Kolom Muhrain

Dari Aceh hingga Ambon: Menolak Kode Puisi “Konde” pada Puisi Sukmawati

Beberapa puisi dari Ambon dan Aceh sebagai puisi balasan terhadap puisi Sukmawati yang dilawan oleh para penyair.

Foto | https://www.kutaikartanegara.com

*Edisi Kritik Puisi Berbalas Puisi

Sejak puisi berbias perlawanannya atas satu ide yang diusungnya, maka puisi menjadi labirin, kotak Pandora juga bagaikan lorong gelap.

Indonesia di awal April 2018 dihebohkan peristiwa pembacaan puisi oleh Sukmawati, jengah terhadap kondisi yang menurutnya penting disuarakan ke dalam bentuk puisi, Sukmawati malah mendapatkan perlawanan puisi atas puisinya.

Terkait bergulirnya perlawanan terhadap puisi Sukmawati yang bertajuk “Ibu Indonesia” dapat dipantau dari pemberitaan media massa online, ada juga di laman facebook, Instagram dan website, akun grup WhatsApp dll.

Berikut ini sekelumit rangkuman puisi menolak “Kode: Konde” atas apa yang bagi penulisnya mesti mendapatkan tempat terutama dalam kesusastraan puisi Indonesia masa kini, namun malah jadi viral sebab dilawan.

Dari Aceh hingga ke Ambon sana, para penyair Indonesia di daerah mulai menunjukkan perlawanan terhadap puisi Sukmawati dengan puisi pula.

Berikut isi lengkap puisi Sukmawati tersebut:

Ibu Indonesia
Oleh: Sukmawati

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat 
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

Puisi balasan terhadap puisi Sukmawati tersebut.

AMBON

Biarlah Allah tetap Akbar, Islam tetap takbir.

SIOH NONA RAHMAWATI
Oleh: Rudi Fofid

Perkenalkan, Nona
Ini beta, beta punya nama Bung
Kawan berjuang Bung Karno
Sioh Nona, ale sudah besar dan cantik
Apa kabar Guruh? Apakah dia gemuruh?
Apa kabar Guntur? Apakah dia gelegar?
Apa kabar Taufan? Apakah dia amuk?
Apa kabar Mega? Apakah hatinya putih?
Apa kabar Sukma? Bagaimana jiwanya?
Apa kabar Bayu? Masihkah bertiup?
Gara-gara Bung Karno itulah
Beta namakan puteri kandung El Nino dan La Nina
Karena Ibu Pertiwi butuh badai-badai
Seperti buka kotak pandora
Seperti pecah air ketuban
Agar kita bisa sampai di pintu gerbang
Kemerdekaan, kedamaian, kemakmuran

Jangan canggung, Nona, ini Bumi cengkih-pala
Kenalkan, ini putra kandung beta Fahmi Pelu
Dia sangat sastrawi, seperti Imam Ridjali 
Ayo mari naik sampan ke Pulau Ibu
Jangan takut ombak yang manis ini
Biarkan dia jilat sedikit kaki kebaya cantikmu
Tidak lama lagi kita sudah sampai
Di Pantai Kerajaan Huamual yang permai
Lihat putra kandung beta yang bungsu
Namanya Muhammad Fahrul Kaisuku
Dia sudah menari cakalele di atas butir pasir
Artinya, nenek moyang ikut sambut
Ini Bumi Seram, tanah air pahlawan
Jan Toule Soulehuwij dari Jong Ambon
Juga kawan berjuang Bung Karno
Nona, kalau ale mau menari lenso di sini
Seng apa-apa, nanti beta pukul tifa pica-pica

Mari ke darat, seribu perempuan sudah tunggu
Dengan senyum Alifuru dari Iha, Kulur, dan Luhu
Mereka pakai hijab sebelum Indonesia merdeka
Sejak Madrasah bersama Surastri Karma Trimurti
Perempuan yang membelakangi lensa
Dalam potret kekal Proklamasi di Pegangsaan Timur
Mereka inilah ibu indonesia di bibir sejarah
Seperti Ibu Inggit Garnasih yang rahmani
Atau Ibu Fatmawati yang rahimi
Nona, mari makan di atas tikar daun pandan
Itu ada sajian karu-karu dari sinoli sagu
Dan ini ada tone dari kohu-kohu mentah
Sashimi Maluku dari ikan sardin lompa make
Astaga, ini jam poka-poka, kau harus Salat Ashar 
Masjid perempuan At-Taqwah di Iha atau An-Nur di Kulur
Ada suara Allah dalam bisik Rasulullah di bening batinmu
Di luar masjid, beta tunggu dalam doa Rosario Salam Maria.

Ambon, 3 April 2018

 

BOGOR

 

IBU INDONESIA SEJATI

 

Oleh: Asri Supatmiati

 

Masa kecilku tak tahu syariat Islam

Yang kutahu konde setiap Kartinian

Terpaksa kukenakan ketika karnaval

Mengundang senum penonton sepanjang jalan

Juga jepretan kamerawan amatiran

 

Tambah usia aku belajar Islam

Konde tak pernah lag kukenakan

Yang kutahu hanyalah khimar

Gerainya menutupi rambutku yang suci

Sesuci niat mematuhi perintah ilahi

 

Lihatlah muslimah Indonesia

Penglihatanmu akan semakin terpesona

Supaya kau ingat perintah-Nya

Inilah penampilan ibu bertakwa

Di bumi Allah yang penuh berkah

 

Kecantikan asli wanita yang terjaga

Tak pandang suku dan bangsa

Ttetap cantik, berbudi, kreatif dan sehat

Berakhlak, mulia, dan bermartabat

Terjaga dari pandangan hina

 

Sejak aku paham syariat Islam

Kumatikan kidung-kidung tanpa makna

Kugantikan syahdu lantunan Alquran

Kurindukan merdu suara azan

Memanggil sujud merendahkan kepongahan

 

Menyadari hidup hamba yang fana

Membasahi bibir dengan doa-doa

Lelehan demi lelehan air mata sesal

Menggores ampunan mengetuk keridhoan

Menenun harapan ke jalan surga

 

Tanggalkan pandangan usangmu

Tentang ibu kelam di masa lalu

Supaya kau dapat pencerahan

Tentang ibu masa kini dan masa depan

Ibu sejati yang mulia dalam pelukan syariat.

 

Bogor, 2 April 2018

*Sumber: https://web.facebook.com/MuslimahNewsID/?hc_ref=ARRFRHiIiPeBOakDm_YhE_BaBZtclhKhDoHQp0zPK5BCYuaDV2f7QdifHX4y8LOiJY4

 

MEDAN

 JERUJI BATU UNTUK IBU

: Kepada yang merasa pongah, engkau!
Oleh: Suyadi San
Puisi itu pelita hati, Bu

Andai ibu tak paham syariat

Ayolah pergi ngaji ke musala

Atau ke ulama terdekat

Atau pinomat ke kaum kerabat

Bukan bersuara bangga dan lantang

Atas ketidaktahuan

Atas kedunguan

Atas kepongahan

 

Puisi itu pelita hati, Bu

Andai ibu tahu,

Tak tahu kemerduan azan

Bukan berarti ibu menguasai dunia

Tak sabar kami menanti jeruji batu

Buat membelajarkan ibu alif ba tha.

 

Kampung Durian, 3 April 2018

 

ACEH

PUISI TUSUK KONDE IBU ITU

*Mbeling 

Oleh: Muhammad Rain

tidak perlu gabuk
apalagi bakar menyandi
dilawan pakai puisi

apa salahnya cadar
biarlah perempuan sadar
wajah dilindung karena asri

puisi nanar di bukit kembar
awas ini bukan vulgar!

apa susahnya mengakui
buah berkulit jauh lebih seksi
sedangkan yang terbuka lekas basi
demikian juga rambut tergerai
terserah suami dan walinya
meminta ditutupi

puisi ibu itu
sesungguhnya tidak lucu
mencari-cari bayang bulan bulat bundar
tapi tiada di atas ombak goncang pemikiran

puisi ibu itu
hanyalah konde bukan kode
bahwa interaksi sosial mawas sadar
suara azan memang bukan untuk setan
maka tidak perlu mencak begitu
cukup tutupi
sebagai perhelatan lawak
mencari muka
di pinggir zaman.

Aceh, 3 April 2018

*Puisi dimuat pada laman akun facebook pribadi Muhrain.

 

KEPADA IBU INDONESIA SUKMAWATI

Oleh: Mustiar AR.

Sudahi cerita itu
Jiwamu telah renta kini
Kupingmu tak elok lagi mendengar
Suara Azan suara panggilan Illahi
Bersegeralah sujud agar Ibu tak mati
Sia sia

Ibu
Alam Indonesia itu indah
Seindah cadar yang membungkus jiwanya
_menyejukkan hati anak bangsa

Ibu
Invasi penjajah lari terbirit
Bukan kerana sari kondemu
Tapi kerana suara Azan Maha Suci
Allah Akbar…, Allahu Akbar…
Gelorakan api juang di dada anak bangsa
Bukan karena tusuk konde rambut ubananmu itu
Bukan,bukan bu..?

Ibu
Bersegeralah bertaubat
Sebelum ibu dilaknat

Aceh,03.04.2018

Puisi ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Penyair Meulaboh Tulis Puisi, Serukan Sukmawati Bertobat, http://aceh.tribunnews.com/2018/04/03/penyair-meulaboh-tulis-puisi-serukan-sukmawati-bertobat.

Jika Kau Tidak Tahu
(Kepada Nyonya Sukmawati)

Oleh Ricky Syah R

Nyonya

Jika kau tidak tahu

Jangan kau bicara  sesukamu

Jika kau tidak tahu

Lebih baik diam saja di rumahmu

 

Kau harus tahu, Nyonya

Pakaian terbaik seorang wanita

Dengan menutupi seluruh auratnya dengan sempurna

Agar mata nakal tak dapat melucuti setiap jengkal tubuhnya

 

Agar pelecehan tak terjadi di mana-mana

 

Sesuai dengan surah Al-Ahzab dan perintah di dalamnya

Kau harus tahu, Nyonya

Tiada kidung di dunia ini yang lebih merdu dari azan

Bahkan manusia yang melayang ke angkasa akui tanpa bantahan

Masaki iya kau bilang azan tidak ada kemerduan

Aih, becanda betul kau ini, Nyonya

 

Nyonya

Jika ingin cantik

Jangan mengusik

Jika ingin sehat

Jangan sok hebat

Jika ingin berbudi

Jangan menyakiti

Dan jika ingin kreatif

Jangan jadikan puisi sebagai media provokatif

Kau harus tahu, Nyonya

Jika kau tidak tahu

Jangan sok tahu

Belajarlah agar tahu.

2018

Sumber: IG atas nama @sabdapuisiofficial

Di dalam IG yang dishare oleh pemilik akunnya tersebut tampak @ayupusapananda sedang membacakan puisi yang ditulis Ricky Syah R tersebut.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top