Eksekusi Pelaku Pencabulan di Tengah Pandemi: Algojo Cambuk Heri Mulyadi 39 Kali

Eksekusi Pelaku Pencabulan di Tengah Pandemi: Algojo Cambuk Heri Mulyadi 39 Kali
Algojo melakukan hukuman cambuk terhadap MTA dan MHA adalah pasangan gay, di luar masjid di Banda Aceh, provinsi Aceh, hari Selasa (23/5/2017). | Foto AP

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Penyebaran wabah COVID-19 tak menghentikan proses hukum terhadap Heri Mulyadi, terhukum dalam kasus pencabulan. Ia dieksekusi algojo dari Satpol PP Wilyatul Hisbah (WH) Banda Aceh dengan hukuman total 39 kali cambuk.

Pelaksanaan eksekusi cambuk itu berlangsung di Taman Bustanussalatin atau Taman Sari Banda Aceh, Kamis (10/9/2020). 

Malansir Antara, eksekusi terhadap Heri Mulyadi berlangsung di hadapan orang banyak dengan turut disaksikan rombongan Kejaksaan Tinggi serta Komisi Kejaksaan RI.

Pelaksanaan hukuman cambuk di tengah mewabahnya pandemi COVID-19 tersebut dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker serta menjaga jarak.

Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Banda Aceh Yudha Utama Putra mengatakan terhukum kasus pelecehan seksual yang dihukum cambuk yakni Heri Mulyadi (49) warga Banda Aceh. 

Terbukti bersalah

“Terhukum divonis bersalah oleh majelis hakim Mahkamah Syariah Banda Aceh dengan hukuman 35 kali cambuk. Vonis tersebut dipotong masa tahanan selama empat bulan atau empat kali cambuk, sehingga hukuman yang dijalani sebanyak empat kali cambuk,” kata Yudha Putra Utama.

Terhukum menurut Yudha, dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana atau jarimah pelecehan seksual sebagai mana diatur Pasal 1 butir 27 Qanun Aceh Nomor  Tahun 2014 tentang hukum jinayat.

Sebelumnya, terhukum ditangkap  karena melakukan pelecehan seksual dengan cara meraba tubuh korban seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh, Mei 2020.

Terhukum melakukan aksinya sekira pukul 03.00. Aksi terhukum diketahui karena korban terbangun. Terhukum kabur setelah perbuatannya diketahui korban. Korban akhirnya melapor ke polisi. (*)