DAS Krueng Meureudu Kini Terancam?

Oleh : Dr. Zainuddin, SE.,M. Si.

ACEHSATU.COM – Termasuk sangat langka sebuah wilayah yang dibatasi oleh dua sungai, salah satunya Kecamatan Meureudu yang ada di wilayah otonomi Pidie Jaya. Kecamatan Meureudu dibatasi oleh dua sungai yang apik, yaitu di sebelah timur ada sungai krueng (sungai) Meureudu dan di sebelah barat ada krueng (sungai) Beuracan.

Kedua sungai tersebut memiliki kisah dan keunggulan yang sangat vital terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya dan bahkan bukan hanya masyarakat dalam wilayah Meureudu saja melainkan beberapa kecamatan tetangga.

Krueng Beuracan yang memanjang dari kualanya (hilir) pantai selat malaka hingga ke pucoknya (hulu) di pedalaman pegunungan bukit barisan sungguh amat sangat memberi manfaat ekonomi kepada rakyat yang mendiami di sepanjang krueng tersebut.

Ada banyak lahan pertanian rakyat yang sumber air nya dari Krueng Beuracan, seperti area sawah yang luas pada Blang Beuracan (blang artinya sawah) termasuk didalamnya Blang Lhokmienyek, Blang Pangwa, Blang Cot Maken, Blang Panteen Kulat, Blang Panteen Pupu, Blang Teurace, dan Blang Alue Deumam.

Sungguh, bila direnungkan tidak cukup angka nilai terhadap seberapa penting Krueng Beuracan bagi kehidupan rakyat disana.

Sudah sewindu lebih di Krueng Beuracan dibuat irigasi teknis dengan nama irigasi Lhokmienyek yang dapat mengaliri secara teknis dua area sawah besar, yaitu blang Beuracan dan Blang Cot Maken serta Blang Pangwa, mereka bisa setiap waktu bercocok tanam karena ketersediaan air yang bersumber dari Krueng Beuracan dan beberapa waktu yang lalu pun telah ada irigasi di Alue Deumam guna mengaliri blang (sawah) di sana.

Tidak hanya mengaliri persawahan saja, Krueng Beuraca juga memberi semacam bonus di sepanjang Pante (area pantai sungai) kepada masyarakat di sana bercocok tanam.

Seingat saya tahun 1990 an ke bawah kami penduduk Beuracan sering bercocok tanam di Pante Krueng Beuracan seperti bertanam bawang merah dan cabe yang mempergunakan air Krueng Beuracan untuk menyiramnya, dan Krueng Beuracan juga merupakan tempat minum dan berendam hewan ternak rakyat seperti kerbau, sapi, bebek, dan lainnya.

Oleh sebab itu, bila kita hubungkan dengan cerita kehidupan di wilayah Beuracan dan sekitarnya, maka Krueng Beuracan lah sumbernya, dan tak dapat dibayangkan apabila krueng Beuracan itu menderita kering, maka akan dapat dipastikan akan terjadi malapetaka ekonomi dahsyat bagi rakyat di sekitanya.

Dibalik itu, ada sedikit kisah yang patut untuk diketahui dan harus dipahami secara keilmuan rasional dan ghaib secara agama.

Bahwa krueng Beuracan itu termasuk krueng tempat berwudhunya para alim ulama dan ambiya, hal ini bisa dibuktikan disana ada yang namanya seorang ambiya Tungku Di Pucok Krueng dan kuburannya ada sekitar hulu krueng Beuracan dan sebagai bukti lain yang bisa kita lihat adalah adanya Masjid Tgk Dipucok Krueng dan guci (kendi) besar di jalan Banda Aceh – Medan tepatnya di wilayah Beuracan, dan banyak lagi para alim  serta kuburannya juga di daerah hulu krueng Beuracan.

Maknanya dari itu semua bahwa krueng Beuracan itu memang memiliki nilai-nilai religius dan tidak boleh kita untuk eforia secara berlebihan.

Kemudian, ada keunikan dari hulu krueng Beuracan itu dialiri dua krueng yang eksotis, yaitu krueng pinang yang airnya dingin dan krueng inong yang airnya hangat-hangat kuku, serta semakin kita ke hulu ada yang namanya ie kheb (air berbua tanah cempaga), artinya air krueng Beuracan itu penuh dengan khasiat dan sehat untuk rakyat sekitar, untuk keperluan pertanian serta hewan-hewan yang ada di sana.

Mengenai krueng Meureudu yang hilirnya di Kuala Meureudu Selat Malaka dan hulunya sama dengan krueng Beuracan di pedalaman bukit barisan, dan krueng ini malah lebih besar dari krueng Beuracan dan debit airnya pun sedikit lebih besar juga cerita lebih kurang sama dengan kawannya yang di Beuracan.

Krueng Meureudu juga merupakan sumber kehidupan untuk rakyat disekitarnya dan mengaliri hamparan persawahan yang luas, seperti mengaliri blang Meureudu, Blang Raya untuk Kecamatan Meurah Dua dan Ulim.

Kemudian, di krueng Meureudu juga ada irigasi Blang Awe dan irigasi Lhoksandeng, dan bahkan air krueng Meureudu dijadikan sumber air pada PDAM Pijay.

Selanjutnya, Krueng Meureudu juga lebih kurang sama dengan Krueng Beuracan di sepanjang pantee nya dipergunakan oleh rakyat di sana, dan juga memiliki cerita khas mengenai ikan Keureuling yang notabene besar-besar di sekitar hulunya.

Krueng Meureudu juga merupakan tempat berwudhu nya para alim dan ambiya, dengan bukti bahwa ada masjid Kuta Batee dan situ ada bambu berwarna kuning yang tumbuh dari zaman dulu hingga sekarang tidak berubah, dan oleh sebab itu di sepanjang krueng Meureudu tidak boleh efouria secara berlebihan jika ingin selamat.

Sungguh indah Kecamatan Meureudu yang diapit oleh dua buah sungai dan di tengah-tengahnya ada anak sungai atau alue, yaitu Alue Beuriweuh.

Lengkaplah sudah anugerah potensi pengembangan pertanian, perternakan dan perkebunan di Pijay khususnya di Kecamatan Meureudu dan sekitanya apabila pemangku kepentingan Pijay bersungguh-sungguh ingin melakukan pengembangan secara terukur, efektif, efesien dan ekonomisasi terhadap potensi yang ada.

Namun, keberadaan dua krueng, baik krueng Beuracan maupun krueng Meureudu tidak hanya memberi manfaat ketersediaan air bagi kehidupan rakyat sekitarnya, melainkan secara terus menerus dilakukan penambangan galian C, diambil pasir dan batu secara masif berskala besar dan bahkan ada yang memakai alat berat (becho) untuk mengeruk pasir di dua sungai tersebut.

Ada cerita yang sungguh pilu dulu sekali ada eksploitasi berlebihan tentang mengambil pasir di krueng Beuracan dengan memakai damtruk Toyota kepala buaya hingga menggilas satu orang penduduk beserta anaknya (kalau tidak salah bernama M. Daud) dengan kepala pecah dan mati di tempat itu terjadi kira-kira tahun berapa–sudah lupa saya–, tapi barangkali masyarakat Beuracan tahu hal tersebut karena kejadiannya tepat di Desa Kulam Beuracan Simpang Singke Ujok waktu itu.

Dan ekploitasi tambang galian C masih terjadi hingga sekarang di dua sungai tersebut, maknanya beban kedua sungai tersebut terlalu berat, jangan-jangan keberlangsungan kehidupan di sepanjang sungai bisa terusik karenanya apabila pemangku kepentingan tidak melakukan tindakan perlakuan manajemen standar operasional penambangan galian C yang melindungi sungai dan rakyat sekitar.

Perlindungan terhadap kedua sungai, baik krueng Beuracan maupun krueng Meureudu bukan hanya memprotek tambang galian C akan tetapi haru komprehensif menyeluruh dari hulunya berupa perlindungan hutan sebagai wadah penyedia air.

Pemangku kepentingan yang ada di Pijay harus dapat memastikan hulu kedua sungai memiliki pohon-pohon hutan yang memadai untuk menjamin ketersediaan air, dan bukan bermaksud melarang rakyat untuk beraktivitas di hulu sungai, tetapi memastikan setiap pohon ditebang harus ada penanaman kembali berbanding harus lebih banyak yang ditaman.

Pentingnya merawat sungai demi menjamin keberlanjutan kehidupan di sana, karena diakui atau pun tidak bahwa kenyataannya krueng Beuracan dan krueng Meureudu lah yang selama ini bisa membuat rakyat sekitar tersenyum dan kenyang.

Demikian, tulisan pendek terpanggil sebagai nostalgia saya sebagai putra Meureudu khususnya awak Beuracan dan sumbang sekelumit pemikiran untuk keberlanjutan ekosistem alam yang bermanfaat untuk rakyat demi khusu’ nya kita beribadah menghimpun amal yang berguna dalam rangka mencapai ridha Allah SWT demi masa depan yang barakah.

Dan kepada pemangku kepentingan harus berpikir jauh ke depan jangan sampai ekploitasi dua sungai itu tidak terencana dengan matang serta harus ada pengendalian yang merujuk pada peraturan-peraturan baik undang-undang, qanun-qanun serta lainnya agar kedua sungai tersebut bisa asri dan berlanjut hingga anak cucu demi kehidupan masa depan. Amiin. (*)

(Penulis Adalah Dosen Fakultas Ekonomi USM Aceh, Putra Asli Beuracan Pidie Jaya)