Era Digital, Masa Depan Tenaga Kerja di Asia Pasifik Terancam Punah, Ini Jenis Pekerjaan Diganti Mesin

0
64

ACEHSATU.COM | PORT MORESBY, PAPUA NUGINI  – State of the Region tahun ini meneliti kemungkinan dampak dari kemajuan teknologi terhadap tenaga kerja di Asia-Pasifik.

Diperkirakan akan terjadi pengurangan jumlah tenaga kerja di Asia Tenggara dan Timur Laut masing-masing sebesar 55% dan 54% di tahun 2030. Ini lebih besar daripada jumlah lapangan kerja yang dibuka.

Demikian menurut laporan baru yang dirilis Dewan Kerja Sama Ekonomi Pasifik (Pacific Economic Cooperation Council – PECC) kepada ACEHSATU.COM, Rabu (14/11/2018).

BACA: Indonesia Sedang Cari Cara Untuk Tarik Pajak Perusahaan Digital Asing

Laporan tahunan State of the Region ke-13 untuk tahun 2018-19 dari PECC dirilis hari ini saat sidangpara pemimpin politik dan bisnis internasional dalam Pertemuan Pemimpin Kerja sama Ekonomi Asia-Pasifik (Asia-Pacific Economic Cooperation – APEC) di Port Moresby, Papua Nugini.

Pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tingkat rendah kemungkinan akan mendapatkan dampak paling besar.

Diperkirakan terjadi penurunan jumlah pekerja sebesar 64,1% untuk dukungan administratif pada tahun 2030.

Kemudian diikuti 59,1% untuk operator pabrik dan mesin; 58% untuk pekerja tambang, konstruksi, manufaktur, dan transportasi.

Selanjutnya 56,5% untuk layanan personal dan staf penjualan.

BACA: Marak Mazhab Post Truth, Ini Saran Penting Badan Siber dan Sandi Negara

Dengan berkurangnya lapangan pekerjaan, sekitar separuh responden memperkirakan adanya surplus tenaga kerja dalam profesi yang sama di Asia-Pasifik pada 2030.

Sebagai cerminan akibat kehadiran teknologi baru dan bertambahnya populasi lansia di Asia-Pasifik, diperkirakan terjadi kekurangan tenaga kerja dalam jumlah besar di bidang pakar sains dan teknik (59,2%); tenaga perawat lansia (56,3%); dan pakar teknologi informasi dan komunikasi (55,3%).

Selain itu, responden menilai pemikiran kritis (75%), pemecahan masalah yang kompleks (71,8%) dan kreativitas (61%) sebagai keterampilan karyawan yang paling sulit ditemukan di sektor ekonomi mereka pada tahun 2030.

BACA: Survei PECC: Pertumbuhan Ekonomi Asia-Pasifik Terancam Perang Dagang Global

Dalam hal kesiapan, sebagian besar responden survei merasa ekonomi mereka tidak siap untuk menangani pelatihan, meningkatkan keterampilan, dan kemungkinan gangguan dari teknologi baru di sektor ekonomi mereka.

Tiga perempatnya (76%) mengatakan pasar tenaga kerja dan sistem jaminan sosial mereka tidak sepenuhnya siap, sementara 66,7% berpendapat sistem pendidikan mereka tidak siap – dengan sedikit perbedaan terlihat antara negara-negara berkembang dan negara maju.

BACA: Krisis Ekonomi Landa Zimbabwe, KFC Tutup karena Habis Stok Daging Ayam

Mr. Pedrosa mengatakan, laporan ini menyimpulkan seberapa baik sektor ekonomi dapat menyesuaikan dengan perubahan teknologi tergantung pada kapasitasnya untuk menyesuaikan keterampilan yang dimiliki oleh semua tenaga kerja yang tersedia dengan keterampilan yang dibutuhkan.

Kemajuan teknologi juga diharapkan menciptakan perubahan okupasional dan struktural yang signifikan, meningkatkan kualitas, sekaligus mengurangi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan.

“Penting bagi para pembuat kebijakan untuk memahami dampak teknologi terhadap jenis lapangan pekerjaan dan bagaimana memungkinkan transisi yang lancar dan tanpa halangan,” kata Pedrosa. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here