Demi Perjuangkan Pabrik Sawit di Daerahnya, Bupati Abdya Ini Tanggung Kerugian Ratusan Juta Perbulanny

Perjalanan panjang Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) Akmal Ibrahim memperjuangkan berdirinya pabrik kelapa sawit (PKS) di daerahnya akhirnya terwujud meskipun mantan wartawan itu harus menanggung kerugian mencapai Rp180 juta setiap bulan.
Foto: Ilustrasi Pabrik Sawit, Sumber: Jawapos.com

ACEHSATU.COM | BLANGPIDIE – Perjalanan panjang Bupati Abdya Akmal Ibrahim memperjuangkan berdirinya pabrik kelapa sawit (PKS) di daerahnya akhirnya terwujud meskipun mantan wartawan itu harus menanggung kerugian mencapai Rp180 juta setiap bulan.

“Demi berdirinya PKS di Kabupaten Abdya, saya rela rugi Rp6 juta per hari, atau Rp180 juta per bulan asalkan harga TBS milik masyarakat petani tidak lagi dipermainkan,” kata Bupati Abdya Akmal Ibrahim di Blangpidie, Sabtu.

Foto: Ilustrasi Pabrik Sawit, Sumber: Jawapos.com

Kerugian tersebut dialami Akmal Ibrahim karena tidak lagi menjual TBS sawit hasil kebunnya ke pabrik di Kabupaten Nagan Raya. Padahal, pabrik di Nagan Raya membeli TBS sawit miliknya dengan harga tinggi.

Menurut Akmal Ibrahim, hal itu dilakukannya karena menepati janji. Dulu, dirinya berjanji jika PKS swasta didirikan di Abdya semua TBS dari kebunnya dijual pada pabrik setempat asalkan pihak perusahaan tidak kongkalikong dengan pengusaha lain soal penetapan harga TBS.

“Alhamdulillah, sekarang sudah ada PKS milik PT Mon Jambe. Mereka juga sudah mulai membeli TBS milik petani dengan harga mahal. Jadi, biarkan saya rugi asalkan harga TBS milik rakyat saya dibeli mahal,” paparnya.

Akmal Ibraihim menceritakan sebelum pabrik PT Mon Jambe-Babahrot, beroperasi, semua TBS kelapa sawit yang dipanen dari kebun miliknya dijual ke pabrik di Kabupaten Nagan Raya dengan harga mahal.

“Sawit saya itu kualitas super, bibit Socfindo, rendemen tinggi, makanya dibeli dengan harga mahal. Rata-rata Rp300 per kilogram lebih tinggi dari harga TBS masyarakat karena rendemennya tinggi mencapai 28 persen,” katanya.

Selain dibeli dengan harga mahal, truk pengangkut TBS milik Akmal Ibrahim yang dipanenkan setiap hari mencapai 20 ton, tidak harus antre di pabrik-pabrik karena TBS kelapa sawit milik kepala daerah itu kualitas super.

“Kebun saya di Kecamatan Babahrot. Bibitnya dari Socfindo, saya tanam semasa Aceh dilanda konflik, sebelum jadi bupati. Sekarang sudah berumur sekitar 20 tahun. Setiap hari panen sekitar dua truk atau 20 ton,” ucapnya.

Namun, tambah Akmal, setelah PKS di Babahrot berdiri dan beroperasi, semua TBS kelapa sawit yang dipanen dari kebunnya dijual kepada PT Mon Jambe dengan harga seperti harga yang dibeli pada masyarakat petani lainnya.

“Misalnya hari ini, harga TBS di PT Mon Jambee Rp2300 per kg. Harga sawit saya segitu juga dibayarnya. Padahal pabrik Nagan Raya lebih mahal Rp300 per kg tapi saya tetap jual ke Mon Jambe untuk menepati janji,” kata Akmal Ibrahim.