Hasil Penelitian, Proyek Eksplorasi Migas Medco E&P Malaka Aceh Timur Didukung Masyarakat

PT MedcoE&P Malaka (Medco Block A) selanjutnya disebut sebagai Medco, telah memutuskan untuk mengembangkan ladang gas mereka yang terdiri dari pembangunan Central Processing Plant (CPP) Alur Siwah yang disebut-sebut bisa dieskplorasi sampai 20 tahu
medco aceh timur
PT Medco E&P Malaka (Medco Block A) selanjutnya disebut sebagai Medco, telah memutuskan untuk mengembangkan ladang gas mereka yang terdiri dari pembangunan Central Processing Plant (CPP) Alur Siwah yang disebut-sebut bisa dieskplorasi sampai 20 tahun,

ACEHSATU.COM | ACEH TIMUR –  PT Medco E&P Malaka (Medco Block A) selanjutnya disebut sebagai Medco, telah memutuskan untuk mengembangkan ladang gas mereka yang terdiri dari pembangunan Central Processing Plant (CPP) Alur Siwah yang disebut-sebut bisa dieskplorasi sampai 20 tahun, operasi dan dekomisioning (peninggalan dan restorasi lahan) dan kegiatan terkait seperti pembebasan lahan untuk tapak proyek, jalan akses, jalur pipa, pengembangan lapangan gas eksisting (Alur Rambong – AR, dan Alur Siwah – AS) di Kabupaten Aceh Timur, serta pengangkutan kondensat dan sulfur ke Cluster IV, Arun di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.

Proyek tersebut merupakan blok eksplorasi yang terletak kurang lebih 45 km sebelah timur

lapangan gas Arun raksasa yang dioperasikan oleh Exxon Mobil. Area konsesi Medco E&P

Malaka meliputi area seluas 3.910 km2 dari sebagian areal yang dieksplorasi di bagian tengah

Cekungan Sumatera Utara yang produktif.

Saat ini wilayah kerjanya telah dibebaskan menjadi1.680,5 km2 GSPA dengan PERTAMINA untuk Blok A akan digunakan untuk memasok kebutuhan gas di provinsi Aceh dan Sumatera Utara, terutama untuk pupuk dan industri local dengan perbedaan mencolok bahwa sumber daya ekstraktif akan dibagi 70% untuk pemerintah Aceh dan 30% untuk pemerintah nasional. Masa kontrak proyek ini berakhir pada tahun 2031(.

Pada bulan Agustus 2011, dimulai proses pembebasan lahan untuk tapak Proyek, khususnya untuk CPP AS dan jaringan pipa gas. Proses pengadaan tanah secara keseluruhan telah dilakukan oleh Tim Pengadaan Tanah yang disebut Panitia 9 atau Tim 9 sesuai dengan Keputusan Bupati Aceh Timur No. 590/418/2011.

Tim dibentuk berdasarkan SK Bupati Aceh Timur No. 541/237/2011 dan terdiri dari aparat instansi terkait di tingkat kabupaten termasuk Badan Pertanahan Nasional (BPN), Badan Pertambangan dan Energi, dan aparat pemerintah di tingkat kecamatan seperti camat (disebut camat) dan di tingkat desa seperti kepala desa.

 Perwakilan proyek juga merupakan bagian dari tim ini. Tepat pada Bulan September 2011, masa efektif kontrak Medco dimulai (BPMA, 2020).

Untuk memastikan proses pembebasan lahan berjalan adil dan transparan sesuai ketentuan yang berlaku, Bupati Aceh Timur menetapkan SK No. 590/228/2011 dan menunjuk Tim Penilai Independen yang terdiri dari peneliti perguruan tinggi setempat.

 (ketua dan anggota), wartawan (wakil ketua dan anggota), pejabat badan pertanahan (sekretaris), LSM, praktisi hukum, dinas pekerjaan umum dan tokoh masyarakat di kecamatan terdampak sebagai anggota.

Penilaian ganti rugi tanaman dan tanaman telah dilakukan sesuai dengan daftar harga tanaman dan tanaman formal sesuai dengan Keputusan Bupati Aceh Timur Nomor 492.2 / 457/2011

Proyek Medco Block-A di Kabupaten Aceh Timur terletak di tengah-tengah bekas daerah basis GAM di Propinsi Aceh. Kabupaten ini secara sosial politik tercirikan dengan dinamika paska konflik yang tertanam kuat dalam psikologi, struktur dan relasi sosial di dalam masyarakat.

Suasana kebatinan paska konflik dan terlalu lamanya masyarakat berada dalam situasi konflik dan kekerasan dalam banyak hal telah mempengaruhi hubungan kuasa dalam manajemen proyek. Oleh karenanya, menjadi sangat penting untuk bisa memahami hubungan segitiga diantara masyarakat, perusahaan, dan Negara dalam konteks Medco.

Isu-isu keamanan sedemikian rumit untuk dijabarkan, karena ia terkait dengan banyak hal, mulai dari pekerjaan, mobilitas masyarakat, tanah, sampai bahkan identitas etnik. Ikelegbe (2010) mengatakan bahwa kesemuanya berpotensi untuk memunculkan perselisihan di kawasan projek dan mempengaruhi situasi keamanan secara umum, khususnya dimana perselisihan mengenai sumber daya alam dan transisi dari masa konflik ke masa paska konflik menjadi membuat tantangan terkini dalam menjaga perdamaian.

Tulisan ini akan mendeteksi potensi konflik sosial diantara perusahaan, kontraktor dan masyarakat sekitar yang merupakan hasil dari perbedaan persepsional atas terma atau istilah “pekerja lokal” dan “obvitnas”, ketidakmampuan perusahaan dan kontraktor mengelola dengan baik “grievance mechanism” atau mekanisme penyaluran aspirasi kekecewaan dalam konteks aktivitas ekstraksi dan ekplorasi migas di Kabupaten Aceh Timur

Bedasarkan penelitian yang pernah diteliti oleh SaifuL Akmal Dosen UIN Ar Raniry Banda Aceh  dengan  judul Dinamika Politik Lokal dan Keamanan pada Proyek Eksplorasi Migas Medco Aceh Timur.

Hasil Penelitian, Secara umum, sebagian besar masyarakat Aceh Timur dan pemangku kepentingan sangat mendukung proyek Medco. Sikap dan posisi positif mereka sangatlah penting untuk keberlanjutan proyek Medco kedepannya. Baik pemerintah maupun masyarakatnya yakin dan merasa bahwa proyek Medco telah dan akan menjadi tonggak penting bagi Aceh Timur untuk meningkatkan peluang ekonomi dan pembangunan mereka secara keseluruhan Ini adalah pernyataan yang kuat dari masyarakat dan pemerintah bahwa mereka akan menyambut baik keberadaan proyek tersebut.

Penelitian diteliti oleh SaifuL Akmal Dosen UIN Ar Raniry Banda Aceh  dengan  judul Dinamika Politik Lokal dan Keamanan pada Proyek Eksplorasi Migas Medco Aceh Timur ini  ditayangkan  pada https://repository.ar-raniry.ac.id   dengan judul judul Dinamika Politik Lokal dan Keamanan pada Proyek Eksplorasi Migas Medco Aceh Timur.