Dominan Perilaku Mementingkan Diri Sendiri Menyebabkan Aceh Sulit Maju

Oleh: Dr. Zainuddin, SE.,M. Si.

ACEHSATU.COM – Tulisan ini merupakan sedikit analisis kualitatif sumbang pemikiran untuk Aceh tercinta. Daerah Aceh sebenarnya menjadi daerah yang makmur dan sejahtera di Indonesia, karena kandungan sumber daya alamnya yang mumpuni ditambah lagi permukaan buminya yang relatif subur.

Namun, kenyataan yang didapat bahwa Aceh menjadi yang paling tidak makmur diantara provinsi di Sumatera, dan ini sesuatu yang hampir tidak bisa kita percaya dan bahkan semestinya harus kita tolak label termiskin itu, akan tetapi apalah daya memang itu suatu keharusan kita terima karena kesalahan kita sendiri.

Ibarat sebuah tim bola kaki yang dihuni oleh pemain berkelas dengan kemampuan skil individu yang mumpuni tetapi kalah telak dalam sebuah pertandingan, karena diantara pemain bukan tujuan tim yang disukseskan melainkan tujuan individu para pemain, sehingga berlomba-lomba menguasai bola untuk mencetak gol ke gawang lawan tetapi itu tidak terjadi karena tim lawan dengan segap dan kompak secara tim dapat mematahkan skil individu dari tim lawan, sehingga tim yang kompak yang mengutamakan tujuan tim lah yang bisa mencetak gol yang banyak alias menang besar.

Bagaiamana dengan tim pelaku pembangunan di Aceh?

Mulai dari penyelenggara pemerintahan, masyarakat pembisnis, rakyat jelata, dan juga masyarakat pelajar atau mahasiswa yang mengaku cinta Aceh. Sejauh mata memandang dan sedikit mencoba menganalisis fenomena-fenomena yang muncul ditengah-tengah masyarakat Aceh dapat diuraikan sebagai berikut, yaitu kita mulai dari domain penyelenggaraan pemerintahan pemerintah Aceh yang diisi oleh intelektual dan berpengetahuan yang tidak bisa kita ragukan lagi keahlian dibidangnya.

Namun, yang paling penting penyelenggara pemerintahan (mulai eksekutif tingkat rendah hingga tinggi dan legeslatif) harus mampu mengahayati secara benar-benar bahwa anda sebenarnya bekerja dibiayai oleh rakyat dan untuk rakyat.

Oleh sebab itu, tim yang baik adalah  individu yang terlibat jangan sibuk memperkaya diri sendiri semisal ikut bermain proyek dan ber KKN ria. Apa contoh ber KKN ria bagi seoarang aparatur, yaitu dengan membocorkan informasi (tender, harga dan lain-lain) sebelum masanya kepada kolega sudah termasuk KKN,  apalagi ikut menikmati share profit dari sebuah program.

Terjadi perbedaan perlakuan pelayanan hanya karena berbeda status itu juga ber KKN ria, menerima pemberian alias suap dalam keadaan tertentu untuk tujuan keuntungan bagi penyuap serta membawa hukum keluarga di area publik itu juga KKN ria dan lain sebagainya.

Bagi legislatif sangat menentukan kenerja tim karena fungsinya menyangkut penganggaran dan pengawasan, jangan sampai program eksekutif luput dari pengawasan disebabkan sibuk memuaskan tim suksesnya dan parpolnya saja, karena setelah dilantik sebagai anggota legislatif harusnya kepentingan rakyat yang menjadi sasaran. Dan sesungguhnya gaji dan fasilitas yang diberikan kepada anggata dewan bukan dari tim sukses dan parpolnya melainkan dari uang publik.

Bila perilaku mementingkan diri sendriri akan berakibat terjadilah fenomena-fenomena seperti luput pengawasan atas program-program yang sudah disetujui, dan yang sangat disayangkan ketidakmampuan realisasi budget yang telah direncanakan atau SILPA, dan akhirnya tidak mungkin tecapainya pertumbuhan ekonomi untuk mencapai tujuan kemajuan alias kemakmuran bersama.

Sama seperti contoh tim bola kaki sebelumnya, dimana bila diantara personal penyelenggara pemerintahan tidak bisa mencetak prestasi diakibatkan sibuk dengan program yang mendatangkan keuntungan pribadi masing-masing, dan salah satu berkinerja buruk itu adalah ketidakmampuan merealisasi budget yang telah disusun sendiri dan banyak terjadi malpraktek, semisal program-program yang menghabiskan banyak dana belanja daerah akan tetapi dikelola secara acuh tak acuh (contoh yang paling viral masalah sapi kurus di Saree) yang merugikan Aceh secara umum yang luput dari pengawasan karena baru viral saat adanya lembaga swadaya masyarakat turun tangan.

Jadi anggota legislatif terpilih yang benar adalah harus merdeka tidak lagi terikat pada kelompok tertentu tetapi harus terikat pada rakyat secara umum baru bisa berperan maksimal dalam mengawal pembangunan, dan ini tidak mudah sepertinya apalagi faktor nilai-nilai yang berlaku ditengah-tengah masyarakat (soal nilai-nilai ini lain kali kita bahas)

Kemudian, masyarakat bisnis terutama yang berhubungan dengan proyek-proyek pemerintah, jika pelaku bisnis orientasi dominan ingin mencapai kepuasan pribadi atau individu maka akan berlaku sikap yang penting profit tak peduli halal haram, maknanya akan dilakukan apapun caranya untuk mendapatkan proyek dan diterimanya proyek tersebut dengan cara menyuap, dan jika berhasil mendapatkan proyek dengan menyuap sudah tentu jangan harapkan proyek dikerjakan dengan kualitas sesuai dengan ketentuan.

Oleh sebab itu, perilaku masyarakat bisnis terutama menyangkut program/proyek pemerintah semestinya tidak boleh dengan menghalalkan semua cara. Karena kebiasaan korupsi terjadi ada dua pihak yang terlibat, yaitu oknom ASN disatu pihak dan oknom masyarakat bisnis dilain pihak, dan ini tak akan terjadi bila ASN profesional dan taat azas. Dan rakyat jelata ikut menentukan kesuksesan pembangunan, yaitu dengan cara tetap tidak boleh mementingkan kepuasan pribadi sesaat yang akan berakibat kehancuran dalam waktu lama.

Seperti menerima suap atau pemberian untuk memberi vote kepada yang memberi untuk duduk atau menjadi pemimpin, padahal yang memberi suap itu tidak layak memimpin atau duduk dilegeslatif, karena rakyat hanya ingin puas sesaat terjadilah keadaan yang semstinya tidak terjadi dan akan menyesal untuk waktu lama, sehingga apa yang terjadi ramainya mengunjungi rakyat saat pemilu dan terlupakan sesudahnya.

Oleh sebab itu, rakyat jangan mau dibeli vote nya dan harus diberikan kepada yang layak menurut penilaiannnya tanpa embel-embel yang lain alias terikat dengan pemberian, baru kemudian lahir pengemudi pembangunan dapat dipercaya dan bisa sampai tujuan bersama.

Selanjutnya, masyarakat pelajar atau mahasiswa sebenarnya sangat strategis perannya untuk mengawal pembangunan menuju kemajuan jika mahasiswa itu bersikap independen.

Tetapi fenomena sekarang kadang-kadang terbaca mahasiswa sudah ditarik ke arena praktis dan hilangnya sikap kritis, sehingga bila ini terjadi tak banyak yang dapat diharapkan sumbangsihnya kepada pembangunan Aceh kedepan.

Mahasiswa juga dituntut mengutamakan kepentingan lebih luas atau umum jangan sampai hanya untuk kepentingan kelompok tertentu, apalagi mahasisawa menyuarakan sesuatu dengan pamrih atau mengharapkan imbalan, dan bila ini terjadi lagi-lagi arah pembangunan Aceh kedepan tak jauh bergerak dari yang sekarang.

Dengan kata  lain, pemain lain boleh tidak kompak mencapai tujuan tim, akan tetapi masih punya harapan apabila mahasiswa memiliki sikap kritis dan independen dalam mengawal dan memberi solusi kepada jalannya pembangunan Aceh tercinta.

Dengan demikian, harapan tim yang kompak secara tim bukan menampilkan keunggulan individu secara berlebihan adalah syarat untuk mencapai kemenangan. Dan apabila rakyat mau berperilaku objektif dan pantang disuap insya Allah kedepan dalam waktu tidak lama Aceh akan menjadi daerah yang makmur dan sejahtera.

Mudah sebenarnya menuju kekompak tim, yaitu perkuat saja tauhid dan bayangkan yaumil masyar dan disana tidak perlu apapun selain amal shaleh, maka dengan sendirinya tak akan pernah berlaku yang menyeretnya kehilangan amal shaleh, kenapa begitu karena ummat di Aceh hakul yakin bahwa hari akhir itu pasti ada. Mohon maaf jika salah, semoga Aceh tercinta makmur dan sejahtera akan tercapai. Amiin. (*)

(Penulis Adalah Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Serambi Mekah (USM) Aceh)

Lihat Video Ini: