oleh

Eksistensi Ilmu Dalam Kacamata Islam

-Kolom, Religi-89 views

Oleh Sufratul Aini

ACEHSATU.COM – Islam merupakan salah satu agama yang sangat memprioritaskan posisi ilmu. Dalam hal ini, Islam mempunyai peranan yang penting dalam menopang kamaslahatan umat di sektor pendidikan. Adapun eksistensi ilmu dalam sudut pandang Islam bisa dilihat dari lima faktor:

1. Status keilmuan

Islam merupakan salah satu agama yang sangat memperhatikan bagaimana letak posisi sebuah ilmu. Hal ini bisa dilihat dari wahyu pertama yang diturunkan yaitu Surah Al- Alaq ayat 1-5.

Iqra: Bacalah. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakanmu. Untuk pertama kali wahyu diturunkan, Allah tidak menyuruh kita shalat, tidak menyuruh kita berpuasa apalagi zakat, akan tetapi, untuk pertama kali perintah yang didapat ialah “membaca.”

Sebagaimana diketahui, dengan membaca kita bisa tahu prosedur yang betul dalam melakukan sesuatu, semisal shalat. Bisa membedakan yang baik dan yang salah misal dalam ilmu fiqih, hingga menambah pengetahuan dan pembelajaran selayaknya membaca kisah para nabi dan sahabat berimbas dengan diambilnya “ibrah”. Dari sini dapat disimpulkan bahwa membaca membuat setiap orang mengetahui sesuatu yang baru sehingga menghasilkan ilmu.

Namun satu sisi mungkin timbul pertanyaan pada kita mengapa harus membaca, karena sebagaimana kita kita jikalau Nabi Muhammad adalah seorang “Al-Ummi” yang bermakna tidak bisa membaca dan menulis. Dan untuk sekali lagi wahyu “perdana” ini mempunyai hikmah lain yaitu membuktikan jikalau Al- Quran merupakan murni wahyu dari Allah, sehingga untuk seorang yang tidak bisa membaca dan menulis tidak mungkin mengarangnya.

Di sisi lain, dalam konteks bahasa saja sudah bisa diketahui makna kata tersebut, yang mana ilmu yang dari serapan Bahasa Arab diartikan sebagai mengetahui. Allah sendiri mempunyai nama yang indah yaitu ilmu yang artinya Maha Mengetahui.

Oleh karena itu sepatutnya anggapan tentang hobi membaca sudah bisa dihilangkan karena sesungguhnya membaca adalah sebuah kewajiban.

2. Allah menjadikan status penuntut ilmu setara dengan fisabilillah.

Dalam sebuah hadis dikatakan: Apabila kematian menghampiri seorang yang menuntut ilmu maka ia meninggal dalam keadaan syahid.

Hari ini, umumnya kita hanya mengetahui syahid hanya digelar kepada mereka yang meninggal dalam keadaan perang. Tapi faktanya ada banyak hal yang bisa menjadikan orang syahid, seperti:

  • Meninggal dalam keadaaan perang
  • Meninggal dalam keadaan mempertahankan aqidah
  • Meninggal dalam keadaan sakit perut apapun itu
  • Meninggal dalam keadaan mempertahankan hartanya
  • Meninggal pada kondisi sedang melahirkan
  • Meninggal dalam keadaan tenggelam
  • Hingga meninggal dalam keadaan menuntut ilmu.

Dan tentunya gelar syahid kondisi ini selama sang hamba ketika hidup sebagai mukmim dan berlaku sesuai aturan Allah .

3. Allah mengangkat tinggi derajat orang yang menuntut ilmu.

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al Mujadilah : 11).

Ayat di atas cukup tegas dalam menggambarkan betapa mulia orang yang berilmu. Bahkan dalam sebuah riwayat dikatakan bahawa para malaikat merentangkan sayapnya sebagai tanda keridhaan kepada para penuntut ilmu. Selain itu, orang yang berilmu akan mendapat penghormatan yang lebih dalam status sosial. Selayaknya ulama, Ulama sendiri berarti orang yang berilmu yang mana asal kata dari ‘alima yaitu mengetahui.

cahayaislam.id

 

4. Menuntut ilmu menjadi tuntunan tanpa batasan usia

Saat ini kita dengan mudah mendapati anak yang mempunyai kecerdasan di luar biasa, Sebagai contoh ialah Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i yang dikenal sebagai keajaiban abad 21 karena kecerdasannya.  Hal ini juga karena faktor usia balita yang dihabiskan belajar sambil bermain karena kondisi ruang lingkup nya yang berada bersama para penghafal Al-Quran juga orang tua yang mempersiapkan jauh hari.

Bukan saja muslim, sebagai contoh bangsa yahudi. Seorang ibu menyiapkan bekal hari menunggu si calon bayi lahir. Mereka belajar menyelesaikan soal hitungan untuk menstimulus anaknya, makan makanan bergizi dan mendengar musik sehingga tak heran jikalau salah satu bangsa tercerdas ialah bangsa yahudi karena faktanya mereka menuntut ilmu jauh sebelum si anak lahir.

5. Menuntut ilmu sebagai kewajiban muslim

“Menuntut ilmu itu Wajib bagi setiap  muslim dan muslimah.”

Dalam hadis ini tidak ada kalimat yang mendeskriminasikan sekelompok orang,  maknanya entah ia seorang lelaki atau wanita maka ia mempunyai kewajiban yang sama dalam menuntut ilmu.

Islam memposisikan kesetaraan dalam hal ini, namun ada sekelompok orang yang kadang kurang bisa menangkap baik pemahaman tersebut. Selayaknya mereka menganggap pada akhirnya wanita akan menjadi makhluk domestik artinya kalau tidak di dapur berarti di sumur jadi tidak perlu menuntut ilmu tinggi-tinggi dan mengatakan hakikatnya wanita baik dirumah. atau alasan lain takut menyaingi laki laki. Padahal menuntut ilmu sendiri tidak ada batasan.

Memang faktanya wanita di rumah cukup baik, tapi menuntut ilmu juga baik bahkan wajib selama ia mengikuti prosedur yang benar. Kondisi ini seharusnya bisa dipahami oleh setiap orang karena sejujurnya wanita berpendidikan tinggi bukan untuk menyaingi laki- laki tapi untuk membangun generasi.  (*)

Komentar

Indeks Berita