Banda Aceh

Cicit Sultan Aceh Minta Pemusnahan Situs Sejarah di Gampong Pande Dihentikan

Di Gampong Pande dan Gampong Jawa terdapat situs warisan indatu Kesultanan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayatsyah (1514-1530).

Foto | Istimewa

ACEHSATU.COM, BANDA ACEH – Cicit Sultan Aceh, Tuanku Warul dan Tuanku Muhammad meminta kepada Pemerintah agar segera menghentikan Proyek Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL)di Gampong Pande, Banda Aceh.

Masalahnya adalah, proyek tersebut telah menggerus situs sejarah makam para raja dan ulama Aceh di kawasan tersebut.

Hal itu disampaikan Tuanku Warul Waliddin dan Tuanku Muhammad dalam siaran pers, Sabtu (2/9/2017).

Dikatakan, di Gampong Pande dan Gampong Jawa terdapat situs warisan indatu Kesultanan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayatsyah (1514-1530).

Ia menambahkan, beberapa tahun yang lalu kawasan itu dihebohkan dengan penemuan koin emas dan sepasang pedang yang diperkirakan berusia ratusan tahun sejak era Kesultanan Aceh masih tegak.

Maka apa yang dilakukan pada hari ini oleh Pemerintah Aceh yang didanai dari APBN dan ada sekitar Rp 2,3 miliar dari APBK dengan total Rp 107 miliar sejak 2015, 2016, hingga 2017 seakan tidak membaca tanda-tanda dari temuan ratusan koin emas beberapa waktu yang lalu.

“Seharusnya pada pascapenemuan koin emas tersebut harusnya pemerintah harus segera melakukan penelitian dan kajian lebih lanjut dan serius ada apa sebenarnya di Gampong Pande, Gampong Jawa, Peulanggahan, dan Keudah,” ujar cicit dari Sultan Aceh ini.

Sebagaimana disebutkan Tuanku Warul Waliddin yang juga cicit Sultan Aceh Terakhir ini bahwa didalam Buku Sejarah Aceh Seperti “Aceh Sepanjang Abad” karya Muhammad Said dan “Susunan Pemerintahan Aceh semasa Kesultanan” karya Van Langen telah disebutkan ada 5 wilayah yang dipimpin langsung oleh Sultan sejak awal Kesultanan hingga berakhir pada Perang Aceh-Belanda 1873.

Gampong tersebuta adalah Gampong Pande, Gampong Jawa, Gampong Peulanggahan, Gampong Keudah dan Gampong Merduati, yang kesemuanya itu saat ini berada dalam kecamatan KutaRaja, Banda Aceh.

“Artinya siapapun Wali Kota Banda Aceh yang memimpin Banda Aceh wajib menjaga dan melestarikan kawasan ini, karena lokasi ini sangat tinggi nilai sejarah dan spiritualnya bagi yang paham sejarah Aceh. Tidak boleh dirusak apalagi dijadikan tempat kotor yang jauh dari kesucian,” katanya.

Karena menurutnya, dahulu para Sultan juga merupakan seorang ‘alim ulama yang selalu menjaga kesucian dari kotoran dan najis. Namun hari ini kita biarkan makam-makam beliau terkotori dengan kotoran dan najis.

“Kami menegaskan akan terus menuntut dihentikankannya proyek IPAL dan pembuangan sampah di lokasi ini hingga kapanpun apabila para petinggi negeri ini tidak mengambil keputusan penghentian pembuangan limbah di lokasi ini,” tegas Tuanku Warul dan Tuanku Muhammad.

To Top