Dosen Virtual

COVID-19 telah memaksa penduduk bumi untuk berdiam diri, mengisolasi atau dalam istilah lebih kerennya adalah Lock Down.
Kuliah online
Arif Ramdan. Foto Dok. pribadi

COVID-19 telah memaksa penduduk bumi untuk berdiam diri, mengisolasi atau dalam istilah lebih kerennya adalah Lock Down.

Kata ini pun menempati urutan teratas pada masa-masa cemas kita saat mencari informasi pada mesin pencari di internet, tagar lockdown pun lebih sering disemat para pengguna sosial media selain kata kunci Corona.

Tidak berhenti pada Lock Down, pandemi Corona juga telah mengubah situasi dunia pendidikan di Indonesia saat ini dengan ditiadakannya kelas tatap muka selama masa Corona merajalela.

Universitas Indonesia di jantung ibu kota telah mengeluarkan aturan ini dan meminta seluruh tenaga pengajarnya melakukan kuliah daring (online).

Rata kampus di tanah air memilih jalan ini, sebagai salah satu upaya agar Corona tidak semakin merajalela makan banyak korban jiwa.

Pada berbagai aplikasi obrolan sosial media di sejumlah perguruan tinggi kita dengan mudah mendapat salinan surat edaran kampus yang diteken rektor agar semua proses belajar mengajar tatap muka dihentikan, kampus mulai melakukan sistem belajar online.

Di Aceh untuk kali pertama menerima salinan edaran kuliah online kampus-kampus ternama di Tanah Jawa, sekitar pertengahan Februari mendapat berita dua kampus Jantung Hati rakyat Aceh, UIN Ar-Raniry dan Unsyiah juga menempuh kebijakan meniadakan kuliah tatap muka dan menginstruksikan semua dosen mengampu kuliah dengan system online.

Kebijakan meniadakan tatap muka di kelas oleh dua kampus besar di Aceh juga didasarkan kepada Surat Edaran Menteri Kesehatan RI Nomor HK.02.01/MENKES/199/2020, Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 3 Tahun 2020 tanggal 9 Maret 2020 dan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 35492/A.A5/HK/2020, tentang Pencegahan Coronavirus Diseases-19.

Sampai di sini, kita patut memberikan apresiasi kepada para pengambil kebijakan kampus di Aceh sebagai bagian dari upaya pencegahan menyebarnya virus yang mematikan tersebut.

Model perkuliahan online meski sudah dikenalkan saat era digital menyertai kehidupan manusia, namun pada praktiknya tidak merata dilakukan di banyak universitas.

Selain model ini memerlukan perangkat lunak sebagai pendukung utamanya, kesiapan para dosen dan mahasiswa juga masih minim.

Koneksi internet di tanah air belum begitu memberi ruang murah bagi dunia pendidikan, kita masih harus keluar uang banyak untuk urusan data internet, apalagi di daerah pelosok yang jauh dari kota-kota berjuluk smartcity dengan dukungan akses digital memadai.

Tidak banyak dosen di daerah termasuk di Aceh yang melakukan kuliah daring sempurna, jika pun ada sebatas diskusi pada grup-grup whatsApp atau aplikasi chating lain yang menandakan dosen terhubung dengan kelas-kelas mahasiswa.

Kuliah online yang sesungguhnya dan dengan manajemen belajar kelas dunia maya masih belum diselenggarakan dengan maksimal apalagi belum ada juknis khusus yang dapat dijadikan acuan terutama di kampus-kampus ternama di Aceh.

Data pada Pusat Teknologi Informasi Pangkalan data UIN Ar-Raniry trend penggunaan email ar-raniry untuk kelas-kelas online menunjukan peningkatan yang signifikan di bulan Maret hingga April.

Meski penggunaan kelas daring dengan aplikasi class room belum menunjukan trend yang signifikan.

Aplikasi yang digunakan oleh dosen antara lain google classroom, google meet, aplikai Zoom, perpaduan google classroom dengan grup WhatsApp dan tutorial melalui youtube.

Secara nasional, Universitas Terbuka (UT) yang sejak lama telah melakukan model perkuliahan online, dalam masa Corona ini, menjadi lembaga perguruan tinggi yang telah siap secara teknologi perkuliah model daring.

Dalam pengumuman resmi, UT secara terbuka siap membantu setiap kampus di Indonesia yang memiliki kendala melaksanakan model kuliah daring.

Sampai di sini, UT yang semula dilirik sebelah mata sebagai pelaksana kuliah online mandiri bahkan sebagian lulusanya sering ‘dicemooh’, kini telah menjadi perguruan milik pemerintah yang sangat siap dengan kuliah online.

Diberitakan beritasatu.com, edisi 23 Maret 2020, Universitas Terbuka resmi membuka layanan Learning Management System (LMS) untuk perguruan tinggi negeri maupun swasta lainnya. LMS UT telah menjadi tulang punggung UT dalam menyediakan layanan online learning selama lebih dari 15 tahun. 

Fitur-fitur yang tersedia dikembangkan secara seksama agar ramah pengguna. UT memberi peluang kerjasama untuk kampus-kampus yang telah meniadakan kegiatan belajar tatap muka sementara.

Model kuliah kita saat ini masih dominan pada kelas konvensional  dan penggabungan dukungan alat peraga digital. Penugasan online dengan hasil karya berupa file PDF dan dapat diakses dengan mudah oleh dosen dan mahasiswa agak lumayan sudah banyak terlaksana.

Tetapi itu pun dengan dosen tertentu yang memiliki karakter adaptif pada kemajuan teknologi dan komunikasi, di mana mereka mampu mengimbangi gap atau jarak yang jauh antara generasi X dengan mahasiswa generasi millenial saat ini.

Kuliah daring tidak hanya berdampak kepada perubahan perilaku dan kesiapan model mengajar dosen, model ini juga menuntut mahasiswa peserta kuliah terlibat aktif dan terbuka kepada berbagai aplikasi belajar online.

Tentu ini bukan perkara mudah dan dapat dijangkau 100 persen, terutama saat berkaitan dengan fasilitas pendukung, karena pada pekan pertama memulai kuliah daring banyak persoalan muncul terutama pada keluhan pemakaian kuota internet yang tidak sedikit harus dikeluarkan oleh mahasiswa peserta kuliah.

Survei sederhana yang penulis lakukan pada 13 April melalui google form pada tujuh unit kelas yang diampu semasa perkuliahan daring, mendapatkan beberapa persoalan yang dihadapi mahasiswa antara lain, keluhan paket data yang melonjak, tidak normalnya layanan internet di daerah bukan wilayah kota, dan keluhan tertinggi adalah dosen yang tidak mau tahu keadaan mahasiswa saat kuliah online.

Sebagian besar mahasiswa peserta online mengharapkan kuliah daring dengan model tersedianya materi berupa tutorial atau bentuk ceramah singkat video yang bisa diunduh kapan saja tidak harus tepat waktu sesuai jadwal perkuliahan mahasiswa secara normal.

Hal yang terakhir dianggap oleh mahasiswa sangat meringankan dalam situasi kesiapan online yang belum merata.

Sosiolog dari Universitas Gajah Mada, Tya Pamungkas, seperti diberitakan tirto.id, edisi 17 Maret menyebutkan kebijakan kuliah secara online untuk mengantisipasi persebaran wabah virus Corona dinilai kurang efektif dilakukan di Indonesia, Selasa (17/3/2020).

Menurut Tya, kuliah online justru berdampak membebani mahasiswa terutama bagi mereka yang terbatas akses internetnya.

Tya lebih mengarahkan apa yang dilakukan di Malaysia, menurutnya lebih efektif bila dalam kondisi saat ini adalah memberikan penugasan kepada mahasiswa, sehingga mereka tidak harus hadir secara online untuk mengikuti perkuliahan.

Harusnya, menurut Tya ada penugasan bersifat offline dan merekam materi kuliah di Youtube lebih efektif, atau merekam di Soundcloud, atau podcast.

Mahasiswa tidak harus segera hadir secara online.

Kuliah daring artinya proses belajar yang terhubung dengan internet, baik melalui akun sosial media atau akun lainnya di mana kita berinteraksi di dunia maya.

Daring atau online adalah keadaan satu sama lain saling terhubung, bukan offline atau keadaan terputus.

Konsep kuliah daring menghendaki proses belajar mengajar itu terjadi, artinya interaksi tatap muka secara konvensional juga dapat terlaksana dalam model kuliah online, dengan kata lain dosen menjadikan kelasnya sebagai kelas virtual, yaitu kelas maya yang seolah nyata sebagaimana terjadi saat berinteraksi di kelas konvensional.

Jika merujuk kepada model kelas online di atas, tentu kesiapan digelarnya kelas online pada masa-masa yang tidak menentu seperti saat ini agak sedikit membingungkan bagi para dosen yang cuek pada kemajuan teknologi. 

Model dosen seperti ini masih ada di banyak kampus dan paling sering menemukan ‘benturan’ dengan mahasiswa yang lahir di era millenial. 

Masalah-masalah antara dosen generasi baby boomers dan generasi X, biasa lebih kepada soal etika dan sopan santun  saat pengerjaan tugas dan berkomunikasi di sosial media. Masih ada dosen yang tersingggung jika mahasiswa meminta izin tidak masuk kelas melalui saluran whatsApp.  Surat izin yang ditulis pada kertas saat kita kuliah zaman dulu dianggap masih sopan dan lebih beretika, inilah benturan generasi sesungguhnya.

Terdapat banyak aplikasi kuliah online yang dapat kita manfaatkan untuk mendukung proses belajar mengajar yang bertanggungjawab.

Google Classroom, misalnya, ruang kelas Google ini diperuntukan bagi gerakan kelas tanpa kertas yang mulai dijalankan di banyak universitas di dunia.

Selain kelas Google ada juga aplikasi e-learning seperti SEVIMA EdLink,  Moodle, Schoology, dan platform microblogging Edmodo yang lebih menjaga privasi antara pengajar dan mahasiswanya. Aplikasi e-learning di atas hanya sekian dari banyak model e-learning atau aplikasi belajar daring yang bertebaran dan dapat kita manfaatkan.

Dalam masa-masa siaga corona telah banyak langkah yang ditempuh dan  juga mengubah arah kebijakan kampus, termasuk di Aceh. Model pelaporan kegiatan belajar mengajar juga berubah drastis, para dosen dituntut memberikan laporan evaluasi sesuai model perkuliahan online.

Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry juga melakukan hal yang sama, bidang akademik pada kampus ini telah mengeluarkan ketentuan sebagaimana surat Edaran Rektor Nomor:4432/Un.08/R/SE/03/2020 Tentang Pemberlakuan Kerja Dari Rumah Bagi Para Tenaga Pendidik. Dalam edaran itu diamarkan agar setiap dosen memberlakukan kuliah daring (online) dengan memperhatikan bukti dokumentasi kuliah daring sesuai aplikasi yang digunakan dan memberi laporan secara berkala akan keberlangsungan kuliah daring.

Tidak hanya itu, pandemi ini juga telah melahirkan terobosan baru dalam program pengabdian masyarakat di sejumlah kampus sebagai bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi.

Kampus Ar-Raniry juga telah melahirkan konsep Kuliah Pengabdian Masyarakat Dari Rumah Inovatif (KPM-DRI). Semuanya dilakukan serba daring, termasuk supervisor yang biasa melakukannya secara manual kini sudah berubah dengan model bimbingan dan pengarahan secara online kepada mahasiswa.

Corona membuka cakrawala kita para dosen, pandemi ini telah mengajarkan kita untuk selalu siap menghadapi tantangan pada masa yang bergulir lebih cepat meninggalkan teori pada buku ajar yang kita baca. 

Kelas online yang dilaksanakan saat ini menuntut kita untuk siap menjadi ‘dosen virtual’ yang mampu membuka kelas-kelas maya seolah nyata adanya. Bukan kelas daring yang hanya sekadar mengirim pesan ke grup mengarahkan mahasiswa dan dengan bangga kita menyebut itu sebagai kelas online.

Dosen Virtual adalah keniscayaan, pengajar model ini akan wujud ke depannya karena generasi millenial dan generasi alpha yang lahir sekarang juga telah masuk pada kelas-kelas daring seperti pada aplikasi ruang guru karya anak bangsa yang sudah teruji, semakin diminati dan akan segera menggeser lembaga-lembaga bimbingan belajar yang masih bertebaran saat ini dan dengan harga paket yang masih mahal.

Belum terlambat, kita masih punya waktu untuk terus meningkatkan kapasitas diri, salah satunya mampu menjadi dosen virtual dengan konsep kelas-kelas modern pada  sistem kuliah daring yang sesungguhnya.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan perlu juga belajar dari kasus pandemi Covid-19, bahwa kelas virtual adalah kehendak alam yang tidak bisa diabaikan kehadirannya.

Mahasiswa zaman millennial juga sudah saatnya menyiapkan diri menghadapi zaman digital yang serba kompetitif, sehingga ke depan tidak akan terdengar lagi keluhan teknis yang menghadap model perkuliahan daring.

Dengan mengajar model ini, maka kita telah turut andil menjadi dosen yang bertanggungjawab kepada mahasiswa era digital. Jika tidak, maka bersiaplah para dosen dan kampus konvensional menjadi gerbong tua yang segera digeser oleh kehendak zaman.

Corona telah mengajari kita berbuat yang lebih baik di masa-masa sulit seperti saat ini. (Arif Ramdan)