China Tuding AS Hanya Melebih-lebihkan Ancaman Rusia ke Ukraina

Pemerintah China memberikan pernyataan resmi terkait ketegangan antara Rusia dan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat (AS), terkait Ukraina.
Militer AS ditarik
China Tuding AS Hanya Melebih-lebihkan Ancaman Rusia ke Ukraina. | Foto: ANTARA/Reuters

ACEHSATU.COM | BEIJING – China Tuding AS Hanya Melebih-lebihkan Ancaman Rusia ke Ukraina.

Pemerintah China memberikan pernyataan resmi terkait ketegangan antara Rusia dan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat (AS), terkait Ukraina.

China menuduh AS telah ‘melebih-lebihkan ancaman perang dan menciptakan ketegangan’.

Komentar China ini disampaikan setelah Presiden Joe Biden dalam pidato terbarunya memperingatkan bahwa lebih dari 150.000 tentara Rusia masih berkumpul di dekat perbatasan Ukraina, setelah Rusia mengumumkan penarikan sebagian pasukannya. Demikian melansir detik.com dari Reuters, Rabu (16/2/2022).

Negara-negara Barat menyarankan pengendalian senjata dan langkah membangun kepercayaan untuk meredakan ketegangan, yang mendorong mereka untuk mengimbau warganya masing-masing untuk segera meninggalkan Ukraina karena serangan diprediksi bisa terjadi kapan saja.

Rusia berulang kali membantah pihak memiliki rencana untuk menginvasi negara tetangganya itu.

“Upaya memanas-manasi dan pemberian informasi keliru yang gigih seperti itu oleh sejumlah negara Barat akan menciptakan turbulensi dan ketidakpastian bagi dunia yang penuh tantangan, dan mengintensifkan penderitaan dan perpecahan,” sebut juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, dalam konferensi pers di Beijing.

“Kami berharap pihak-pihak terkait akan menghentikan kampanye informasi keliru dan lebih banyak hal-hal yang memberikan perdamaian, rasa saling percaya dan kerja sama,” imbuhnya.

China telah dikritik oleh beberapa pemimpin negara Barat, termasuk Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison, atas sikapnya terhadap krisis Ukraina.

“Kepemimpinan kedua kepala negara, China dan Rusia, selalu bekerja untuk mengembangkan hubungan bertetangga yang baik dalam jangka panjang dan hubungan kerja sama yang saling menguntungkan atas dasar non-aliansi, non-konfrontasi dan tanpa menargetkan negara ketiga,” ujar Wang.

Sementara itu, Presiden Rusia, Vladimir Putin, sebelumnya menegaskan negaranya tidak menginginkan perang terjadi di Eropa.

Penegasan itu disampaikan Putin setelah bertemu Kanselir Jerman, Olaf Scholz, yang berkunjung ke Moskow dalam upaya meredakan ketegangan. Saat ditanya wartawan DW soal kemungkinan terjadinya perang, Putin menegaskan bahwa: “Kami tidak ingin perang di Eropa.” (*)