Duh! Aceh Masih Jadi Provinsi Termiskin di Sumatera

Aceh masih provinsi termiskin di Sumatera. Gelar tersebut sudah disandang Aceh setahun sebelumnya.
Aceh Provinsi Termiskin di Sumatera
Foto: Pradita Utama

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Aceh masih provinsi termiskin di Sumatera. Gelar tersebut sudah disandang Aceh setahun sebelumnya. Dan tahun ini ternyata gelar termiskin di Sumatera masih dipegang Aceh.

Padahal Aceh dikenal sebagai daerah dengan kekayaan alam meliputi migas, tambang, kekayaan hutan. Belum lagi kucuran dana Otsus yang menumpuk.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Aceh masih bertahan sebagai provinsi termiskin di Sumatera. Jumlah penduduk miskin di Serambi Mekah berjumlah 834 ribu orang atau 15,33%.

Dalam data dirilis BPS Aceh, Kamis (15/7/2021), jumlah penduduk miskin di Aceh periode September 2020 hingga Maret 2021 mengalami penurunan secara persentase dari 15,43% menjadi 15,33%. Namun secara angka, masyarakat miskin di Tanah Rencong bertambah.

“Pada bulan Maret 2021, jumlah penduduk miskin di Aceh sebanyak 834,24 ribu orang bertambah sebanyak 330 orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2020 yang jumlahnya 833,91 ribu orang,” kata Kepala BPS Aceh Ihsanurijal dalam konferensi pers virtual.

Ihsanurijal mengatakan, ada beberapa faktor yang diduga terkait dengan kemiskinan di Aceh. Di antaranya, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2021 sebanyak 6,30% atau lebih rendah dibanding Agustus 2020 6,59%.

Selain itu, pandemi COVID-19 juga dinilai berdampak terhadap penduduk usia kerja menjadi pengangguran, sementara tidak bekerja hingga pengurangan jam kerja. Sementara realisasi bantuan sosial baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dianggap relatif berjalan dengan baik.

Aceh Provinsi Termiskin di Sumatera
Foto: Pradita Utama

Menurutnya, komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan di perkotaan dan pedesaan relatif sama. Beberapa komoditas yang memberi andil besar antara lain beras, rokok, dan ikan tongkol/tuna/cakalang.

“Sedangkan untuk komoditi bukan makanan yang berpengaruh terhadap nilai garis kemiskinan adalah biaya perumahan, bensin, dan listrik,” bebernya.

Dia menjelaskan, besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan. Hal itu karena penduduk miskin merupakan penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

Selama periode September 2020-Maret 2021, kata Ihsanurijal, garis kemiskinan di Aceh naik sebesar 3,22% yaitu dari Rp. 524.208 perkapita per bulan menjadi Rp.541.109 perkapita per bulan.

Untuk daerah perkotaan, garis Kemiskinan naik sebesar 4,06%, dari Rp 543.685 perkapita per bulan pada September 2020 menjadi Rp.565.776 perkapita per bulan pada Maret 2021.

“Sedangkan untuk daerah pedesaan naik sebesar 2,79% yaitu dari Rp. 514.663 perkapita per bulan pada September 2020 menjadi Rp. 529.035 perkapita per bulan pada Maret 2021,” ujarnya.

Bila dilihat tingkat kemiskinan di Pulau Sumatera, Aceh masih menduduki peringkat pertama. Daerah kedua termiskin yaitu Bengkulu (15,22%) diikuti Sumatera Selatan (12,84%) dan Lambung (12,62%). (*)