oleh

Debat tanpa Suara

POLITIK butuh pencitraan.

Sebuah usaha yang dilakukan dengan sekuat tenaga agar menciptakan persepsi positif.

Konstruksi imajinasi pun perlu dibangun, supaya apa yang muncul, tampak lebih baik dari realita.

Karena itu, ia membutuhkan sebuah medium.

Lantas, debat pun dianggap perlu.

Kita tidak berada pada 5 abad sebelum masehi.

Ketika Socrates menjadikan perdebatan sebagai suatu bentuk penelaahan filosofis dengan mengeksplorasi implikasi dari posisi lawan bicara untuk merangsang munculnya pemikiran rasional dan gagasan baru.

Ketika setiap pernyataan membutuhkan argumen dialektis, atau apa yang biasa disebut elenchus, yang berarti menguji (putting to test), atau pembuktian, (refutation).

Setelah berabad-abad lamanya debat pun menjadi ajang selebritas.

Mirip seperti iklan; menyampaikan pesan.

BACA: Hukum Publik Versus Fakta Politik

Segala upaya dilakukan mengajak orang untuk percaya pada apa yang disajikan, pada sebuah sublim, meskipun terkadang terlanjur lahir dengan cacat bawaan.

Jika setiap produk menghasilkan nilai, maka debat menghasilkan komodifikasi persona yang dapat ditukar dengan suara atau elektabilitas.

Debat tanpa suara. Dok. ACEHSATU.com

Siapa yang peduli?

Seperti lakon, meskipun objektivitasnya diragukan, toh orang dapat menikmatinya sebagai sebuah hiburan.

Kita menikmati lakon sebagai sebuah hiburan, ketika setiap tokoh hadir untuk merepresentasikan dirinya sendiri.

Dalam Mahabrata, ada sosok Arjuna, seorang ksatria yang berhati lembut.

Sengkuni, sosok cerdas yang berhati picik, ataupun Bima, sosok yang berkarakter tempramen, namun berhati lembut.

BACA: Petani dan Janji Jokowi

Pada akhirnya, debat pun menjadi sebuah lakon yang dibumbui dramatisasi dalam setiap sesinya.

Namun pada debat, sepertinya kita tidak tahu representasi karakter tokoh utama.

Karena sesungguhnya mereka ada di belakang panggung, dengan embel-embel yang bernama tim kampanye.

Di zaman industrialisasi komersialisme seperti sekarang ini, debat pun hanya menghasilkan bunyi tanpa suara.

Seperti hingar bingar, klakson, deru mesin, piring yang pecah……

Komentar

Indeks Berita