Cisah, Himakmur dan Pelisa Meuseuraya di Makam Abad ke-9 di Buloh Beureghang Aceh Utara

Himakmur (Himpunan Mahasiswa Kuta Makmur) bersama PELISA (Pelajar Peduli Sejarah Aceh) melaksanakan kegiatan Meuseuraya di Gampong Cot Seutuy berbatasan dengan Gampong Meunasah Meuria Buloh Beureughang Kec. Kuta Makmur Kab. Aceh Utara
Himakmur (Himpunan Mahasiswa Kuta Makmur) bersama PELISA (Pelajar Peduli Sejarah Aceh) melaksanakan kegiatan Meuseuraya di Gampong Cot Seutuy berbatasan dengan Gampong Meunasah Meuria Buloh Beureughang Kec. Kuta Makmur Kab. Aceh Utara, dan dihadiri juga oleh Lembaga CISAH (Central for Information of Sumatra Pasai Haritage). Jum’at, (26/2/2021)

Cisah, Himakmur dan Pelisa Meuseuraya di Makam Abad ke-9  di Buloh Beureghang Aceh Utara

ACEHSATU.COM | ACEH UTARA – Himakmur (Himpunan Mahasiswa Kuta Makmur) bersama PELISA (Pelajar Peduli Sejarah Aceh) melaksanakan kegiatan Meuseuraya di Gampong Cot Seutuy berbatasan dengan Gampong Meunasah Meuria Buloh Beureughang Kec. Kuta Makmur Kab. Aceh Utara, dan dihadiri juga oleh Lembaga CISAH (Central for Information of Sumatra Pasai Haritage). Jum’at, (26/2/2021)

Lokasi kompleks makam tersebut lazim disebut oleh masyarakat sekitar dengan sebutan Makam Teungku Batee Badan, di saat meuseuraya tim dari Himakmur, Pelisa dan Cisah juga melihat disekitaran makam Teungku Batee Badan sangat banyak batu nisan yang diperkirakan merupakan peninggalan dari Kesultanan Sumatra-Pasai periode awal yang sebagiannya sudah terbenam dalam tanah, dan ini sangat memungkinkan bahwa didaerah ini merupakan kawasan pemukiman padat masa Kesultanan Sumatra-Pasai

Pada makam Teungku Batee Badan tidak memuat epitaph yang menyebutkan nama, tetapi hasil dari kajian yang pernah dilakukan oleh Cisah yang di bacakan oleh Ahli Epigrafi Islam Taqiyuddin Muhammad pada batu badan terdapat pahatan yang berisi kalimat Tasbih,

Diperkirakan makam Teungku Batee Badan ini memiliki masa awal dari abad ke-9 Hijriah (ke-15 Masehi), dua kalimat tasbih itu telah dipahat pada jirat di satu tempat nan amat jauh dari tempat turunnya wahyu. Pemahat dan orang-orang yang hidup di tempat itu pada 600-700 tahun yang silam telah meyakini kebesaran dan ketinggian Agama yang menyeru kepada Tauhid dan mensucikan Allah Yang Maha Agung. Mereka meyakini tasbih akan menghapuskan dosa-dosa.

Mereka juga meyakini dua kalimat tasbih yang diajarkan oleh Rasulullah Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam dalam hadits beliau memiliki nilai yang berat dalam Mizan Allah, dan adalah dua kalimat yang paling disukai oleh Yang Maha Penyayang.

Mereka yakin Tauhid dan mensucikan Allah akan menumbuhkan segala kebaikan, dan karenanya, mereka mengabadikan itu di dada mereka.

Demikianlah, barangkali, yang ingin diungkapkan lewat sebuah karya istimewa pada jirat yang terdapat di Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. Sebuah gampong yang dibelah aliran Krueng Beureugang di mana sepanjang tepi kanan aliran sungai ini telah tumbuh permukiman Islam yang padat selama zaman Sumatra. (*)