oleh

Ellis Island dan Ultimatum Hasan Tiro

-Opini-392 views

Oleh: Ramadhan Abdullah, S.H

SIAPA yang tidak kenal dengan Dr. Hasan Muhammad di Tiro, M.S., M.A., LL.D., Ph.D.

Dia adalah sang tokoh deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yaitu sebuah gerakan pembebasan Nasional Aceh Sumatera dari Negara Republik Indonesia.

Awal mula pemikiran politiknya mulai bersebrangan dengan Pemerintah Republik Indonesia (RI) ketika dimasa Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo (1953-1955) setelah menggempur pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) hingga ke pedalaman Aceh.

Hasan Tiro menganggap tindakan agresif militer Indonesia kala itu diluar batas toleransi dengan membantai dan menangkap ratusan warga sipil.

Dari Negeri Abang Sam itu pada awal September 1954 Hasan Tiro mengirimkan ultimatum kepada Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo untuk membebaskan para tahanan politik dan memulai perundingan baru dengan Darul Islam, tulisnya seraya menyertakan sebuah ancaman.

Sekira hal ini tidak dilakukan, maka Pemerintah Indonesia akan dilaporkan ke PBB karena telah melakukan pembunuhan massal, dan melakukan kekejaman terhadap Alim Ulama di Aceh, Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan beberapa daerah lain yang mendukung DI/TII.

Ancaman paling serius terhadap Negara Indonesia di letakkan Hasan Tiro pada akhir ultimatum.

Jika Pemerintah Republik Indonesia tidak mengindahkan, maka akan diupayakan sebuah cara pemboikotan diplomatic dan ekonomi terhadap Indonesia.

Termasuk penghentian bantuan yang diberikan lewat Colombo Plan atau bantuan-bantuan kemanusian lain yang disalurkan lewat PBB dan Amerika Serikat, tulisnya.

Ultimatum itu membuat merah telinga Jakarta. Dalam tanggapan terhadap tekanan itu, Jakarta balas mengancam agar Hasan Tiro kembali ke Indonesia selambat-lambatnya pada 22 September 1954 atau pasportnya di bekukan.

Ancaman itu tidak digubris oleh Hasan Tiro yang tetap menetap di Amerika Serikat.

Namun beberapa hari kemudia Hasan Tiro ditangkap oleh pihak keamanan Amerika Serikat atau yang lebih dikenal dengan New York Police Department (NYPD), atas tuduhan melakukan pelanggaran imigrasi.

Hal ini dikarenakan kewarganegaraannya telah dicabut secara sewenang-wenang oleh Pemerintah Indonesia Hasan Tiro pun harus mendekam di penjara Ellis Island (Pulau Ellis) Amerika Serikat.

Informasi tentang penahanan Hasan Tiro di pulau Ellis masih dapat di telusuri dari pemberitaan Koran ternama Amerika The New York Times Tanggal 2 Oktober 1954 dengan judul; “TOLD TO LEAVE COUNTRY; Ex-indonesia official faces deporting after Nov. 1 (Disuruh meninggalkan Negara: Mantan-pejabat resmi Indonesia akan dideportase setelah 1 November)”.

Dalam paragraf terakhir The New York Times menuliskan; “Hasan Muhammed Tiro, a former Indonesian Government official here, was given until Nov. 1 yesterday to leave the United Stastes voluntarily or face deportation proceedings. Since Aug. 15, when he broke with his Government, his Indonesian credentials have been invalidated.

(Hasan Muhammad Tiro, mantan pejabat Pemerintah Indonesia di sini, diberikan waktu hingga 1 November kemaren untuk meninggalkan Amerika Serikat secara suka rela atau menghadapi proses deportasi.

Sejak 15 Agustus, ketika ia memutuskan hubungan dengan Pemerintahnya, kredensial Indonesianya telah dibatalkan)”. (www.nytimes.com/1954/10/02/ TOLD TO LEAVE COUNTRY; Ex-indonesia official faces deporting after Nov. 1).

Sebagaimana diketahui Ellis Island adalah sebuah pulau harapan, sekaligus pulau bertabur air mata bagi para jutaan imigran gelap yang masuk ke Amerika Serikat yang berperan sebagai stasiun inspeksi imigrasi tersibuk di Amerika Sejak tahun 1892 hingga 1954.

Pulau ini terus dikembangkan melalui reklamasi antara tahun 1892 hingga 1934, pulau yang sebagian besarnya termasuk wilayah New Jersey ini menjadi bagian dari Statue Of Liberty National Monument pada tahun 1965.

Sejak tahun 1990 Pemerintah Amerika mendirikan museum imigrasi yang dikelola oleh National Park Service. (Wikipedia).

Dalam Wikipedia.org Tidak disebutkan kapan Hasan Tiro dibebaskan, hanya ada keterangan Hasan Tiro ditahan di pulau Ellis hanya beberapa bulan, karena kepiawannya dalam melobi pihak-pihak berpengaruh di Amerika dan membayar jaminan sebesar 500 dolar.

Hasan Tiro pun dibebaskan dan menerima kewarganegaraan Amerika. (*)

Penulis adalah Pegiat Sosial, Politik. Alumnus: Fakultas Hukum (Hukum Tata Negara Universitas Syiah Kuala) Email: ramadhan.ab[email protected]

Komentar

Indeks Berita