Lingkungan

Duh, Susahnya Menjadi Penebang Bakau

7884581148e30ccb73a24dfa45b62e09_LACEHSATU.com, LANGSA – MATAHARI mulai turun, saat seorang laki-laki paruh bayu masih terus berkutat dengan sebuah chansaw kecil menghancurkan batang-batang bakau yang sudah terkumpul.

Tubuhnya gempal dengan cekatan memotong-motong batang bakau menjadi pendek. Namanya Muhammad Yusuf (55).

Warga Desa Alue Beurawe ini saban hari bekerja di dapur arang miliknya. Apasuh begitu ia kerap disapa, hanya bekerja memasukkan kayu ke dalam dapur yang siap dibakar.

Selanjutnya, proses menjadi arang akan butuh waktu sampai 25 hari lamanya.

Bekerja sebagai penebang bakau ternyata bukan pekerjaan mudah, selain karena berpenghasilan pas-pasan. Ternyata menjadi penebang juga harus berhadapan dengan masalah hukum.

Di lapangan, para penebang ini harus main kucing-kucingan dengan aparat Polhut dan Airud. “Kalau ditangkap, kayu dan boat disita petugas,” ungkap Apasuh kepada ACEHSATU.com, beberapa waktu lalu.

Petugas gabungan Polhut dan Airud di Langsa memang kerap menggelar patroli. Pasalnya, kawasan hutan manggrove di Langsa sudah semakin menipis akibat laju deforestasi para penebang dari kabupaten tetangga yakni Aceh Timur dan Aceh Tamiang.

Menurut Wakil Wali Kota Langsa, Drs Marzuki Hamid, setiap hari aksi penebangan hutan bakau terus meningkat. Faktor yang paling dominan adalah banyaknya penebang dari kabupaten tetangga, dan juga di Langsa sendiri.

Kini, Pemko semakin menggiatkan patroli perlindungan hutan mangrove seiring digagasnya Kota Langsa sebagai destinasi ekowisata manggrove di Aceh. Namun, kebijakan populis itu terus menyudutkan para penebang lokal yang masih belum mengantongi izin areal konsesi hutan.

Pemko juga dikabarkan berkomitmen melestarikan kawasan hutan manggrove dengan mengalihkan pekerjaan para penebang secara bertahap.

Pun demikian, akibat himpitan ekonomi dan tidak adanya peluang pekerjaan lain, Apasuh bersama 500-an lebih masyarakat pesisir di Langsa yang masih terus menebang bakau karena mereka menggantugkan hidupnya dari hasil menebang bakau.

“Pekerjaan ini sudah kami lakoni sejak orang tua kami. Dan sampai hari ini kami masih hidup dari pekerjaan ini,” ketus Apasuh.

Menebang, katanya, bukanlah pilihan. Tapi tuntutan atas kondisi sosial masyarakat pesisir di Langsa saat ini yang membuat mereka masih bertahan, meski berpendapatan pas-pasan.

Biasanya, kata Apasuh, pekerja pencari kayu bakau itu dalam sehari bisa mendapatkan uang Rp 80- Rp100 ribu. “Tergantung banyaknya, kalau standar dapatlah Rp 100 ribu setiap orang, biasanya pergi dua orang untuk satu boat,” katanya.

Sementara pemilik dapur, selain mengupah warga mencari kayu bakau, setiap pemilik dapur juga harus membayar upah untuk setiap memasukkan dan mengeluarkan kayu ke dan dari dalam dapur. “kami juga membayar upah orang yang menjaga perapian,” tambanya.

“Produksi arang kami jual ke pengumpul lokal, tapi harga juga tidak stabil, apalagi sering ada penangkapan oleh aparat kepolisian,” kata Apasuh.

Ternyata, aktivitas penebangan kayu bakau memang bukan pekerjaan mudah. Banyak rintangan yang harus dilalui dalam berusaha di sektor ini. Terutama menyangkut dengan akibat pelanggaran hukum yang selalu bisa dikenakan kepada si penebang.

Sampai saat ini, terdapat sekitar 500 lebih warga pesisir di Kota Langsa yang masih bekerja menebang bakau.

Mereka tersebar di enam desa meliputi Desa Sungai Paoh Pusaka, Desa Sungai Paoh Tanjong, Desa Alue Beurawe, Desa Sungai Lueng, Desa Kapa, dan Desa Cinta Raja. Dari enam desa itu hanya ada sekitar 120 dapur arang yang memproduksi arang dari kayu bakau. (hendra isra)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top