Dilema Gampong Pande

Perlu dicatat, Gampong Pande adalah salah satu gampong yang berada dalam kawasan padat situs sejarah di mana bukti-bukti sejarah Aceh Darussalam dari abad ke-9 hijriah (ke-15 masehi) sampai ke-11 hijriah (ke-17 masehi) dijumpai dalam jumlah besar.
Gampong Pande
Situs cagar budaya di Gampông Pande.( Foto Acehsatu)

ACEHSATU.COM | OPINI – Sejarah yang baik melahirkan perubahan yang baik, sementara Sejarah yang buruk membuahkan hal buruk pula. Itulah pelajaran-pelajaran yang berharga manakala kita kaji dan telaah betul akan proses dan buah dari sejarah (Q.S. 12: 111, “laqad kana fi qashasihim ‘ibratun li ulil albab”).

Kita sering membaca atau mendengar paparan guru pelajaran SKI (Sejarah Kebudayaan Islam) di madrasah, yang intinya peninggalan kebudayaan islam sangat penting diketahui oleh ummat, baik masa kini maupun masa depan.

Namun Realita dilapangan nasib situs cagar budaya Di gampông pande, Banda Acèh sungguh disayangkan.

Kepentingan koneksi Sejarah Islam di Acèh dengan peristiwa Hijrah Rasulullah mesti terhubung, sebab Acèh adalah wilayah paling awal di Asia Tenggara menerima kalimat Tauhid.

Situs cagar budaya di Gampông Pande.( Foto Acehsatu)
Situs cagar budaya di Gampông Pande.( Foto Acehsatu)

Maka, warisan dan jejak Islam di Gampông Pande, wajib kita jaga dan lestarikan demi tanggung jawab kepada generasi kita selanjutnya.

Pak Walikota Banda Acèh yang terhormat, mohon luangkan sedikit perhatian kepada peninggalan Sejarah Islam yang kita miliki bersama.

Perlu dicatat, Gampong Pande adalah salah satu gampong yang berada dalam kawasan padat situs sejarah di mana bukti-bukti sejarah Aceh Darussalam dari abad ke-9 hijriah (ke-15 masehi) sampai ke-11 hijriah (ke-17 masehi) dijumpai dalam jumlah besar.

Kawasan itu sesungguhnya membentang di antara tiga batang air: Krueng Dhoe-Arosan di barat dan utara, Krueng Aceh di timur, dan Krueng Daroy di selatan.

Daratan yang dikelilingi air dari seluruh sisinya ini, sebagaimana tampil dalam sebuah peta dibuat pada tahun 1833 oleh kartografer Belanda.

Merupakan kawasan paling utama dalam masa sejarah Aceh Darussalam sebab merupakan daratan yang acap kali terpilih menjadi pusat pemerintahan, terutama dalam masa-masa puncak kemajuannya.

Namun, kawasan yang sangat penting bagi sejarah Aceh Darussalam ini telah mengalami perubahan yang dahsyat sejak lama, dan sampai hari ini masih terus menyaksikan perubahan yang sama sekali tidak mengindahkan nilai kesejarahannya. Tidak terkecuali Kecamatan Kutaraja.

Di wilayah itu tampak beberapa areal yang telah ditimbun, yang mengakibatkan bukti-bukti sejarah tersebut lenyap untuk selamanya.

Oleh karena itu, saya ingin sedikit memberi pandangan dari sisi lain, selain perlindungan cagar budaya di kawasan tersebut, proyek yang sedang dikerjakan tidak terhenti.

Maka anggaran IPAL tersebut dialih penggunaan kepada fasilitas kepentingan cagar budaya di tempat yang telah dibebaskan untuk pembangunan IPAL, yang fungsinya kemudian untuk kepentingan kebudayaan Islam

Anggaran tesebut juga dipakai untuk relokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kota Banda Aceh.

Mengingat kawasan muara Krueng Aceh adalah satu-satunya tempat wisata pantai paling indan dan banyak di kunjungi oleh warga Banda Aceh dan sekitarnya, dan wisatawan dari Malaysia, kususnya pada hari Ahad sore.

Lokasi IPAL dan TPA Tidak Layak Berada di kawasan Tersebut

Suguhan panorama sunset dan tarik pukat darat merupakan daya tarik bagi wisatawan. Bayangkan betapa butanya Pemko Kota Banda Aceh, membiarkan warga kota dan wisatawan manca negara berwisata ke kawasan sampah dan penampungan taik. Keindahan ciptaan tuhan telah di nodai oleh tangan zalim penguasa.

Lingkungan muara sungai Krueng Aceh sisi baratnya merupakan tempat paling eksotis yang tersisa di kota banda Aceh. Lingkungan indah inilah yang dijadikan oleh Pemko Banda Aceh menjadinya tempat paling jorok dan kotor di Banda Aceh. Sedangkan sisi timurnya telah dibangun pelabuhan pendaratan ikan (TPI).

Saya bukan warga asli Banda Aceh. Tetapi, saya berasal dari Lhokseumawe, begitu juga dengan Pak Walikota Banda Aceh, beliau bukan asli Banda Aceh, tetapi beliau berasal dari Meulaboh, Aceh Barat.

Terlepas dari mana asal kita, mari sama-saama kita menjaga marwah dan yang terbaik untuk kota Banda Aceh sebagai kota Provinsi.

Penulis: Tgk Saleh M Yatim
Pengamat Culture Kemaritiman Aceh