Gudang Garam Pidie Jaya Jadi “Rumah Hantu”

Fasilitas yang dibangun TA 2028 bersumber dana APBN senilai kurang lebih Rp 2,5 miliar sejak rampung hingga sekarang belum pernah difungsikan sama sekali.
Gudang garam di Gampong Lancang Paru, Kecamatan Bandarbaru, Pidie Jaya, mubazir dan kini jadi “rumah hantu”. Foto Abdullah Gani

ACEHSATU.COM | PIDIE JAYA Sudah menjadi kebiasaan, sebelum ada minta dibangun. Tapi setelah ada malah dibiarkan telantar.

Mulai dari fasilitas seperti kantor kechik, kantor mukim hingga lainnya termasuk pula pasar rakyat.

Seperti halnya di Pidie Jaya, seperti Gudang Garam di Lancang Paru misalnya.

Fasilitas yang dibangun tahun 2018 lalu menyerap dana milyaran rupiah, kini jadi mubazir.

Kehadiran gudang garam di Gampong Lancang Paru Kecamatan Bandarbaru, Pidie Jaya, hanya mubazir dan kini jadi “rumah hantu”.

Fasilitas yang dibangun TA 2028 bersumber dana APBN senilai kurang lebih Rp 2,5 miliar sejak rampung hingga sekarang belum pernah difungsikan sama sekali.

Pat tacok sira tapasoue keunan, adak anou pasi pun kadang han punoh (Dimana kita dapat garam untuk diisi ke gudang itu, pasir di pantai pun mungkin tidak juga penuh—-red) celetoh seorang warga setempat.

Beberapa warga Lancang menjawab Acehsatu.com secara terpisah dalam sepekan terakhir termasuk salah seorang petani garam juga menyayangkan bangunan yang menyerap anggaran lumayan besar tapi hanya mubazir.

Di satu sisi, sebut sumber tadi,  mana ada stok garam hingga puluhan ton untuk disimpan.

Sementara selama ini, produksi  yang dihasilkan pengrajin langsung habis terjual. Kalau pun ada hanya sedikit dan tak mungkin dibeli lalu disimpan di gudang yang lumayan besar.

Keuchik Lancang Paru, M Jakfar Usman yang dikonfirmasi, Selasa (27/10/2020) juga membenarkan, gudang untuk penyimpanan garam yang rampung dibangun pemerintah sekitar dua tahun lalu, hingga I sekarang belum pernah dimanfaatkan.

Hal itu terkait dengan ketersediaan atau stok garam itu sendiri yang tidak ada. Kalau pun sewaktu-waktu produksinya melimpah tapi tidak ada yang menampung.

Untuk memanfaatkan fasilitas tersebut, sekaligus agar tidak mubazir, lanjut Jakfar, pihaknya bersama masyarakat setempat sudah menyepakati untuk menjadikan gedung dimaksud untuk badan usaha milik desa (Bumdes). 

Cara yang ditempuh adalah dengan memplot dana gampong tahun 2021 untuk membeli garam rakyat ketika hasilnya melimpah. Selama ini saat hasil melimpah harga garam anjlok karena tak ada yang menampungnya.

Di sini ada sekitar 130 orang pengrajin garam, kata Jakfar.

Kadis Kelautan dan Perikanan (DKP) Pidie Jaya, Burhanuddin SP yang ditanya menyangkut dengah hal dimaksud juga membenarkan gudang garam di Lancang Paru belum difungsikan.

Disebutkan bahwa, fasilitas tersebut dibangun semasa kadis DKP lama dan ia mengaku tak tahu secara detail.

Tapi yang jelas, lanjut Burhan, gedung itu akan diupayakan penggunaannya tahun 2021 mendatang. “Insya Allah tahun 2021 gedung itu akan kita usahakan pemanfaatannya,” sebut Burhanuddin dengan nada yakin. (*)