Garam Rakyat Jadi Barang Koleksi, Garam Impor Kuasai Pasar

Di Aceh Utara, sejumlah petani garam mengeluh karena puluhan ton garam yang mereka produksi tidak diserap pasar sebagaimana biasanya.
Hamdani.

ACEHSATU.COM – Ada slogan tentang garam yang jarang didengar oleh masyarakat namun sangat indah ketika diucapkan. “Garam Itu Manis”, begitu bunyi slogan tersebut. Bagus bukan?

Namun indahnya slogan tersebut tak seindah dengan apa yang dirasakan oleh pelaku usaha di bidang garam, tidak hanya saat ini tapi sudah sejak dulu. Garam rakyat tidak laku di pasar.

Dewasa ini banyak wacana pemerintah terkait dengan bisnis garam rakyat. Bahkan hingga wacana akan menghentikan impor demi menjaga kepentingan pelaku usaha garam nasional.

Jokowi sebagai presiden Indonesia pun secara tegas pernah mengucapkan untuk menolak dan sekaligus setop impor garam karena ia tahu Indonesia mampu memenuhi kebutuhan garam nasional dari produksi dalam negeri.

Akan tetapi wacana tetaplah hanya wacana, tidak beru menjadi rencana apalagi tindakan bijaksana.

Alhasil jika sebelumnya kita pernah melihat aksi petani tomat yang membuang hasil panen mereka ke dalam parit karena terpukul oleh harga tomat impor, kini giliran komoditas garam yang jadi korbannya.

Masalah garam kerap tidak pernah selesai. Padahal Indonesia negara maritim dan memiliki potensi besar sebagai produsen garam dunia.

Namun apa lacur, pemerintah ingin serba mudah dan instan.

Ntah karena impor garam sangat manis dimulut pejabat Kementerian Perindustrian dan Perdagangan. Yang pasti hari ini Menteri Kelautan dan Perikanan mengatakan anjloknya harga garam ditingkat petani karena pasar telah dihujani dengan garam impor.

Rasanya kita pun tidak perlu bicara soal prosedur dan mekanisme normal impor sesuai aturan pemerintah.

Kenapa?

Sebab itu hanya menjadi teori saja dan pembicaraan normatif di media massa.

Pada kenyataannya negara telah memukul petani garam sendiri dengan kebijakan “hobi” impor dan tidak menjalankan prosedur itu dengan taat.

Sebagai contoh, kebijakan impor garam yang tanpa disertai pengawasan ketat, menyebabkan garam lokal milik petambak menjadi tak laku karena harga garam impor lebih murah.

Saat ini, harga garam di tingkat petambak hanya di kisaran Rp 300 sampai Rp 400 per kilogram.

Padahal saat awal musim panen rata-rata harga garam di tingkat petani menyentuh Rp 1.200 per kilogram.

Data PT Garam (2018) kebutuhan garam nasional mencapai 4,2 juta ton per tahun. Kebutuhan tersebut meliputi garam konsumsi dan garam industri.

Kebutuhan garam nasional tersebut ternyata tidak dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri sehingga perlu diimpor.

Karena produksi nasional hanya sekitar 50-60% dari total kebutuhan.

Namun yang menjadi persoalan sekarang ini adalah kuota impor yang dilakukan oleh pemerintah disinyalir berlebih, ditambah lagi adanya kebocoran sampai merembes ke garam konsumsi.

Akibatnya terjadi kelebihan stok di pasar konsumen sehingga membuat harga garam anjlok.

Di Aceh Utara, sejumlah petani garam mengeluh karena puluhan ton garam yang mereka produksi tidak diserap pasar sebagaimana biasanya.

Puluhan ton garam tersebut terpaksa di stok.