Lingkungan Hidup

Halimatussa’diah: Saya Sempat Liat-liatan Sama Harimau

“Mau lari ke mana gajah-gajah itu kalau bukan ke kebun dan pemukiman warga. Itu baru gajah, belum lagi harimau! Bayangin jika ketemu harimau seperti saya. Hiiiii…

Foto | Istimewa

ACEHSATU.COM | MEULABOH – Melalui jajak pendapat digital yang diajukannya, Halimatussa’diah telah berhasil memperoleh sejumlah 82.028 orang pengaju protes atas rencana pembangunan PLTA Tampur di Kawasan Ekosistem Lauser.

Melalui rilis ke media, Halimatussa’diah menyatakan penolakan sekaligus mengilustrasikan keadaan genting saat dirinya berpapasan dengan hewan liar dilindungi, harimau sumater, “Saya sempat liat-liatan sama harimau,” katanya.

Target vote/jajak pendapat yang digagas perempuan aktivis lingkungan tersebut adalah sekitar 150.000 orang.

“Pernah lihat harimau langsung? Di hutan Aceh Barat, saya ketemu harimau. Sekitar jam 10 pagi. Jaraknya cuman 5 meter! Sendirian, tanpa penghalang apapun. Walau sempat liat-liatan  nggak pakai mikir, saya langsung lari.

Hampir copot jantung waktu itu. Untung aja harimaunya nggak ngejar,” tulisnya dalam rilis berafiliasi situs web change.org.

Lain waktu, bareng dengan tim Conservation Response Unit (CRU), dirinya mengaku ikut membantu memindahkan gajah ke Aceh Barat.

Saat itu banyak laporan dari masyarakat soal gangguan gajah liar. Menggunakan gajah-gajah latih milik CRU, gajah liar bisa dihalau tanpa kekerasan.

Sebenarnya bukan salah gajah-gajah liar itu masuk ke kebun dan pemukiman warga. Dulunya, kebun dan pemukiman itu adalah jalur jelajah mereka. Gajah hewan cerdas, mereka tak pernah lupa, jadi pasti kembali ke sana, ungkapnya melanjutkan.

Masalah menghalau gajah liar bukan urusan mudah. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh saja sampai geleng-geleng akibat kesulitan mengurus soal gangguan satwa liar.

“Makanya saya kaget sekali dengar ada rencana pembangunan PLTA Tampur di Kawasan Ekosistem Leuser yang akan tenggelamkan 4000 hektar habitat gajah,” ungkapnya.

“Mau lari ke mana gajah-gajah itu kalau bukan ke kebun dan pemukiman warga. Itu baru gajah, belum lagi harimau! Bayangin jika ketemu harimau seperti saya. Hiiiii…,” paparnya melanjutkan.

Bertepatan dengan peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional ini Halimatussa’dia bermaksud mengajak siapapun untuk suarakan penolakan pembangunan PLTA Tampur di Aceh.

Selain akan ganggu kehidupan satwa, kehidupan manusia juga terancam karena PLTA itu dibangun di daerah rawan gempa.

“Tandatangani dan sebarkan petisi ini agar Gubernur Aceh dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan mau cabut izin pembangunan PLTA Tampur,” anjurnya menutup keterangan.

Petisi dapat ditandatangani dengan mengikuti surel: https://www.change.org/p/gubernur-aceh-batalkan-mega-proyek-pltatampur-yang-mengancam-jutaan-jiwa? .(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top