Covid-19: Konstruksi Ekonomi Rapuh dan Menimbulkan Gejolak Sosial Kompleks

Oleh : Dr. Zainuddin, SE,.M. Si.

ACEHSATU.COM – Beragam kejadian yang terjadi pada diri manusia selama wabah Covid-19 melanda. Ada yang sangat berpengaruh pada prilaku kesehariannya mulai dari gaya hidup hingga keputusan-keputusan yang diambil terhadap hal-hal yang penting maupun sepele.

Tak terbantahkan Covid-19 sangat mempengaruhi perilaku manusia sehari-hari karena keadaan ekonomi.

Pada masa wabah ini perekonomian secara umum dipengaruhi secara negatif oleh covid-19, banyak karyawan  yang dirumahkan atau pemutusan hubungan kerja oleh majikan sang pemberi kerja. Karena itu banyak kepala keluarga yang tidak lagi memiliki pendapatan (hampir empat bulan) untuk memenuhi kebutuhan tanggungannya.

Bukan hanya manusia yang sangat terdampak oleh covid-19 namun negara juga sangat menderita karenanya.

Lihat saja bagaimana keadaan pendapatan negara terkoreksi hingga menurun tajam dan bahkan bisa mengancam keberadaan Negara. Maka sebenarnya Covid-19 ini tidak boleh dipahami secara alakadarnya saja melainkan butuh konsentrasi yang sungguh-sungguh dalam penanggulangan dan mencari penawarnya.

Bila kepemimpinan nasional atau daerah tidak sensitif terhadap keadaan ini bukan tidak mungkin akan terjadi krisis kemanusiaan yang lebih parah, sebut saja akan terjadi wabah kelaparan yang berakibat pada gangguan psikis warga dan kemungkinan akan terjadi gejolak sosial yang tidak bisa dikendalikan.

Bila paceklik terjadi terutama di kota-kota besar akan menimbulkan penjarahan dan tindakan anarkis yang dilakukan oleh sebagian masyarakat karena psikis tidak bisa normal lagi karena mereka sudah lama terisolasi dan tidak memiliki pendapatan serta tidak mudah mencari perkerjaan pada masa pandemik seperti ini.

Apalagi pengangguran di Indonesia per Februari 2020 mencapai 6,88 juta orang (sumber; BPS), dan dapat dibayangkan apabila perusahaan dari yang kecil hingga besar tidak bisa ekspansi pada masa pandemik maka dengan sendirinya pengangguran akan terus bertambah.

Dengan bertambahnya pengangguran, maka dituntut bagi negara untuk mengambil tindakan penanggulangan sosial terutama menjamin warga negara akan kebutuhan pokok minimal dalam jangka waktu lama.

Pada sisi lain pendapatan negara akan terus menurun karena faktanya begitu, akibat terjadinya  pelambatan aktivitas ekonomi karena Covid-19.

Bila diprediksikan negara harus menyediakan talangan dana bantuan sosial kepada rakyat yang tidak memiliki pendapatan hingga akhir tahun 2020 dengan asumsi sebanyak 9 juta penerima bantuan sosial setiap bulan sebanyak Rp 600.000 per penerima.

Belum lagi dana untuk kebutuhan medis dalam rangka penanggulangan covid-19 yang harus ditanggung pemerintah dan bantuan sosial kepada rakyat yang akan menerima karena sudah terdampak seiring waktu berjalan.

Dalam waktu bersamaan anggaran negara maupun daerah semua diarahkan pada penanggulangan Covid-19 dan sangat minim pada program pemberdayaan ekonomi masyarakat dan penyediaan barang publik lainya.

Maka dapat dipastikan akan terjadi perlambatan kegiatan ekonomi yang akan semakin parah. Karana banyak daerah di Indonesia gairah ekonominya banyak ditentukan dari tender-tender yang berasal dari APBN dan APBD, dengan sendirinya akan bertambah-tambah kelesuan ekonomi.

Akibat kelesuan tersebut akan terjadi banyak anak-anak usia kuliah putus kuliah karena tidak bisa didanai oleh orang tua, karena walaupan ada beasiswa yang disediakan tidak bisa menampung semuanya dan tidak mencukupi untuk memenuhi biaya hidup di kota tempatnya kuliah, akan banyak yang kehilangan usaha, dan banyak juga akan terjadi koreksi atas komitmen keluarga hingga berujung pada penceraian.

Akibat dimensi ekonomi yang kacau banyak cerita yang kita amati terutama kehidupan rumah tangga-rumah tangga di Indonesia.

Rumah tangga ekonomi menengah keatas di kota-kota besar terjadi shock yang sangat parah akibat Covid-19, karena sebelum Covid-19 mereka boleh dibilang hidup dengan tingkat kesenangan level menengah hingga tinggi akibat tersediannya pendapatan yang lebih dari cukup dan mendapat fasilitas keuangan dari perbankan berupa kredit.

Namun, begitu wabah melanda kaum orang kaya baru ini harus banting setir untuk penghematan karena bisa jadi mereka sudah di PHK dan tidak lagi mendapatkan pendapatan besar disatu sisi dan disisi yang lain mereka memiliki kewajiban angsuran kredit pada perbankan, dan boleh dinyatakan mereka berdampak dua sekaligus yaitu dampak phisik berupa tidak ada lagi pendapatan besar setiap bulan dan dampak psikis karena status sosialnya tidak mungkin bisa dipertahankan dengan tidak ada pendapatan.

Jika keluarga menengah saja terdampak dengan dahsyat dalam masalah ekonominya, apalagi bagi masyarakat menengah kebawah.

Di kota-kota besar tertangkap panca indra banyak keluarga tidak mampu membayar uang kontrakan dan tidak mampu lagi menyediakan uang jajan buat anak-anaknya, tidak mampu lagi membeli pakaian dan sedikit kosmetik buat istrinya serta banyak cerita lainya.

Belum lagi masyarakat desa ikut juga terdampak dari kelesuan ekonomi, karena perekonomian di desa-desa banyak tergantung dari gairah perekonomina di kota-kota.

Banyak masyarakat desa juga terjadi penurunan pendapatan akibat konsumen di kota menurunkan konsumsinya, hal ini bisa kita perhatikan di pasar-pasar tradisional yang memperdagangkan produksi dari desa berupa sayur mayur dan lain-lain ikut lesu karena daya beli masyarakat amat sangat lemah.

Dengan demikian, dapat dinyakatan seluruh elemen masyarakat terjadi dampat negatif pada perekonomiannya akibat wabah Covid-19 sekarang ini, dan bila ini terus berlanjut dengan tingkat keterpaparan tidak bisa dikendalikan hingga akhir tahun 2020 maka akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, seperti tingkat kerawanan sosial masyarakat karena hilang pendapatan dan stres yang berkepanjangan dan lain sebagainya.

Salah satu fenomena sosial yang terjadi adalah banyak istri dari sebuah keluarga yang menuntut cerai dari suaminya dengan alasan yang sama, yaitu sang suami tidak mampu lagi secara ekonomi memenuhi kebutuhan seperti sebelum Covid-19 atau dengan kata lain alasan perekonomian keluarga yang menurun.

Bila ini terus terjadi, maka banyak keluarga yang tidak utuh dan yang menjadi korbannya adalah anak-anak yang masih memerlukan sentuhan kedua orang tua mereka, baik bapak maupun ibunya.

Bila anak-anak besar dalam keluarga tidak utuh akan sedikit banyaknya mempengaruhi mental mereka kedepan, dan dapat dinyatakan bahwa generasi mendatang tidak optimal dalam hal psikisnya karena masa kecil mereka kurang kesempurnaan pendidikan yang didaptakan dari orang tua mereka yang telah pisah.

Walaupun banyak anak yang berasal dari keluraga bapk dan ibunya bercerai tetapi berprestasi itu soal lain, namun pada hakikatnya kurang baik anak-anak tumbuh pada keluarga yang bercerai.

Bila kita tinjau dari sudut ekonomi yang terjadi karena persoalan pendapatan bisa berakibat pada penceraian terasa wajar, karena tak mungkin untuk mempertahankan sebuah ikatan bila tidak mampu memenuhi kebutuhan.

Akan tetapi dalam hidup ini bukan hanya dimensi ekonomi yang menjadi indikator, ada ukuran lain yang tak kalah penting untuk dipahami dan dipraktikan, yaitu dimensi keimanan.

Khusus bagi muslimin dalam sebuah kehidupan sebenarnya yang bersangkutan sedang menghadapi sebuah ujian tak terkecuali pada sebuah pernikahan.

Bila ukuran langgengnya pernikahan hanya diukur dari ekonomi maka dia akan semarak pada saat pendapatan yang besar dan nikmat yang mumpuni dan akan berakhir ketika ada masalah pada pendapatan, seperti terjadi gugat cerai istri dengan alasan ekonomi.

Akan tetapi bila diperluas pemahaman hidup ini sebagai sebuah ujian, maka di sini iman akan menjadi kata kunci sebuah pernikahan untuk bertahan. Dimana, jika iman itu menjadi patokan maka tidak goyah juga sebuah keluarga apabila ketika ujian datang berupa hilangnya pendapatan untuk beberapa saat dan dia tetap akan bertahan untuk menghadapi ujian tersebut secara bersama-sama bukannya lari dari sebuah kenyataan.

Oleh sebab itu, dari fenomena-fenomena alam berupa kehendak yang kuasa datang makhluknya berupa virus itu harus dihadapi dengan keimanan tinggi disamping mencari penawar lewat pendekatan keilmuan.

Karena virus Covid-19 ini menurut saya suatu ujian alam berserta isinya terutama manusia di muka bumi untuk menemukan kesimbangan baru, baik dalam prilaku sosial maupun dalam aktivitas ekonominya.

Dimana, dengan adan Covid-19 dituntut bagi ummat manusia untuk hidup hemat dan terencana, maknanya pola konsumsi yang dibangun harus betul-betul direncanakan agar hemat dan tidak berlebihan, terbukti sebelum Covid-19 datang secarat kasat mata terlihat begitu hebatnya kaum kaya baru dan orang kaya menikmati nikmat ekonomi yang mereka bangun dengan eforia berlebihan dan begitu wabah menghampiri ternyata tidak bertahan lama mereka harus berkeluh kesah dihimpit oleh kekurangan dan akan menuju kepada kehidupan miskin yang penuh derita.

Berarti kita sebagai manusia tidak memiliki daya sebenarnya dalam menempuh kehidupan ini apabila tanpa anugerah dari yang maha kuasa, ingin selamat kembali kepada iman dan formulasikan hidup model aktivitas ekonomi berlandaslakan syariah agar selamat di dunia dan selamat di akhirat.

Bila umat konsisten dengan iman dan islam tak lama lagi wabah akan Allah cabut, dan bila ummat hidup penuh dengan kepura-puraan dan apalagi jauh dari tuntunan syariah jangan berharap wabah ini akan segera selesai.(*)

(Penulis Adalah Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik USM Aceh).