Harga Racun dan Pupuk Meningkat, Petani Aceh Jaya Mengeluh

Dampak meningkatnya harga racun pembasmi rumput dan pupuk non subsidi menjcapai 100 persen membuat petani kesulitan karena pengeluaran biaya produksi pertanian mereka juga meningkat drastis.
pupuk
Ilustrasi : Petani menyemprotokan harbisida untuk pengendalian hama. acehsatu.com/republika

ACEHSATU.COM [ ACEH JAYA – Dampak meningkatnya harga racun pembasmi rumput dan pupuk non subsidi menjcapai 100 persen membuat petani kesulitan karena pengeluaran biaya produksi pertanian mereka juga meningkat drastis.

Harga racun rumput awalnya harga Rp 50.000 kini menjadi Rp 110.00 sampai Rp 120.000 dipasaran sedangkan pupuk non subsidi jenis KCl dari harga Rp 275.000/zak kini capai Rp 680.000 per zak.

“Kami sebagai petani sangat kesulitan dengan kondisi seperti ini, apalagi harga racun rumput yang naik drastis tidak seperti biasanya sehingga membuat biaya produksi meningkat,” ujar salah satu Petani di Kecamatan Krueng Sabee, Bustami kepada wartawan dua hari lalu

Menurutnya, kesulitan yang di alami petani seakan tidak ada habisnya termasuk naiknya harga barang herbisida yang menjadi salah satu bahan yang sangat penting bagi petani dalm menjalankan lahan pertanian.

pupuk
Ilustrasi : Toko Penjual kebutuhan pertanian.acehsatu.com/ist

Bustami berharap pemerintah mencari solusi terhadap kondisi petani saat ini sehingga mereka tidak terhempit beban ekonomi terlebih ditengah pandemi covid-19

Sementara seorang pedagang herbisida Kecamatan Krueng Sabee, Eba mengakui harga racun herbisida saat ini naik harganya secara drastis mencapai 100 persen. Namun harga yang racun bukan hanya satu  hamopir semua jensi racun naik harganya. Begitu juga obat jenis audit dari harga biasa Rp 55.000 menjadi Rp150.000, jenis pemadan juga naik dari Rp60.000 menjadi Rp 100.000

Selain herbisida harga pupuk  non subsidi tambah pedagang kebutuhan pertanian ini juga meningkat drastis seperti pupuk KCL dari harga Rp275.000  per zak kini naik menjadi Rp680.000 termasuk juga harga pupuk Mutiara(*).