Dua pekerja di galian C Glee Genteng Aceh Besar tertimbun longsor, korban meninggal

Dua Pekerja Meninggal di Galian C Kawasan Gunung Glee Genteng Aceh Besar Itu Ilegal

ACEHSATU.COM | Banda Aceh – Longsor yang terjadi pada galian C di kawasan Gunung Glee Genteng Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar yang mengakibatkan dua pekerja meninggal dunia merupakan kawasan tambang ilegal. Pernytaan tersebut dibenarkan oleh Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh. Kepala Bidang Mineral dan Batu Bara ESDM Aceh, Khairil Basyar mengatakan, pemilik usaha … Read more

ACEHSATU.COM | Banda Aceh – Longsor yang terjadi pada galian C di kawasan Gunung Glee Genteng Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar yang mengakibatkan dua pekerja meninggal dunia merupakan kawasan tambang ilegal.

Pernytaan tersebut dibenarkan oleh Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh.

Kepala Bidang Mineral dan Batu Bara ESDM Aceh, Khairil Basyar mengatakan, pemilik usaha pertambangan tersebut bernama Zulkarnaen memang memiliki Izin Usaha Mikro (IUM), namun lokasi yang menyebabkan korban jiwa tidak termasuk dalam IUM tersebut dan dinyatakan ilegal. 

“Iya benar ilegal, karena tidak dibenarkan pemegang IUM melakukan kegiatan di luar wilayah izin walaupun sudah memiliki surat izin,” sebut Khairil, Selasa (20/9/2022).

Wilayah izin kata Khairil hanya di luar 0,45 hektar, sedangkan lokasi reruntuhan batuan tersebut berjarak kurang lebih 18 meter dari wilayah izin.

Kemudian, metode penggalian yang dilakukan pekerja menurutnya juga menggunakan teknis yang salah.

“Posesnya yang salah, jadi masyarkat ini menggunakan penambangan mulai dari bawah dengan membuat lorong-lorong atau gua-gua sehingga dapat membuat batuan di atas runtuh.

Dan biasanya saat melakukan penambangan biasanya ada beberapa orang pengawas lapangan yang melihat keadaan batu yang dikeruk,” jelas Khairil.

Khairil juga menilai para pekerja belum lihai dan belum banyak pengalaman, menimbang usia korban yang masih terbilang muda.

“Kemarin yang melakukan penambangan ada mereka yang usianya masih muda, pengalamannya masih kurang tanda-tanda yang di berikan oleh batu tersebut mereka tidak membaca ini informasi dari masyarakat,” ungkap Khairil.

Pasca longsornya kawasan galian C tersebut, pihaknya akan mengambil langkah dengan mengundang unsur terkait untuk membahas surat izin tambang dan melakukan evaluasi.

Langkah tersebut diambil lantaran menurut Khairil, kawasan tambang tersebut tidak dapat dihentikan karena merupakan sumber mata pencaharian masyarakat setempat dan penambangan tersebut juga berkontribusi terhadap daerah tersebut.

“Tidak mungkin dilarang kegiatan tersebut, selain itu sumber mata pencaharian mereka juga, dan mereka ada kontribusi terhadap daerah sekitar, ada pos pengutipan restribusi, selain itu gunung tersebut masih bisa saja ditambang atau dikeruk,” imbuh Khairil.

Sebelumnya, dua orang pekerja galian C meninggal dunia akibat tertimbun longsor di kawasan galian Gunung Glee Genteng yang berada di Gampong Rima Keuneureum, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, Senin (19/9/2022) sekira pukul 15.15 WIB. 

Baca Juga : Longsoran Batu di Galian C Glee Genteng Aceh Besar, Dua Orang Pekerja meninggal Dunia

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto melalui Kapolsek Peukan Bada, Ipda Muhammad Al-Munawir mengatakan kedua korban merupakan warga kecamatan setempat bernama Muhammad Khadafi warga Gampong Rima Jeuneu, sebagai operator supir Beko dan Dayatullah warga Gampong Lampisang sebagai pengawas lapangan.  

Sebelum kejadian, kata Kapolsek, korban Khadafi  sedang mengoperasikan Beko, sedangkan Dayatullah sedang menghancurkan batu batu kecil  untuk dijadikan material.

“Tiba-tiba saja ia mendekati lobang dinding batu yang baru saja dikeruk, lalu kemudian jatuhlah reruntuhan batu menimpa mereka berdua dan kedua tertimbun, Beko pun ikut tertimbun,” ucap Ipda Muhammad

AcehSatu Network
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Optio, neque qui velit. Magni dolorum quidem ipsam eligendi, totam, facilis laudantium cum accusamus ullam voluptatibus commodi numquam, error, est. Ea, consequatur.