ASMARA Bin Rifai (39) meregang nyawa.

Tubuhnya tertimpa pohon.

23 Agustus lalu, Ia meninggal saat bertugas memadamkan api di Taman Hutan Raya Sultan Thaha Syaifuddin (Tahura Senami), Jambi.

Asmara meninggalkan seorang istri dan dua orang anak.

Api masih terus  berkobar.

Elsa Fitaloka, bayi berumur empat bulan.

Ia terjangki t batuk dan pilek.

Orang tuanya merujuk ke bidan desa.

Tak mampu, bidan merujuknya ke RS Suka Jadi KM 14, Banyu Asin.

Ia dirujuk lagi ke Rumah Sakit Ar Rasyid KM 7, Palembang.

Sesampainya disana, Ia kembali disarankan untuk ke RSMH, Palembang.

Namun, “Kamar tidak tersedia,” jawab seorang  di ujung telepon.

Dokter spesialis memaksa untuk terus membawanya untuk ke Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) untuk mendapatkan perawatan yang lebih serius.

Kondisinya amat lemah dan  nafasnya harus dipacu dengan alat. Apa daya, 15 September, Elsa Fitaloka meninggal dalam perjalanannya menuju RSMH.

Dua fragmen di atas meninggalkan cerita lara di negeri impian. Kekayaan alam hutan yang kaya akan sumber daya justru berbuah malapetaka dan mematikan.

Richard Auty, pakar ekonom Inggris, pada 1993 menyebutnya dengan tesis “kutukan sumber daya”.  Sebuah apriori dari realitas saat ini.

Kutukan itu nyatanya menjadi kian membosankan ketika upaya penanganan melulu diselesaikan dengan repetisi slogan; Tindakan tegas terhadap pelaku pembakaran lahan.

Dan, lagi-lagi slogan itu diungkapkan dari sebuah lahan yang terlanjur “terbakar”.

Di dalam kepungan asap. (*)