Generasi Milenial dan Teungku Hasbi Ash-Shiddieqy di Tengah Para Pembaharu

Kajian tentang para tokoh pembaharu memang selalu menjadi hal yang sangat menarik untuk dikaji dan didiskusikan, banyak tokoh yang muncul dalam peredaran itu diantaranya adalah Muhammad Abduh, jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha.

Generasi Milenial dan Teungku Hasbi Ash-Shiddieqy di tengah Para Pembaharu 

ACEHSATU.COM | OPINI – Kajian tentang para tokoh pembaharu memang selalu menjadi hal yang sangat menarik untuk dikaji dan didiskusikan, banyak tokoh yang muncul dalam peredaran itu diantaranya adalah Muhammad Abduh, jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha.

Yang pemirannya sudah diakui oleh dunia internasional dan turut mempengaruhi pemikiran-pemikran tokoh pembaharu dari Nusantara seperti K.H Ahmad Dahlan, Buya Hamka, Muhammad Natsir, dan Teungku Hasbi Ash-Shiddiqy. 

Mereka sepakat dalam hal purifikasi dan modernisasi dalam konteks keagamaan dengan mendorong untuk menghilangkan praktek atau ritual yang berbau takhayul, bid’ah, khurafat, dan syirik di kalangan masyarakat awam.

Di samping itu mereka juga bersepakat dalam prinsip PanIslamisme yaitu prinsip persatuan negara-negara islam yang dibangun atas semangat keagamaan yang erat serta menentang penjajahan yang dilakukan oleh dunia barat atas dunia islam walaupun ditafsirkan oleh mereka melalui pandangan yang dianggap relevan dengan keadaan zaman.  

Tiga nama yang disebutkan pertama itu hidup dalam kondisi negara-negara islam yang berada di bawah kungkungan penjajahan Kolonial barat.

Sedangkan nama nama sesudahnya hidup di masa Indonesia berada pada babak menjelang atau sudah mencapai kemerdekaan.

Mereka hadir dengan gagasan-gagasan yang dianggap mampu untuk menjawab tantangan zaman, baik itu dalam konteks sosial-budaya maupun konteks keagamaan. 

Diantara dari sekian banyak tokoh pembaharu dan intelektual islam, hadirlah seorang ulama sekaligus akademisi asal Aceh, beliau adalah Prof. Dr. Teungku Hasbi Ash-Shiddieqy yang terkenal dengan gagasan dan karyanya populer.

Salah satu karyanya ialah Tafsir Al-Qur’an an-Nur sebanyak 10 jilid. Selain itu beliau juga terkenal dengan pandangannya mengenai Hukum islam yaitu umat islam harus meninjau kembali prospek dan arah hukum islam yang ada di Indonesia.

Yang menurutnya tidak begitu punya arah, sehingga diperlukan tinjauan kembali atas aspek pengkultusan atau taqdis dalam hal hukum islam yang ada di Indonesia.

Menurut Beliau sudah saatnya kita mencari alternatif lain dan menempatkan sendi-sendi ijtihad yang baru untuk diterapkan di Indonesia. 

 Hasbi Ash-Shiddiqy merupakan salah satu tokoh intelektual islam Indonesia yang hidup sekitar abad-20 dan Abad-21.

Yang dilahirkan di kota Lhokseumawe, Aceh. bertepatan dengan tanggal 10 Maret 1904 Masehi.

Putra dari seorang ulama terkenal pada masa itu, yang memiliki sebuah Dayah  dan menjabat sebagai Qadhi Chik (hakim), beliau  bernama Teungku Muhammad Husayn bin Myhammad Su’ud.

Sementara Ibunya bernama Teungku Amrah binti Teungku Abd Aziz yang juga pemangku jabatan Qadi chik Maharaja Mangkubumi kesultanan Aceh Darussalam pada saat itu.

Beliau (Teungku Hasbi) juga merupakan keponakan dari Teungku Abd jalil atau yang biasa dikenal dengan panggilan Teungku Chik di Awee geutah, seorang ulama keuramat dan Pahlawan penentang Kolonial berasal dari Aceh. 

Tercatat dalam serial buku fikih Indonesia Penggagas dan Gagasannya karya Nourouzzaman, Tengku Hasbi Dilahirkan dari kalangan keluarga yang terpandang dan lahir di negeri yang sedang mengalami peperangan antara Kolonial Belanda dan para pejuang Aceh yang ingin mempertahankan kedaulatan Negerinya.

Hal itu bersamaan juga dengan kondisi masyarakat di pulau Jawa yang sedang berpolemik dengan gagasan- gagasan Intelektual yang meniupkan semangat ke-Indonesian dan anti-kolonial.  

Tengku Hasbi Dilahirkan dari kalangan keluarga yang terpandang, namun pada saat beliau menginjaki umur 6 tahun, Ibunya, teungku Amrah meninggal dunia.

Yang kemudian tengku Hasbi muda diasuh oleh Bibinya bernama Teungku Shamsiah.

Tetapi di kemudian hari, Tengku Shamsiah juga meninggal dunia sehingga Tengku Hasbi muda harus memilih untuk tinggal bersama kakaknya, Teungku Maneh.

Bahkan beliau sering juga tidur di Meunasah- Meunasah layaknya pemuda Aceh yang lain hingga kemudian beliau pergi Meudagang (nyantri) dari Dayah ke Dayah yang ada di Aceh. 
 
Sikap kritis dan membebaskan diri dari Tradisi sudah terlihat dalam dirinya sejak Teungku Hasbi masih muda, saat itu beliau melanggar Tradisi dari keluarganya yang tidak memperbolehkannya untuk bergaul bebas dengan kawan sebayanya, Namun ia justru melanggar hal itu dengan cara tidur di meunasah bersama kawan kawan sebayanya.

Sikap kritis dan suka protes yang lain juga diperlihatnya disaat beliau meudagang (nyantri) didayah, saat itu dengan mudahnya beliau mengencingi secara terbuka dimana tempat santri dan orang ramai mengambil Wudhu di kolam yang sudah kotor, dengan tujuan agar kolam tersebut bisa dibersihkan sehingga layak untuk digunakan bagi orang ramai.

Sikap inilah yang ia tunjukkan dengan tujuan menolak bertaklid bahkan berbeda pandangan dengan orang-orang disekitarnya. 
 
Karir intelektual seorang Teungku hasbi dumalai pada saat ia menempuh pendidikan agama islam di dayah (pesantren) milik ayahnya.

Disana ia mulai belajar tentang ilmu dasar agama islam seperti Fiqh,tauhid, tasawuf, tajwid, tafsir dan lain-lain.

Kemudian ia pindah ke pesantren di Piyeung milik Teungku Abdullah, disini beliau memfokuskan kajiannya tentang nahw dan sarf.

Setahun kemudian pindah ke Dayah Teungku Chik di Bluk Bayu, setahun kemudian ia kembali pindah ke dayah Teungku chik blang Kabu, setahun kemudian pindah ke dayah Blang manyak, di samakurok, dan terakhir beliau tinggal di dayah Tanjung Barat, Samalanga hingga tahun 1925. 

Setelah mendapatkan Ijazah dari gurunya di Tanjung Barat, pada tahun 1924, Teungku Hasbi mendirikan dayahnya sendiri di Buloh Beuregang atas bantuan hulubalang setempat.

Di samping itu Tengku Hasbi juga menjadi pengajar di kursus-kursus dan sekolah Muhammadiyah.

Ia juga memimpin SMI ( sekolah menengah islam) cabang Persis (Persatuan Islam), selain itu, Teungku Hasbi juga aktif berdakwah lewat payung Masyumi dimana ia diamanahkan menjadi ketua Masyumi cabang Aceh Utara.  
 
 
Saat itu, pada tanggal 20-25 desember 1949 diadakan kongres Muslimin Indonesia (KMI) di kota Yogyakarta, Teungku hasbi menjadi perwakilan dari Muhammadiyah, di sana ia memaparkan sebuah makalah berjudul pedoman perdjuangan islam mengenai soal kenegaraan. Dari sinilah seorang tokoh asal aceh yang berkecimpung di Nasional, Abu bakar Aceh meliriknya dan memperkenalkan beliau kepada menteri agama saat itu, Wahid Hasyim yang kemudian mengajak Teungku hasbi untuk menjadi dosen tetap di PTAIN yang hendak didirikan.  

Pada Januari tahun 1951, beliau berangkat ke Yogyakarta, dan disana beliau mengkonsentrasikan diri dalam bidang pendidikan.

Dan pada tahun 1960 beliau diangkat menjadi Dekan fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. hingga tahun 1972.

Namun  Pada tahun 1962 beliau juga diamanahkan sebagai dekan pertama Fakultas Syariah di IAIN ArRaniry, Darussalam, Banda Aceh.

Selain itu Tengku Hasbi juga pernah menjadi dekan fakultas Syariah Universitas Sultan Agung Semarang, serta dosen UII Yogyakarta, dan juga pernah diamanahkan sebagai Rektor Universitas Al-Irsyad  Surakarta periode 1963-1968. 

Dalam karir akademiknya, Teungku Hasbi Asd-Shiddiqy pernah memperoleh gelar-gelar akademik dibidang pengetahuan agama Islam.

Beliau memperoleh dua gelar doktor (honoris Causa), penghargaan itu beliau diterima dari Universitas Islam Bandung pada tanggal 22 maret 1975, sementara gelar doktor (honoris Causa) keduanya diperoleh dari IAIN sunan kalijaga Yogyakarta, pada tanggal 29 oktober 1975. Sebelumnya, beliau juga sudah diangkat sebagai Guru besar Bidang Ilmu Hadist oleh IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 1960.

Teungku Hasbi Ash-Shidiqy juga merupakan seorang ulama serta akademisi yang sangat produktif dalam hal menulis, dalam sebuah buku karya Aan Supian yang berjudul Kontribusi Pemikiran Hasbi Ash-Shiddiqy dijelaskan bahwa Teungku Hasbi Ash-Shidiqy setidaknya pernah menuliskan 73 buku dengan 142 jilid. Sebagian besar karyanya adalah di bidang Fikih sebanyak 36 karya, hadist dan ilmu hadits sebanyak 8 karya, tafsir 6 karya, Tauhid 5 karya. Sedangkan selebihnya lebih kurang 17 judul dengan tema keislaman yang bersifat Umum dan tidak kurang 50 artikel di bidang Fiqh, hadist, tafsir, ushul fiqh, dan pedoman ibadah.  

Diantara karya beliau yang cukup megah adalah Tafsir Al-Qur’an an-Nur yang ditulis sejak tahun 1952 dan selesai pada tahun 1970, yang cetakan keduanya disunting oleh kedua putranya yaitu Prof. Dr. H. Nouruzzaman dan H.Z. Fuad Hasbi Ash-Shiddiqy.

Tafsir ini terdiri dari 10 jilid. Beliau menulis tafisir ini termotivasi karena ingin mengembangkan hukum dan budaya islam, perguruan tinggi, kitabullah, sunnah rasul, dan kitab-kitab islam dalam bahasa Indonesia yang dikemas dengan kalimat dan bahasa yang sederhana dengan tujuan agar mampu menuntun para pembacanya yang  awam bisa memahaminya dengan baik. 
                                                             
 
Ulama serta Intelektual muslim, dan juga seorang pakar fiqh, hadist, tafsir Al-Qur’an, hingga pembaharu erat melekat disaat kita menyebut nama megahnya. Salah satu dari sekian banyak yang gagasan yang ditawarkan, ada satu gagasan yang sangat populer yakni dalam hal sosial masyarakat, dalam pandangan mantan anggota majlis konstituante ini.

beliau berpendapat yang bahwa kewenangan mengelola zakat terletak pada tangan Pemerintah, sehingga seluruh warga negara wajib membayar zakat hal itu berlaku bagi kaum muslim maupun non-muslim, dengan demikian pemerintah dengan mudah dapat mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat.

Argument ini berangkat dari poin Hukum zakat yang dalam pandangan beliau, zakat juga sebenarnya diberlakukan dalam semua agama. 
Hal itu semua beliau lakukan dengan tujuan untuk membuktikan yang bahwa ajaran agama islam tidak hanya sebatas dalam ruang lingkup ibadah saja, namun lebih dari itu, islam adalah agama yang Dinamis tidak statis dan tidak stagnan, kemudian beliau juga ingin memperkenalkan ajaran agama islam yang sesuai dengan karakter, budayanya yang khas. 

Kita sebagai bagian dari generasi milenial sudah seharusnya mampu mengambil Hikmah dari perjalanan hidup beliau. Besar harapan penulis agar kiranya generasi Milenial sekarang untuk berani menunjukkan sebuah gagasan yang kreatif dan dapat bermanfaat bagi seluruh lapisan ummat sehingga kekosongan ruang intelektual pemuda sekarang ini dapat diisi.

Seperti yang telah dilakukan oleh seorang Prof. Teungku Hasbi Ash-Shiddieqy.

Walaupun kita berbeda masa dan kondisi zaman dengan Beliau, namun hal itu jangan dijadikan sebagai alasan bagi kita pemangku zaman Milenial untuk kurang berkarya dan tidak mengekspresikan gagasan yang bermanfaat bagi kondisi zaman sekarang.  

Penulis: Masykur Akhyar
Mahasiswa Sejarah kebudayaan islam UIN Ar-Raniry