Kolom Muhrain

Dunia Kita Memang Seni [Seniman Barlian AW Menulis]

Foto : Istimewa

Bertemu dengan Rafli Kande, Muhrain, Syamsuddin Jalil (Ayah Panton), Sarjev Hirzy, Nab Bahany As, dan sejumlah seniman dari berbagai cabang kesenian adalah keasyikan tersendiri.

Begitulah, Jumat sore (9/2/2018) kami bertemu di Batoh, Banda Aceh. Ada makan siang dengan gulai kambing yang bikin mbling, ada kopi Gayo yang nikmat, serta buah-buahan yang segar, serta obrolan yang serius, santai, kadangkala nakal, membuat suasana akrab.

Saya menemukan kembali makna kehidupan dengan berkesenian– dunia yang saya geluti sejak remaja, di tahun 1976 — khususnya di bidang sastra dan teater.

Menulis puisi dan prosa di surat kabar, serta bermain drama dan mendirikan Sanggar Kuala bersama teman-teman adalah awal berkecimpungan saya ke kancah ini. Puisi pendek (terdiri dari 5 baris) membuat saya diundang ke Jakarta dalam sebuah even nasional yang sangat bergengsi. Itulah awal mula saya berkenalan dengan sejumlah maestro seni di ibu kota.

Belasan tahun saya berendam dalam telaga ini. Tapi dalam perjalanannya ada masa-masa yang redup. Saya terlibat dalam politik sebagai bentangan dari pengalaman sebagai aktifis mahasiswa dan kepemudaan. Berkesenian agak surut meski sejumlah karya dimuat dalam berbagai antologi.

Tapi, itu tadi, rupanya dunia saya adalah seni. Maka kemarin dalam pertemuan itu, ada hasil yang lebih konkret: Terbentuknya Akademi Kutaraja. Anggotanya terdiri dari budayawan, seniman dan akademisi.

Ada Sjamsul Kahar boss Serambi Indonesia, ada Dr Harun Alrasyid (Doktor Sastra Dosen Unsyiah), ada Yulsafli MA (Aceh Cultural Institut), ada Prof Misri A. Muchsin (UIN Ar-Raniry), ada Razuardi Essex, (pelukis senior, dan tokoh birokrat).

Sebagaimana halnya Akademi Djakarta yang memilih Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Akademi Kutaradja juga bertugas membentuk Majelis Seniman Aceh, yang sudah bertahun-tahun menjadi obsesi para seniman.

Sebagaimana kesepakatan, untuk pertama kali Majelis ini langsung dibentuk oleh forum dan ketentuan itu dicantumkan dalam anggaran dasar atau statuta.

Syamsuddin Jalil alias Ayah Panton terpilih sebagai Ketua Majelis Seniman Aceh. Majelis Seniman Aceh ini mengacu pada UU no 11/2006, sebagaimana Majelis Pendidikan Daerah, Majelis Adat Aceh, dan Majelis Permusyawaratan Ulama.

Itulah dunia seni, penuh dinamika bahkan selalu ada kejutan. Ini memang saat yang tepat kehadirannya, karena pada Agustus 2018 ini akan berlangsung Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 7. Kebetulan kami juga Tim Persiapan PKA. Dunia kita memang seni! Hidup tidak boleh statis. (*)

Sumber: www.facebook.com

Ditulis oleh: Barlian AW di akun FB pribadinya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top