Cita-Cita Pengentasan Kemiskinan Dengan Memperkuat Nilai Tukar Mata Uang

ACEHSATU.COM – Peran uang dalam percaturan perdagangan internasional identik dengan kewibawaan bangsa itu sendiri, bangsa yang besar dan berwibawa tentu mata (nilai mata) uangnya menjadi acuan sebagai alat pembayaran internasional, dan begitu juga indikator tingkat kesejahteraan rakyat suatu negara sangat besar peran dari nilai mata uang bangsa yang bersangkutan.

Oleh sebab itu, memperkuat nilai tukar uang dari mata uang asing terutama dengan mata uang yang lazim digunakan dalam pembayaran internasional sama pentingnya dengan menjaga atau merawat bangsa pada jaman modern sekarang ini, dan hampir dapat dipastikan akan terjadi gejolak ekonomi yang luar biasa bila nilai mata uang suatu negara secara terus-menerus melemah terhadap mata uang internasional, dan bila gejolak ekonomi itu tidak dapat ditanggulangi bukan tidak mungkin suatu negara akan terjebak pada ketidakanyaman atau tidak aman karena bisa jadi akan terjadi gelombang pengangguran dan kemiskinan yang meningkat.

Uang merupakan alat pembayaran yang sah dan sebagai alat pengukuran nilai kekayaan dalam sebuah bangsa dan negara.

Jadi tak berlebihan bila sudah terlibat dalam percaturan internasional, nilai mata uang akan berkompetisi dengan mata uang negara-negara lain, maka yang akan menjadi kuat adalah yang paling kuat fundamental ekonominya, fundamental ekonomi yang dimaksud adalah menyangkut variabel-variabel makro ekonomi suatu negara antara lain product domestic bruto, pengannguran, neraca pembayaran, tingkat pendapatan dan sebagainya.

Secara umum nilai mata uang atau kurs sebagai indikator kondisi kesehatan ekonomi suatu negara, dan nilai kurs itu sendiri juga dapat dinyatakan sebagai perbandingan kesehatan ekonomi negara dengan negara lain.

Oleh sebab itu, amat sangat penting nilai mata uang (kalau kita Indonesia mata uangnya rupiah) harus kuat, maknanya rupiah harus berapa nilai kewajaran yaitu menurut saya harus berada paling maksimal Rp 10.000/US$, dan jika ini mampu dilakukan oleh pemangku kepentingan rakyat akan memberikan mahkota penghargaan.

Nilai mata uang juga sangat erat dengan kesejahtreaan rakyat walaupun secara kasat mata orang-orang (rakyat) beraktivitas didalam negeri dan bahkan hampir tidak pernah keluar negeri.

Mari kita perhatikan bahwa hampir tidak ada kegiatan kita didalam negeri yang luput dari konsumsi teknologi dari asing alias internasional walaupun barang tersebut diproduksi didalam negeri namun sesungguhnya itu adalah produk luar negeri.

Sebagai contoh konsumsi rumah tangga penduduk Indonesia jika dilakukan pengecekan banyak dari produk internasional, membangun rumah paling-paling yang lokal itu batu bata itupun diproduksi dengan mesin yang diproduksi internasional, penggunaan alat komunikasi hari-hari bagi penduduk kita juga konsumsi internasional yang semua itu harga jualnya ditakar dengan mata uang internasional.

Jadi apabila nilai mata uang kita melemah tentu untuk mencapai kepuasan tertentu kita harus mengorbankan uang (rupiah) lebih banyak dibandingkan dengan bila mata uang kita kuat terhadap mata uang internasional.

Jadi, dengan mata uang rupiah melemah juga dapat dikatakan bahwa rakyat kita juga berada pada level dibawah mereka (nilai mata uangnya kuat) tingkat kesejahteraannya.

Bagaimana cara memperkuat nilai rupiah terhadap US$, memang tidak gampang butuh siasat dan energy yang tidak sedikit (menurut logika sederhana), yaitu:

1) cara instan dan hanya bersifat sementara yaitu operasi pasar oleh pemangku kepentingan (BI) dan pemerintah dengan cara membeli US$ hingga menaikan nilai rupiah pada level tertentu itu dilakukan apabila dana ada dan mencukupi dan bila ingin dilakukan bisa dengan aplikasi utang khusus merawat mata uang, 2) dengan cara mengajak rakyat Indonesia untuk tidak memiliki US$ artinya US$ yang berada di rakyat harus dikonversi semua ke rupiah (ditinggalkan hanya pada jumlah minimal saja untuk kebutuhan mendesak) maknanya spekulasi cari untung lewat perdagangan mata uang ditiadakan dan cara ini sebenarnya mumpuni untuk memperkuat rupiah, maka pemerintah boleh sebenarnya mengeluarkan peraturan agar kepemilikan US$ dibatasi pada jumlah tertentu saja dan hal semacam ini tidak mudah dilakukan, 3) kurangi konsumsi yang berlebel internasional, walaupun sesungguhnya hal ini sulit dilakukan karena rakyat indonesia sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari pergaulan internasional, 4) tingkatkan bunga deposito mata uang rupiah dan mungkin juga tidaka akan signifikan juga namun ada dampak sedikit, dan 5) untuk jangka waktu panjang lakukan produksi dengan tujuan ekspor, karena dengan ekspor yang tinggi akan memperkuat rupiah itu sendiri, serta jadikan rakyat kita bukan hanya pandai mengkonsumsi tapi juga pinter berproduksi.

Bila pemangku kepentingan mampu membuat rupiah kuat, maka cita-cita kemiskinan akan sangat minim dan pertumbuhan ekonmi diatas 5 persen pada tahun 2026 bisa jadi kenyataan dan bangsa Indonesia menjadi disegani dikawasan regional kembali, akan tetapi prasyaratnya nihilkan korupsi alias tumbangkan pohon kecurangan dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kenapa orang miskin dapat berdampak pada situasi nilai mata uang, mari kita lihat aktivitas orang miskin sehari-hari yang tak luput dari harga barang-barang itu sendiri, karena hampir seluruh barang atau jasa dalam penentuan harganya berpatokan pada US$, mulai barang yang paling kecil misalnya harga tempe sangat tergantung harga kedelai yang ukur dengan US$ sampai barang industri yang dibutuhkan oleh si miskin seperti pupuk dan insektisida bagi petani, makanan ikan dan teknologi penangkap ikan yang dibutuhkan oleh nelayan juga semua harga tersebut berpatokan US$, dan itu semua hanya contoh kecil saja bahwa si miskin juga sangat ditentukan kesejahteraanya dari kuatnya mata uang rupiah terhadap US$.

Rupiah kuat senyum pun merekah, rakyat bahagia pemimpin dapat pahala. Semoga covid-19 pergi diberengi rupiah pun segar kembali. Amiin. (*)

Penulis: Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Serambi Mekah (USM) Aceh

Lihat Video Ini: