Banda Aceh

Diskusikan Pelayanan Publik Banda Aceh, Kelompok Pemuda Ajukan Rekomendasi

Fasilitas publik lainnya yang menjadi perhatian khusus adalah di sektor infrastruktur bagi penyandang disabilitas yang dianggap masih kurang memadai.

Foto | Istimewa

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Kelompok pemuda yang berasal dari Jaringan Masyarakat Sipil Peduli Syariah (JMSPS), Youth Forum Aceh (YFA) dan Gerakan Pemuda untuk Perubahan (GEMPUR) ajukan rekomendasi bagi Pemerintah Kota Banda Aceh guna mendorong perbaikan dan pengembangan layanan publik yang inklusif.

Rekomedasi disampaikan usai pelaksanaan diskusi publik bertema “Mewujudkan Kota Banda Aceh Gemilang dalam Bingkai Syariat” di Aula Lantai 2 BAPPEDA Kota Banda Aceh.

Diskusi publik untuk merumuskan gambaran capaian dan juga rekomendasi-rekomendasi yang terkait fasilitas publik seperti Air PDAM yang sering bermasalah serta pemutusan air PDAM yang terjadi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, kebersihan lingkungan meliputi tempat sampah (tong sampah) yang tidak pada tempat seharusnya.

Contoh kasus kebersihan dipaparkan oleh salah satu peserta yang juga mengalami dampak dari kurangnya fasilitas tersebut.

Belum lagi armada kebersihan yang dijalankan sangat minim dan tidak terjadwal dengan baik dan benar serta tempat pembuangan sampah yang masih tidak teratur seperti yang ada di Darussalam tepat setelah turunan jembatan Lamnyong menuju ke arah Alue Naga atau Rukoh.

Hafriza selaku nara sumber dari  BAPPEDA sangat mengapresiasi masukan, saran, ide serta rekomendasi dari peserta yang hadir.

“Kita berharap diskusi seperti ini dapat sering dilakukan agar kita di pemerintahan khususnya Kota Banda Aceh dapat mengetahui akar masalah yang ada di Banda Aceh.,” papar Hafriza.

Menanggapi paparan yang dipresentasikan oleh kelompok pemuda bentukkan penyelenggara dalam mengambil rekomendasi yang diberikan. Dia juga akan mempertimbangkan beberapa poin diskusi yang disampaikan oleh peserta agar dapat dijalankan oleh Pemkot Kota Banda Aceh.

Fasilitas publik lainnya yang menjadi perhatian khusus adalah di sektor infrastruktur bagi penyandang disabilitas yang dianggap masih kurang memadai.

Fungsi Dana Desa yang lebih efesien dan bermanfaat, Program Bahasa Inggris di desa-desa menggunakan Dana Desa, evaluasi terhadap program yang diwacanakan serta yang telah di dijalankan.

Ifwan Sahara dari Komunitas Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia yang juga merupakan narasumber menyampaikan perhatian khususnya terhadap penyandang disabilitas.

Dia berharap dengan hadirnya diskusi seperti  ini dapat membuka ruang gerak bagi penyandang disabilitas.

“Saya setuju dengan poin atau rekomendasi dari salah satu kelompok peserta terkait ketika Khutbah Jum’at ada yang menjadi penterjemah bahasa isyarat,” ungkapnya.

Acara tersebut juga dihadiri oleh peserta dari berbagai latar belakang komunitas seperti Young Voice, PKBI, Flower Aceh, Pemuda Budha, Hakka Aceh, Himkus, Pemuda Katholik, Pemuda Muhammadiyah, Komite Persatuan Pemuda Aceh (KoPPA), Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia dan komunitas lainnya.

Wahyu Rahmatika Zainul selaku penyelenggara kegiatan dari Komunitas Youth Forum Aceh (YFA) menyampaikan terima kasih kepada peserta yang berhadir dan berharap agar hasil diskusi berupa rekomendasi kelompok pemuda ini dapat dengan segera dijalankan oleh Pemko  Banda Aceh.

“Semoga rekomendasi dari anak-anak muda hari ini dapat diaktualisasikan oleh Bapak Walikota Banda Aceh,” harapnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top