ada maka itu semua harus direposisi kembali.

Bisa jadi protokol kesehatan tidak mengizinkan individu untuk bersalaman, tidak dibolehkan cipika-cipiki dan bahkan sangat dilarang untuk berpelukan dengan sahabat pada saat bertemu serta yang paling radikal seorang anak dewasa tidak diizinkan cipika-cipiki dan berpelukan dengan orang tuanya pada saat silaturahmi.

Kebiasaan tersebut harus diganti semua, semisal bagi muslimin cukup memberi salam (Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh)  saja tidak boleh yang lain itu pun harus dengan jarak paling minimal dua meter, dan  model salam saja tidak akan mengurangi makna dari silaturahmi itu sendiri, dan bila ini dilakukan sebenarnya cukup bagus karena ada tiga puluh kebaikan (pahala) disisi Allah SWT, asal jangan dengan kata-kata yang lain.

Kemudian, ditinjau didunia usaha yang harus diformulasikan kembali tentang kerumunan atau kepadatan manusia pekerja dan para pelanggan. Untuk pekerja perkantoran harus diatur sedemikian rupa jarak normal (normal baru) dan mungkin saja hanya akan sangat bergantung pada teknologi informasi (berkerja di rumah saja) bagi yang berkemampuan dari sisi fasilitas.

Tipe pekerja seperti dimaksud (dirumah saja) akan banyak menghabiskan waktu dirumah namun tersambung dengan kantornya.

Jika benar adanya pekerja bekerja dari rumah tanpa kehadiran ke kantor, maka akan muncul pranata sosial yang baru yaitu tidak ada lagi pergaulan sosial seperti biasa (ketawa, saling sapa secara langsung dan bahkan makan/minum bersama) karena masing-masing semua standby di rumah saja, paling hanya menyapa patner lewat aplikasi teknologi.

Bila usaha yang mengumpulkan banyak pelanggan diwaktu yang sama, seperti café (warung kopi di Aceh) maka mau tidak mau harus mereposisi kembali jarak meja yang sesuai dan tidak dibolehkan duduk berdekatan seperti sebelumnya, dan ini sepertinya terasa agak berat diwal-awal karena menyangkut omset akan berdampak menurun barangkali.

Begitu juga dengan pasar-pasar tradisional harus diatur kembali alur masuk keluar manusia tidak boleh berdekatan, dan pasar modern pun harus diperketat pengunjung jangan berdesak desakan (ada sinyal sepertinya diperbolehkan ½ dari kapasitas normal yang diperbolehkan).

Dibidang transportasi juga diatur kembali jarak normal yang normal sesuai protokol kesehatan antara kursi tempat duduk yang satu dengan yang lainya, dan penemudi motor tidak dibenarkan mengangkut penumpang (alias satu motor hanya untuk sendiri saja), dan tak ketinggalan dunia perhotelan juga harus mengatur kembali bagaimana yang pas dengan penanggulan covid-19.

Termasuk tidak boleh ada even-even yang menimbulkan kepadatan manusia, dan begitu juga bisnis parawisata lainya (seperti pantai, mesium dan lainaya) akan sangat berdampak pula karena harus juga menjaga jarak yang telah ditentukan bagi personal penimat wisata (pokoknya tidak bebaslah).

Sehingga, bisa dibayangkan agak sedikit dituntut kesabaran dalam menajalani kegiatan usaha pada tataran normal baru agar tercegah paparan covid-19 (padahal belum tentu tidak terpapar). Secara garis besar akan terjadi pelambatan yang signifikan aktivitas ekonomi masyarakat yang sangat bergantung pada keramaian pelanggan dan pekerja (manusia) yang harus hadir secara fisik secara bersamaan.

Jika ini harus dilaksanakan (apalagi ada penegakan hukum secara massif), maka dapat dipastikan kelesuan ekonomi dalam masa waktu yang panjang akan kita jalani dan ini beresiko pada segala aspek kehidupan, yaitu akan muncul masalah yang komplik pula ditengah-tengah masyarakat karena lapangan pekerjaan disektor jasa dan manufaktur akan terjadi pelambatan, sehingga pengangguran tak bisa dihindari.

Perusahaan jasa dan perusahaan manufaktur yang sarat dengan tenaga manusia tentu akan melakukan efesiensi besar-besaran tak lain dan tak bukan ujung-ujungnya akan melakukan PHK karyawannya, dan juga perusahaan tidak mampu menghasilkan laba seperti sebelumnya dan pasti akan mempengaruhi setoran pajak akan sangat berkurang, dan akan berdampak pada fiskal Negara.

Disatu sisi Negara memerlukan fiskal yang besar dalam rangka membiayai penanggulangan wabah, namun disisi yang lain penerimaan Negara dari pajak amat menyusut, maka dengan sendirinya pemerintah juga bakal melakukan efesiensi disegala bidang. Padahal hampir setiap daerah otonom sangat tergantung pada transfer fiskal dari pusat.

Apabila transfer nya menurun dan bahkan bisa mencapai penurunan lima puluh persen (kecuali menambah utang baru untuk menutupi defisit), maka daerah yang geliat ekonomi sangat ditentukan oleh tender proyek pemerintah dapat dipastikan ekonominya bakal mati suri.

Selanjutnya, didunia pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi harus dicari formula yang sesuai dengan protokol kesehatan.

Dimana, kalau sebelumnya ruang kelas (luas ruang kelas 8 m x 8 m) diisi dua puluh lima siswa/mahasiswa, maka sekarang hanya bisa diisi 16 siswa atau mahasiswa (makananya jaga jarak) itu jika diizinkan untuk tatap muka.

Apabila tidak diizinkan untuk tatap muka, maka matu tidak mau harus dilakukan dengan belajar daring (dengan cara online), dan ini belajar daring merupakan aka ada sebagian besar siswa (dasar hingga menengah atas) yang kewalahan dalam mengikuti proses belajar karena tidak semua orang tua siswa bisa memenuhi fasilitas untuk bisa anaknya belajar daring, apalagi yang berada di desa-desa.

Tak jauh beda dengan siswa, begitu juga halnya pada mahasiswa apalagi yang berasal dari keluarga kurang mampu alias miskin maka dapat dipastikan akan sangat tidak optimal untuk mengikuti model kuliah online. Sehingga, didunia pendidikan pun akan terjadi proses tidak optimal gara-gara covid-19, dan akhirnya kedalaman pengetahuan manusia Indonesia dapat dikatakan rapuh sekali alias dangkal.

Jadi kebiasaan baru bisa jadi akan menyumbangkan generasi yang kurang bisa berfikir kritis alias dungu (semoga tidak seperti itu harapannya).

Dengan demikian, new normal (apabila seperti uraian diatas) akan menciptakan kemunduran dari sisi bisnis yang banyak mengumpulkan manusia, namun ada bisnis barangkali bisa bertahan yaitu sektor pertanian rakyat.

Maka bila pemangku kepentingan cerdas melihatnya bisa sedikit berikhtiar lebih dalam memotivasi para petani dengan cara member insentif yang lebih (bisa jadi semacam bantuan modal kerja).

Begitu juga dunia pendidikan akan sangat terpukul bagi sebagian besar karena keterbatasan fasilitas dan motivasi dari masyarakat pelajar (siswa) itu sendiri dan orang tua sipelajar. Dan akhirnya kita semua berharap lekas ditemukan vaksin untuk covid-19 agar kita tetap bisa hidup normal seperti dulu lagi. Amiin. (*)

Penulis: Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik, Dosen Universitas Serambi Mekah (USM) Aceh.