Filosofi Air

0
13

Oleh Hamdani, SE, M.Si

ACEHSATU.COM – Air merupakan sumber kehidupan. Tidak ada mahkluk hidup di muka bumi ini yang bisa hidup tanpa air. Begitulah pentingnya air bagi kehidupan. Fungsi air bagi manusia justru melebihi fungsi air bagi makhluk lainnya semisal hewan atau tumbuhan.

Dalam kehidupan setiap makhluk hidup pasti memerlukan air. Bahkan dikatakan, manusia bisa bertahan tanpa makan selama maksimal 40 hari, asal tetap menjaga asupan cairan tubuhnya dengan cara minum.

Secara fisika air merupakan sarana transportasi di dalam tubuh untuk  mengirimkan zat-zat gizi ke semua sel. Air juga penting untk pencernaan, untuk menyerap, asimilasi, dan ekskresi.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ahli, komposisi air dalam tubuh manusia menurut usia yaitu bayi 80 persen, orang dewasa 70 persen, dan lanjut usia 50 persen berbeda-beda. Organ-organ dalam tubuh pun hampir sebagian besar terdiri dari unsur air. Paru-paru 90 persen, darah 82 persen kulit 80 persen, otot 75 persen, otak 70 persen , dan tulang 20 persen.

Air bagi manusia sama pentingnya dengan darah. Air memegang peranan besar dalam kehidupan manusia zaman modern seperti sekarang ini. Jika tempo dulu manusia menggunakan air hanya sebagai kebutuhan konsumsi. Namun era sekarang air juga dapat dipergunakan sebagai sumber energi.

Dengan memanfaatkan sumber daya air, energi listrik pun dapat diciptakan. Contoh pemanfaatan air sebagai energi dapat dilihat misalnya di negara Belanda, Jepang, Bahkan di negara padang pasir seperti Saudi Arabia.

Selain itu kegunaan air bagi manusia terutama adalah kebutuhan mandi, cuci, dan berwudhu bila ia muslim. Air tidak saja untuk di minum tapi multi fungsi. Maka apa jadinya bila manusia hidup tanpa air? Seperti yang dirasakan oleh masyarakat Gampong Cot Lamkuweuh, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

Menurut berita di media online terdapat sebanyak 50 rumah dari 450 KK di sana yang terkendala air bersih bahkan hingga kini air tidak mengalir ke rumah-rumah mereka. Padahal Banda Aceh tergolong daerah yang mempunyai air melimpah bukan seperti Euthopia. Ngapain saja itu PDAM Tirta Daroy?

Akibatnya, secara massal warga membongkar meteran PDAM Tirta Daroy yang terpasang dirumah-rumah mereka sebagai bentuk protes keras kepada perusahaan daerah milik Pemko Banda Aceh yang hanya menyuplai angin setiap harinya. Padahal mereka butuh air untuk mandi, masak, ibadah, dan sebagainya. Bukan butuh angin.

Namun Dirut PDAM T Novizal Aiyub berkilah terhadap berbagai tudingan miring warga dan menjelaskan problem utama yang terjadi di Cot Lamkuweuh adalah tekanan air yang lemah sehingga sekira 10 persen rumah warga tidak teraliri air selama 24 jam. Penyebabnya jaringan perpipaan yang asal jadi dibangun pada masa rehab-rekon dulu.

Alasan sang direktur terkesan mengada ngada. Soalnya masa rehab-rekon yang ia maksud sudah lewat hampir 15 tahun yang lalu. Dengan waktu selama itu, lantas mengapa baru sekarang muncul persoalan? Atau keluhan warga tersebut selama ini tidak ditanggapi oleh Pemko?

Jangan Main-main Dengan Air

Menurut teori yang pertama kali diajukan oleh Luis Frank dari Ohio State University, dan dikukuhkan oleh NASA serta University of Hawaii, air tiba di bumi setelah berkelana melalui ruang angkasa.

Dalam setiap menit dalam sehari, sekitar dua belas komet–beberapa diantaranya berat mencapai 100 ton– jatuh ke bumi. Komponen utama komet-komet tersebut adalah es. Ketika mencapai atmosfer, es-es itu membentuk awan dan akhirnya jatuh ke bumi dalam bentuk hujan untuk mengisi lautan.

Bila mengacu pada teori ini maka air merupakan benda luar angkasa yang dikirimkan oleh Tuhan untuk makhluk di muka bumi. Keberadaan air sama pentingnya dengan penciptaan manusia itu sendiri. Lihatlah bagaimana mukjizat Nabi Ismail As dengan dorongan kakinya mengeluarkan air. (sumur zam-zam). Begitu pula Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diujung jarinya juga mengeluarkan air.

Sampai disini kita semua pasti paham bagaimana posisi air dalam kehidupan manusia. Maka bila ada pemimpin yang abai dengan masalah air, patut dikuatirkan dia akan jatuh dari kursi kepemimpinannya karena rakyatnya adalah air yang seperti banjir tanpa dapat dibendung karena luapan.

Jangan lupa, menurut Masaro Emoto dalam bukunya The Secret Life of Water menuliskan bahwa sebagian besar dari manusia adalah air, dalam arti tertentu kita semua terhubung dengan air yang datangnya dari luar angkasa. Karena itu air sangat berharga, ia datang dari tempat yang sangat jauh.

Secara filosofi sifat air disamping memberikan manfaat namun air juga dapat mendatangkan petaka, begitu pula manusia (80 persen darah sama dengan air), terkadang bisa membawa petaka bagi manusia lainnya. Namun bagi manusia yang baik tentunya harus memberikan manfaat bagi orang lain.

Pemerintah Kota Banda Aceh yang sejatinya bertanggung jawab terhadap kebutuhan dasar seluruh warganya, tidak menunggu datang gelombang demontrasi lalu baru merespon dengan janji-janji atau pun realisasi. Warga kota yang memiliki pengetahuan tinggi tentu saja memiliki cara lain yang lebih cerdas untuk mengingatkan Wali Kota dan jajarannya. Seperti aksi masyarakat Cot Lamkuweuh.

Tidak hanya persoalan air yang harus menjadi perhatian Wali Kota bila dirinya ingin dicintai oleh masyarakat Banda Aceh, juga jalan, saluran air, sampah, dan kesemrawutan lalu lintas yang harus direspon dengan super cepat. Termasuk didalamnya kagiatan-kegiatan yang berpotensi terjadinya pelanggaran syariat harus dikurangi terutama yang bersifat hiburan dan hura-hura.

Terakhir saya ingin menulis sebuah quote “Dengan hanya melihat air, seseorang bisa belajar banyak hal tentang ketenangan yang sewaktu-waktu bisa menenggelamkan.” (*)

Penulis: Hamdani, SE.,M.Si (Dosen Politeknik Kutaraja) Email: hamdani.aceh@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here