oleh

Demokrasi Dikebiri, PEMIRA Unsyiah Gagal

-Suara Anda-194 views

ACEHSATU.COM — Pemilihan Raya Universitas Syiah Kuala 2019 berlangsung tidak kondusif dan diwarnai dengan kecurangan-kecurangan yang terjadi di beberapa fakultas.

Pemilihan Raya Mahasiswa (PEMIRA) yang seharusnya menjadi laboratorium demokrasi di Unsyiah, tercoreng karena ada beberapa oknum yang mencederai proses tersebut.

Beberapa kecurangan terjadi diantaranya di Fakultas Teknik dan Fakultas Kelautan dan Perikanan.

Di fakultas teknik beberapa saksi di usir dengan alasan yang tidak konkrit bahkan proses perhitungan suara juga berlangsung tertutup dan tidak dapat disaksikan oleh semua pihak, yang lebih disayangkan bahkan Ketua Komisi Pemilihan Raya (KPR) Muhammad Reyfandi tidak diperbolehkan menyaksikan perhitungan suara oleh oknum dari Fakultas Teknik.

Seharusnya KPR yang merupakan lembaga independen dalam penyelenggaraan PEMIRA ini berhak memastikan PEMIRA berlangsung aman dan terbebas dari kecurangan-kecurangan namun dengan sikap yang tidak humanis yang dilakukan oleh beberapa oknum membuat indepedensi dan hak-hak KPR tercederai.

Yang lebih disayangkan lagi kejadian-kejadian seperti diatas disaksikan oleh Wakil Dekan III Teknik dan pihak yang bersangkutan tidak bersikap sama sekali.

BACA: Demokrasi RI Diyakini Kian Kelam di Periode Ke-2 Jokowi, Kenapa?

Kejadian-kejadian kecurangan ini tidak hanya terjadi di tahun ini, setiap tahunnya Fakultas Teknik juga seakan menjadi fakultas yang sangat mencekam dalam proses PEMIRA.

Sikap represif dari oknum-oknum di Fakultas Teknik tidak pernah ditindak secara tegas dan seakan pihak dekanan dan rektorat membiarkan dan menyokong aksi ini terus terjadi setiap tahunnya.

Proses demokrasi yang seharusnya berlangsung terbuka, humanis dan terbebas dari intervensi seakan tidak tergambar sama sekali di Fakultas ini.

Di Fakultas Kelautan dan Perikanan  kecurangan lain juga terjadi, kertas suara yang diberikan kepada pemilih lebih dari satu kertas suara, di dalam lipatan satu kertas suara terdapat dua sampai tiga kertas suara di dalamnya.

Hal ini merupakan kecurangan yang sangat serius dan mencederai proses demokrasi di Unsyiah.

Hal semacam ini perlu penindakan keras dari pihak kampus.

Jika terus menerus kejadian yang sama terjadi, maka kampus Unsyiah yang merupakan Universitas yang terkemuka dapat dipertanyakan.

Jika dalam proses demokrasi saja pihak Unsyiah tidak mampu mengakamodir dengan baik, lalu bagaiman dengan hal-hal lainnya.

BACA: Selamat Jalan Bapak Demokrasi

Pemilihan Raya Universitas Syiah Kuala 2019 cacar demokrasi dan mencederai moral.

Oknum pejabat civitas akademika yang semestinya menjaga moral dan mendidik mahasiswa agar berperilaku baik, amanah dan jujur malah mempertontonkan cara-cara yang jauh dari nilai moral.

Oknum tersebut sangat berani bertindak konyol dengan memainkan praktik kotor yang kentara.

Bagaimana tidak, perhitungan suara yang seharusnya terbuka untuk umum malah dilaksanakan secara tertutup dengan dalih kondusifitas. Ini tentu tidak bisa dibiarkan, hal ini bisa menjadi persentase buruk untuk demokrasi kampus sebagai miniatur politik Aceh bahkan nasional.

Kalau pihak rektorat membiarkan ini maka PEMIRA Unsyiah tidak perlu lagi untuk dilakukan.

Lebih baik mekanisme yang dijalankan yaitu penunjukan secara langsung, hal ini tentu akan lebih hemat biaya, hemat tenaga.

BACA: Demokrat Minta Jokowi Soal Jiwasraya Tak Salahkan Sejarah, Silakan Tuan Perintahkan Usut Tuntas

Perhitungan suara merupakan puncak proses PEMIRA dan sangat sakral.

Dalam hal ini tentu mahasiswa Unsyiah menuntut keadilan.

Tuntutan ini bagian dari pembelajaran bagi Mahasiswa Unsyiah mencari keadilan di rumah besar Universitas Syiah Kuala yang sangat dibanggakan.

Mahasiswa tentu ingin berdamai dengan keadilan dan berontak untuk kecurangan serta menolak upaya pengkebirian demokrasi kampus. (*)

Penulis adalah mahasiswa Unsyiah (Identitas lengkap ada di Redaksi)

Komentar

Indeks Berita