Dapatkah Aceh Menjadi Parameter Ekonomi Syariah di Indonesia?

Secara umum, perkembangan perbankan syariah di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah unit dan jumlah nasabah bank syariah pada setiap bulannya.

Oleh: Muhammad Haiqal

Aceh sebagai salah satu provinsi yang ada di Indonesia dengan ibu kota nya Kota Banda Aceh.

Aceh juga merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang diberi status sebagai daerah istimewa dan juga diberi kewenangan otonomi khusus (otsus) dalam menjalankan syariah Islam.

Aceh terletak di ujung utara pulau Sumatera dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia.

Aceh dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran Islam di Indonesia dan memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara, pada awal abad ke-17.

Sejarah lahirnya ekonomi islam di Indonesia sejalan dengan lahirnya perbankan syariah.

Munculnya Bank Muamalat pada tahun 1991 sebagai bank syariah pertama telah membuka gerbang bagi lembaga keuangan lainnya untuk membuka cabang syariah.

Apalagi dengan adanya Undang-Undang No 21 Tahun 2008 yang isinya memberikan arahan kepada bank-bank konvensional untuk membuka divisi perbankan syariah atau bahkan mengkonversi diri secara total menjadi bank syariah.

Secara umum, perkembangan perbankan syariah di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan.

Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah unit dan jumlah nasabah bank syariah pada setiap bulannya.

Namun jika dilihat secara khusus, perkembangan perbankan syariah di Aceh tidak mengalami peningkatan yang signifikan.

Di tengah tengah krisis dan berbagai masalah perekonomian dunia lainnya, ekonomi Islam kembali muncul di tengah-tengah masyarakat Islam dewasa ini.

Ekonomi kapitalis yang rentan terhadap krisis karena tidak seimbangnya pertumbuhan sektor ril dengan sektor moneter.

Cerminan hal ini adalah adanya kebijakan suku bunga bagi setiap pinjaman yang mesti dikembalikan walaupun terjadi kerugian.

Sedangkan sistem ekonomi Islam menawarkan sisitem bagi hasil (lost and profit sharing).

Implikasi dari hal ini adalah tidak ada keseimbangan antara sektor moneter dengan sektor ril dan menimalisir terjadinya kesenjangan sosial antar masyarakat.

Kehadiran berbagai perbankan syariah di negara negara muslim seperti Mesir telah mempelopori kebangkitan ekonomi Islam massa kini.

Di indonesia, kehadiran bank mualamat sejak tahun 1991 telah menjadi pelopor perkembangan perbankan Islam di negeri pertiwi ini.

Hal ini diperkuat dengan bukti nyata bahwa bank tersebut tahan terhadap krisis moneter yang melanda Indonesis sejak 1997-1998.

Implikasi dari hal tersebut adalah semakin banyaknya perbankan umum yang membuka BUS (Badan Usaha Syariah) sebagai unit usaha perbankan tersebut.

Islam menyediakan suatu sistem ekonomi yang meniscayakan penggunaan sumber-sumber daya yang diberikan Allah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok umat manusia dan memberikan kepada mereka kondisi kehidupan yang baik.

Islam menganggap kekayaan adalah amanah dari Allah dan pemanfaatannya secara benar sebagai suatu ujian keimanan.

Sistem ekonomi yang diterapkan oleh Rasulullah SAW berakar dari prinsip-prinsip Qurani.

Alquran yang merupakan sumber utama ajaran Islam telah menetapkan berbagai aturan sebagai hidayah bagi umat manusia dalam melakukan aktivitas disetiap aspek kehidupannya termasuk dibidang ekonomi.

Oleh sebab itu dalam ekonomi Islam hanya pemeluk Islam yang berimanlah yang dapat mewakili satuan ekonomi Islam.

Dalam pandangan Islam, kehidupan manusia tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi kehidupan ruhiyah dan jasmaniyah, melainkan sebagai satu kesatuan utuh yang tidak terpisahkan, bahkan setelah kehidupan didunia ini.

Dengan kata lain, Islam tidak mengenal kehidupan yang hanya berorientasi pada akhirat tanpa memikirkan kehidupan duniawi ataupun sebaliknya hanya memikirkan materi duniawi tanpa memikirkan Kehidupan Akhirat.

Upaya penerapan sistem ekonomi Islam di Aceh juga dapat ditempuh melalui dunia pendidikan.

Upaya ini dapat dimulai dengan menggantikan kurikulum ekonomi yang selama ini menjadi referensi para siswa sejak bangku sekolah dengan kurikulum ekonomi Islam.

Penerapan kurikulum ini bertujuan menumbuhkan pemahaman kepada generasi muda bahwa ekonomi merupakan bagian dari Islam yang intergral dan tidak dapat dipahami secara parsial.

Hal ini merupakan modal dalam rangka pembentukan Sumber Daya Insani (SDI) yang siap menopang tumbuh dan berkembangnya sistem ekonomi Islam di Aceh.

Aceh yang memiliki keistimewaan dalam hal penerapan syariat Islam seharusnya dapat menangkap hal tersebut untuk dijadikan momentum bagaimana memulai membenahi perekonomian yang sebagian besar masih menganut kapitalisme menjadi perekonomian yang menganut sistem ekonomi Islam.

Aceh tentu memiliki keleluasaan yang lebih untuk mewujudkan konsep negeri syariat Islam yang juga ditunjukkan dengan sistem perekonomian Islam.

Di negara yang mayoritas penduduknya bukan Islam telah mempelopori berkembangnya perbankan syariah, contohnya Inggris.

Hal utama yang menjadi tantangan implementasi ekonomi Islam di tengah tengah masyarakat Aceh adalah masih rendahnya kesadaran dan pemahaman tentang ekonomi Islam.

Penyebabnya adalah rendahnya pemahaman masyarakat terhadap agama Islam dan cenderung memahami agama secara parsial.

Dangkalnya pengetahuan masyarakat muslim sendiri tentang bank Syariah ini di satu sisi dan pada sisi lain, para praktisinya juga belum menguasai produk Bank Syariah dan hukum fikih muamalah pada produk-produk syariah yang ditawarkan.

Tentunya hal ini akan menjadi tugas bagi pemerintah Aceh dalam rangka mensosialisasikan sistem ekonomi syariah di tengah tengah masyarakat.

Dengan demikian frame yang beranggapan sistem ekonomi Islam sama saja dengan sistem ekonomi kapitalis dapat dihilangkan berangsur angsur di tengah tengah masyarakat.

Semakin banyak instrumen untuk sosialisasi bagi perkembangan ekonomi syariah.

Bentuk sosialisasi ekonomi syariah sangat beragam dan luas, seperti melalui media masa cetak atau elektronik, buletin, majalah, buku, lembaga pendidikan dan sebagainya.

Meskipun Aceh dinyatakan sebagai daerah yang melaksanakan syariat Islam, tapi bukan sebuah jaminan bahwa seluruh elemen masyarakat memahami secara komprehensif berbagai aspek syariah, termasuk aspek Islam.

Maka dari itu harus mulai dilakukan sosialisasi sistem ekonomi Islam kepada masyarakat. Untuk menyosialisasikan ekonomi Islam tentu membutuhkan kerja sama semua pihak baik pemerintah, ulama, dan masyarakat.

Ada beberapa cara sosialisasi yang bisa dilakukan untuk mempercepat pemahaman masyarakat Aceh terhadap ekonomi Islam di antaranya:

Pemerintah bekerjasama dengan media massa di Aceh dengan membuat rubrik khusus harian/mingguan pembahasan mengenai ekonomi Islam sehingga masyarakat familiar dengan ekonomi Islam;

Perguruan tinggi yang ada di Aceh sebaiknya diarahkan untuk membuka program studi ekonomi Islam dan pemerintah memperbanyak beasiswa pendidikan ke luar Aceh untuk mengambil program studi ekonomi Islam, sehingga lahir Sumber Daya Manusia (SDM) ekonomi Islam yang handal;

Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan hendaknya dapat memasukkan ekonomi Islam dalam kurikulum tingkat SLTP, SLTA. Tujuannya agar pemahaman ekonomi Islam dapat ditanamkan sejak dini, seperti daerah Tasikmalaya telah memasukkan ekonomi Islam sebagai mata pelajaran muatan lokal di tingkat SLTP dan Madrasah Tsanawiyah;

Mengarahkan ulama yang khususnya biasa khutbah jumat untuk memasukkan muatan- muatan nilai ekonomi Islam dalam khutbah mereka, dan;

Mengarahkan ulama dayah untuk memasukkan muatan-muatan nilai ekonomi Islam dalam kajian keagamaan pesantren.

Kemudian Para pelaku ekonomi harus bekerja keras dalam menerapkan ekonomi syariah, sebagai provinsi yang diberi kewenangan menerapkan syariat Islam sudah sepatutnya sistem perekonomian di Aceh harus sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Apalagi, dengan populasi mayoritas muslim, sistem ekonomi syariah harus membumi di Aceh. Karenanya lembaga keuangan, seperti bank, pegadaian, asuransi dan organisasi seperti Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), Forum Pengusaha Muslim Indonesia (IIBF) dan Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) Aceh harus terus berkontribusi sesuai fungsinya masing-masing dalam mewujudkan sistem ekonomi syariah di Aceh.

Semua pihak patut bersyukur di mana Banda Aceh telah ditetapkan sebagai kota terbaik di Indonesia dalam penanganan konflik sosial. Prestasi ini harusnya menjadi modal bagi kita.

Kita perlu terus mempromosikan bahwa Banda Aceh ini sangat aman dan nyaman bagi investasi yang kemudian berdampak pada pertumbuhan ekonomi, Keamanan kita stabil, tidak menimbulkan konflik yang besar, tidak ada konflik sosial.

Harus kita pertahankan, kalau tidak aman, tidak ada orang yang mau berinvestasi. Aceh harus menjadi leader sistem ekonomi syariah di Indonesia dan sistem ekonomi syariah di Aceh harus menjadi contoh bagi daerah lain. (*)

(Penulis Adalah Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Islam Negeri Ar-Raniry)