Hari Ini, 148 Tahun Maklumat Perang Belanda terhadap Aceh yang Tak Pernah Dicabut

Maklumat Perang itu dibacakan dari geladak Kapal Perang Citadel vab Antwerpen saat hendak berlabuh di Pante Ceureumen, Ulee Lheue.
Maklumat Perang Belanda terhadap Aceh
Aksi unjuk rasa memperingati maklumat perang Belanda terhadap Aceh di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Foto Net

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Hari ini, 26 Maret 2021 genap sudah 148 tahun lalu Kolonial Belanda mengeluarkan maklumat perang dengan Kerajaan Aceh.

Pernyataan perang itu diumumkan oleh Komisaris Pemerintah merangkap Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda, FN Nieuwenhuijzen.

Maklumat Perang itu dibacakan dari geladak Kapal Perang Citadel vab Antwerpen  saat hendak berlabuh di Pante Ceureumen, Ulee Lheue.

Peristiwa itu terjadi pada Rabu, 26 Maret 1873 bertepatan dengan 26 Muharam 1290 Hijriah.

Kapal Perang Citadel vab Antwerpen  itu kemudian berlabuh pada hari Senin, 6 April 1973, di bawah pimpinan Mayor Jenderal JHR Kohler.

Saat itu, Belanda mengerahkan enam kapal perang, yakni Djambi, Citaden van Antwerpen, Marnix, Coehoorm, Soerabaya, dan kapal perang Sumatera.

Ditambah lagi dengan Kapal Siak dan Bronbeek, yang merupakan dua kapal angkatan laut Pemerintah Belanda.

Ketika mendarat, pasukan Belanda langsung digempur oleh pasukan Aceh yang dipimpin Tuanku Hasyim Banta Muda.

Perang sengit pun terjadi. Setelah bertempur dengan susah payah, pada 10 April 1873, Belanda dapat merebut Mesjid Raya.

Maklumat Perang Belanda terhadap Aceh
Aksi unjuk rasa memperingati maklumat perang Belanda terhadap Aceh di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Foto Net

Namun karena kuatnya perlawanan dari pejuang Aceh yang dipimpin Tuanku Hasyim Banta Muda bersama Tgk Imuem Lueng Bata, Belanda pun gagal pada ekspedisi perang pertama ini.

Mayor Jenderal JHR Kohler pun tewas setelah tumbang akibat terkena tembakan pasukan Aceh pada April 1873.

Jasad Kohler kemudian dibawa ke beberapa tempat dan terakhir dikebumikan di pemakaman militer Belanda atau Kerkhof Petjut di kawasan Desa Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh.

Kematian Kohler membuat Belanda marah bukan kepalang. 10 hari pasca kematian Kohler, perang berkecamuk di mana-mana. Yang paling besar saat pasukan Aceh merebut kembali Masjid Raya Baiturrahman.

Perbutan ini dibantu oleh beberapa kelompok pasukan. Mereka datang di Peukan Aceh, Lambhuk, Lampu’uk, Peukan Bada, sampai Lambada, Krueng Raya. Beberapa ribu orang juga berdatangan dari Teunom, Peusangan, Pidie, dan beberapa wilayah lain.

Saat Kohler mati, Belanda bangkit kembali dengan pasukannya yang dipimpin oleh Jenderal Jan van Swieten. Perang ini dinamakan perang Aceh kedua dengan masa tahun 1874-1880.

Saat itu, Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan, 26 Januari 1874, dan dijadikan sebagai pusat pertahanannya. Pada 31 Januari 1874 Jenderal Van Swieten mengumumkan bahwa seluruh Aceh jadi bagian dari Kerajaan Belanda.

Saat Sultan Machmud Syah wafat 26 Januari 1874, digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawood yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indrapuri.

Perang pertama dan kedua ini adalah perang total dan frontal, di mana pemerintah masih berjalan mapan, meskipun ibu kota negara berpindah-pindah ke Keumala Dalam, Indrapuri, dan tempat-tempat lain.

Selanjutnya, perang Aceh dan Belanda memasuki babak ketiga. Perang ini dimulai pada 1881 sampai 1896. Perang ini dilakukan secara gerilya dan dikobarkan fi sabilillah.

Saat itu, sistem perang gerilya berlangsung sampai tahun 1903.

Dalam perang gerilya ini pasukan Aceh di bawah Teuku Umar bersama Panglima Polim. Pada tahun 1899 ketika terjadi serangan mendadak dari pihak Van der Dussen di Meulaboh, Teuku Umar gugur. Kemudian, istri Teuku Umar Cut Nyak Dhien mengambil alih pasukan.

Dikutip dari berbagai sumber, perang Aceh dengan Belanda disebut-sebut berlangsung sampai 1904. Ini terjadi saat Kesultanan Aceh menyerah pada Januari 1904. Saat mereka menyerah, bukan berarti perang telah reda.

Perang Aceh-Belanda ini berlangsung lebih dari 30 tahun yang sangat melelahkan kedua belah pihak. Belanda sendiri telah mengerahkan seluruh kemampuan militernya dan menggunakan kembali veteran perang Prancis ke dalam perang Aceh.

Pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Dr Hasan Tiro pernah mengatakan, sejak Belanda mengumumkan maklumat perang terhadap Aceh, maka Belanda harus bertanggung jawab atas status Aceh yang sampai hari ini maklumat perang tersebut  tidak pernah dicabut. (*)