oleh

Covid-19: Harus Tercipta New Balance

-Indeks, Opini-298 views

Oleh : Dr. Zainuddin, M. Si

ACEHSATU.COM – Lahirnya covid-19 terbaca bahwa awal dari pembentukan peradaban baru umat manusia dengan tetap wajib berpedoman pada Alqur’an dan hadits Rasulullah Nabi Muhammad SAW bila ingin selamat, baik didunia yang berhubungan dengan dimensi ekonomi, sosial budaya dan politik.

Maupun kelak setelah nyawa diambil dari raga mulai alam kubur, padang masyar dimahkamah Allah hingga kepada keputusan layak tidaknya ke surga Nya.

Sudah hukum alam atau sunnahtullah bahwa periode peradaban akan mencari keseimbangannya seiring umur dunia, bisa jadi fase awal diturunkan covid-19 merupakan aba-aba awal dari kesiapan pribadi-pribadi untuk melatih diri hidup tidak boleh sesuka hati.

Kudu ada aturan mainnya karena tak lama lagi bumi pun akan mencarai kesimbangannya dengan meledaknya gunung-gunung, marahnya laut mengantam daratan, angin akan meniup dengan penuh kencang, dan bahkan isi bumipun ingin keluar.

Mungkin juga itu akan tertiup sangkal kala oleh bertanda kiamat tiba dan itu pasti terjadi.

Mari kita sedikit merenung tentang kesimbangan baru pada dimensi ekonomi, sosial dan budaya serta perpolitikan yang bakal terjadi.

Pada tataran ekonomi banyak yang harus disesuaikan mulai memproduksi, memasarkan dan service purna jual dengan keadaan kehidupan dalam suasana covid-19 yang harus mengikuti protokol kesehatan.

Dengan demikian, banyak yang akan memulai dengan baru dan bahkan alam akan mengajarkan kepada kita model baru mengenai bagaimana cara mencari nafkah dalam situasi covid-19, banyak sekarang yang tadinya sudah matang dalam hal kemampuan ekonomi tiba-tiba harus kekurangan dan akhirnya bisa memunculkan stres berkepanjangan bila imannya amat tipis atau tidak memiliki iman sama sekali.

Ini terbukti bahwa banyak ikatan perkawinan yang sakral harus diakhiri gegara ekonomi merosot akibat covid-19.

Bisa jadi kehadiran covid-19 dikarenakan alam tak mampu lagi menyediakan sumber daya dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia, maka jalan keluarnya adalah harus ada pengurangan penduduk dunia.

Sehingga kita teringat asumsi ekonomi yang berbunyi bahwa pertumbuhan penduduk ibarat deret ukur dan pertumbuhan sumber daya pemenuhan kebutuhan ibarat deret hitung.

Dalam konteks ini yang harus dipahami bukan berarti harus ada yang dikorbankan atau dimusnahkan terhadap penduduk bumi sekarang, akan tetapi generasi yang akan datang harus dipersiapkan untuk berproduksi lebih banyak dengan selalu mempertimbangkan keseimbangan alam.

Bagaimana generasi yang akan datang harus berproduksi lebih banyak sangat berkaitan dengan pola pendidikan yang dilakukan sekarang, maknanya pendidikan bagi generasi sekarang harus benar-benar spesialisasi tidak boleh lagi menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak mendukung keahlian yang bersangkutan dan ini tupoksi tugas pendidikan mulai dasar hingga pendidikan tinggi harus meramu kembali kurikulumnya sesuai dengan keseimbangan baru tersebut.

Mengenai kesimbangan baru pada tataran sosial dan budaya yang akan terpraktekan akan sangat jauh berbeda dengan sebelum kedatangan covid-19.

Hal tersebut dengan sendirinya akan terjadi perubahan-perubahan di tengah-tengah masyarakat, dan akhirnya kebasaan-kebiasaan yang banyak menghabiskan waktu dan keramaian akan ditinggal oleh umat, termasuk barang kali terkoreksi pada konteks pertemuan-pertemuan dalam kapasitas ramai dalam arti sekarang akan berubah dalam arti definisi baru dengan mempergunakan teknologi informasi untuk dihubungakan.

Ini sudah dipraktikan seperti seminar-seminar melalui aplikasi teknologi dan bahkan ada sidang pengadilan yang tidak perlu hadir ke pengadilan, sidang kelulusan sarjana tidak perlu lagi hadir ke fakultas dan lain sebagainya.

Begitu juga kebiasaan saling jabat tangan, betamu ke rumah sanak saudara dan bahkan pesta-pesta duniawi bakal tidak ada  lagi di kemudian hari.

Alat transportasi yang sekarang ini digalakan pada akhirnya harus sirna karena tidak lagi popular disebabkan terhimpun banyak manusia, dan yang paling nyaman untuk sekarang adalah moda transport bersifat pribadi dan paling besar bersifat keluarga.

Dengan demikian harus ada peninjauan ulang tentang keinginan mencipatakan moda transport massa itu sendiri.

Pusat-pusat bisnis yang mengahruskan banyak kehadiran manusia bakal tidak menarik lagi dan akan tergantikan dengan model online yang antar langsung (barang kali kembali lagi seperti profesi tukang pos pada dekade 1980an).

Semua ini akan menjadi tantangan barus bagi penyelenggara Negara, daerah dan bahkan wilayah terkecil sekalipun untuk merubah visi, misi dan tujuan pembangunanya.

Sehingga, kebanggaan atau kesuksesan sebelum covid-19 diukur dengan seberapa banyak manusia yang mendatangai Negara atau daerah tersebut.

Akan tetapi sekarang tidak bileh lagi sepeti itu dan turis dalam arti covid-19 akan berubah dalam bentu audio visual yang terhubung kebrumah-rumah atau ke dunia luar.

Tidak ada lagi open house bagi pejabat-pejabat di Negara yang berbudaya timur dan tidak ada lagi jamuan-jamuan yang dihadiri banyak orang, semua hanya sendiri-sendiri dan paling banyak hanya dengan keluarga inti saja.

Tidak ada lagi tribun yang terisi ribuan manusia untuk menonton sebuah pertandingan dan lain-lain.

Inilah awal permulaan untuk nabsi-nabsi yang ditampakan kepada manusia, makananya manusia tidak bisa leluasa berhubungan dengan manusia yang lain dan akan ada situasi yang terlihat manusia tidak akan menolong manusia yang lain ketika ada yang terjatuh dijalanan karena takut terpapar covid-19 dan lain sebagainya lain sebagainya.

Akan ada keseimbangan baru dan banyak kebiasaan-kebiasaan yang sudah mendarah daging harus direorganisasikan kembali selama tidak melanggar hukum Allah tidak mengapa untuk diubah demi keselamatan untuk semua.

Selamat hidup dengan mematuhi hukum kesehatan yang ketat sebagai kebiasaan baru dalam bermasyarakat.

Covid-19 harus dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan hidup manusia agar tidak larut pada kecemasan, tetapi tetap harus dihindari dengan ikhtiar optimal agar tidak terpapar.

Semoga covid-19 lekas dicabut di bumi ini agar kita bisa memenuhi mesjid-mesjid setiap waktu. Aminn (*)

(Penulis Adalah Pengamat Ekonomi, Sosial dan Politik Universitas Serambi Mekah Aceh)

Indeks Berita