oleh

Erdogan ke Trump: Turki Tak Punya Masalah dengan Kurdi

ACEHSATU.COM | ANKARA – Turki tidak memiliki masalah dengan Kurdi dan bertujuan untuk memerangi kelompok-kelompok teror Daesh, PKK dan sekutunya di Suriah PYD/YPG yang mengancam keamanan nasional.

Hal tersebut diungkapkan Presiden Recep Tayyip Erdogan kepada Presiden AS Donald Trump melalui panggilan telepon pada Senin.

Sebuah pernyataan dari kepresidenan Turki mengatakan Erdogan dan Trump membahas gagasan zona aman bebas teror di wilayah utara Suriah.

BACA: Donald Trump Minta Bantuan Erdogan Kalahkan ISIS di Suriah

“Turki mendukung keputusan Trump tentang penarikan pasukan Amerika Serikat dari Suriah,” kata Erdogan.

Kedua pemimpin negara sepakat untuk memajukan hubungan ekonomi bilateral.

Pembicaraan melalui telepon dilakukan setelah cuitan Trump yang mengancam untuk menghancurkan Turki secara ekonomi jika mereka menyerang Kurdi.

Para pemimpin menekankan bahwa Peta Jalan Manbij harus diselesaikan untuk menghindari kekosongan otoritas di wilayah tersebut.

Trump menyatakan keinginannya untuk bekerja sama dalam mengatasi masalah keamanan Turki di timur laut Suriah sambil menekankan sangat penting bagi AS jika Turki tidak menganiaya kelompok teror PYD/YPG.

BACA: Tayyip Erdogan: Turki Bisa Lindungi Kepentingan AS dan Warga Suriah

Gedung Putih mengatakan Kepala Staf Gabungan AS Joseph Dunford dijadwalkan bertemu dengan rekan sejawatnya dari Turki Yasar Guler pada Selasa untuk diskusi lebih lanjut.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah mengisyaratkan bahwa operasi lintas batas terhadap kelompok teroris PYD/YPG di wilayah timur laut Suriah akan segera dimulai.

Sejak 2016, Ankara telah melakukan dua operasi militer serupa di Suriah utara.

Pasukan Turki dan AS memulai patroli bersama di Manbij pada 1 November sebagai bagian dari kesepakatan yang berfokus pada penarikan teroris PYD/YPG dari kota untuk menstabilkan kawasan.

PYD/YPG adalah sekutu PKK, kelompok teroris yang diakui oleh Turki, AS dan Uni Eropa, yang dalam 30 tahun operasi terornya telah merenggut sekitar 40.000 jiwa. (*)

Sumber: Anadolu Agency

Komentar

Indeks Berita