Laporan: Irfan Habibi

ACEHSATU.COM | JAKARTA – Massa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Santri dan Pemuda Indonesia (Gemaspi) melakukan aksi demonstrasi terkait problematika kontestasi politik dan pemilu 2019 di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) pada Jum’at (17/5).

Aksi yang diikuti oleh ratusan massa selama kurang lebih lima jam itu sempat diwarnai dengan kericuhan. Dorong-dorongan terjadi antara massa dengan pihak yang mengawal keamanan demontrasi tersebut.

BACA: Aksi Demo Pemilu Curang di Kantor Panwaslih Aceh, Massa Desak Diskualifikasikan Capres 01

BACA: Hanya Dibayar 30 Persen, Rekanan Overhoul 3 Pesawat Patroli Gugat Dinas Perhubungan Aceh

Mereka menuntut pihak DPR-RI selaku wakil rakyat untuk tak lagi berdiam diri terkait polemik suhu politik yang semakin memanas pada pesta demokrasi kali ini.

Koordinator aksi, Husnul Jamil dalam orasinya mengatakan kehadiran pihaknya ke DPR-RI sebagai bentuk protes mahasiswa dan santri serta pemuda Indonesia terhadap kegagalan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI dalam menyelenggara pemilu.

BACA: Sebanyak 14 OKP Mahasiswa Jakarta Tolak Hasil Pemilu 2019

“Kami mahasiswa, santri dan pemuda Indonesia hadir di tengah iklim politik yang semakin memanas, politik adu domba menjadi senjata bagi para elit dalam membangun opini yang bersifat agitasi dan propaganda,” ujarnya.

Oleh sebab itu, ia mewakili Gemaspi menegaskan bahwa mahasiswa tidak akan diam, satu di bungkam maka seribu akan melawan.

“Kami hadir untuk mempertanyakan kedaulatan bangsa kepada Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia yang merupakan representatif serta manifestasi atas kekuasaan rakyat kepada negara,” terangnya.

BACA: Surat Wasiat Prabowo sudah Jadi, Ada Tiga Poin Utama, Kapan Dirilis? Berikut Penjelasannya

Massa Demo yang tergabung dalam Gemaspi di depan Gedung DPR RI, Jakarta pada Jum’at (18/5/2019).

Ia mengatakan, kedaulatan sekarang sedang berada diambang kehancuran.

Menurut Husnul, seharusnya pemilu menjadi langkah awal dalam menyusun visi misi serta strategi pambangunan bangsa ini malah menjadi tragedi sesama anak bangsa.

Bedasarkan perihal tersebut, mereka mendesak DPR RI/MPR RI segera membentuk panitia khusus (pansus) tim pencari fakta kecurangan pemilu tahun 2019, apabila pansus tidak terbentuk, maka Gemaspi tetap menolak hasil pemilu 2019. Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI juga harus bersikap berani mengambil keputusan serta mendiskualifikasi pasangan calon (paslon) yang telah melakukan kecurangan.

BACA: Diminta Terima Hasil Pilpres, BPN: Kami Punya Hak untuk Menolak, Ada Aturan Hukumnya

Selanjutnya, kematian anggota Komisi Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) menjadi tanda tanya besar di kalangan masyarakat, kematian yang terstruktur, sistematis dan massal menjadi tragedi dalam penyelenggara pemilu tahun 2019.

Ia mendesak Pemerintah seharusnya tidak hanya memberikan santunan kematian terhadap pejuang demokrasi, namun dalang dibalik kematian tersebut harus diungkap secara lugas di hadapan publik.

“Dari data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang kami terima, sebanyak 527 orang meninggal dunia atas penyelenggara pemilu merupakan tragedi kemanusiaan. Oleh sebab itu, kami mahasiswa santri dan pemuda Indonesia yang terhimpun dalan aliansi Gemaspi menggugat yang diantaranya; Mendesak DPR/MPR RI membentuk pansus tim pencari fakta kecurangan pemilu 2019, mengusut tuntas kematian anggota KPPS di seluruh Indonesia, menolak hasil pemilu 2019, KPU RI dan Bawaslu RI harus bertanggung jawab atas kegagalan sistem dan mekanisme pemilu 2019, dan mendesak Bawaslu RI untuk mendiskualifikasi paslon yang melakukan kecurangan,” lanjutnya.

BACA: FPI Aceh Geruduk Kantor Panwaslih Lhokseumawe

Tak hanya itu, mereka juga mendesak kepada DPR RI/MPR RI dan bawaslu RI agar segera secepatnya membentuk Pansus Tim Pencari Fakta dan mengungkap dalang dibalik kematian tersebut.

“Apabila tuntutan kami tidak diindahkan, maka kami meminta kepada seluruh rakyat Indonesia untuk bangkit melawan,” lanjutnya lagi.

Adapun massa aksi yang tergabung dalam Gemaspi merupakan komponen dari kumpulan mahasiswa, santri, pemuda dan rakyat diwilayah Jabotabek Banten. (*)