Cerita Seputar Poligami Ayah Atta Halilintar

Halilintar Anofial Asmid menikah dengan mantan istri keduanya, Happy Hariadi, pada tahun 1998. Pada saat itu, ia sedang menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di daerah Pekanbaru.
Perjalanan poligami ayah Atta Halilintar. (Foto: instagram)

ACEHSATU.COM | JAKARTA – Halilintar Anofial Asmid menikah dengan mantan istri keduanya, Happy Hariadi, pada tahun 1998. Pada saat itu, ia sedang menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di daerah Pekanbaru.

“Awalnya ketemu, Happy itu berstatus mahasiswi,” kata pengacara Happy Hariadi, Dedek Gunawan, saat dihubungi wartawan belum lama ini.

Pernikahan tersebut bukan terjadi secara diam-diam. Halilintar Anofial Asmid mendapatkan restu dari istri pertamanya, Lenggogeni Faruk.

“Pernikahan itu mendapatkan persetujuan secara tertulis. Persetujuan itu juga disetujui oleh KUA Bukit Raya Kodya Pekanbaru,” ujar Dedek Gunawan.

“Setelah mendapat persetujuan itu, maka mereka melangsungkan pernikahan di KUA Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu di tanggal 21 April 1998,” tambahnya.

Happy Hariadi pun akhirnya tak melanjutkan pendidikannya. Ia putus kuliah lantaran tak diizinkan oleh ayah Atta Halilintar.

“Nggak lanjut, nggak diperbolehkan melanjutkan perkuliahan setelah menikah,” ucap Dedek Gunawan.

Setelah menikah, Happy Hariadi tinggal bersama dengan Lenggogeni Faruk. Namun pernikahan tersebut malah menjadi petaka bagi Happy Hariadi.

Ia mengaku telah mendapat perlakuan diskriminasi. Semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh Happy Hariadi selayaknya asisten rumah tangga (ART).

“Iya (tinggal bareng), tidak mendapat perlakuan sebagaimana seorang istri yang sah dinikahi ya ada diskriminasi itu. Perlakuan itu menumpuk dan terakumulasi kesabaran klien kita sudah pada puncaknya. Lalu diajukanlah gugatan cerai di Pengadilan Agama Pekanbaru 10 November 2005, 2006 muncul akta cerai,” tandas Dedek Gunawan.

Ternyata semenjak menikah, Happy Hariadi diklaim tidak pernah mendapatkan nafkah lahir batin dari Halilintar Anofial Asmid. Namun keduanya dikaruniai seorang anak perempuan bernama Mubarotah.

Happy Hariadi bercerai saat Mubarotah berusia 3 tahun. Saat itu hingga kini, ia tidak diakui oleh Halilintar Anofial Asmid sebagai anak hingga tidak diberikan nafkah.

“Pada saat Halilintar ini mempublish ke publik bahwa anaknya 11 orang, klien kita keberatan. Di situ awal mula persoalan sebetulnya. Kurun waktu kurang lebih 2017-2018,” imbuh Dedek Gunawan.

“Kita mencoba secara kekeluargaan menyelesaikan secara persuasif lah. Karena nggak menemukan titik temu, lalu kita minta perlindungan pada LPAI, kita memasukkan laporan secara resmi itu pada tanggal 6 November 2018. Setelah diproses dan ditindaklanjuti dengan memanggil Halilintar ini sebagai terlapor, memanggil secara patut tapi tidak pernah digubris,” sambungnya.

Akhirnya, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dengan rekomendasi Seto Mulyadi menyarankan Happy Hariadi untuk membuat laporan polisi. Happy Hariadi melaporkan ke Halilintar Anofial Asmid atas dugaan penelantaran anak dan diskriminasi pada Oktober 2019.

“Telah dipanggil secara patut dan layak sebanyak tiga kali, tidak juga ada respons dari beliau. Makanya pada saat itu, pada tanggal 16 Mei 2019, LPAI dengan surat nomor registrasinya mengeluarkan rekomendasi yang berbunyi, merekomendasikan pada pelapor, untuk melakukan upaya hukum baik secara pidana maupun perdata yang ditandatangani oleh ketua umum dan sekjennya,” tutup Dedek Gunawan.

Sayang sejauh ini, berbagai tuduhan itu belum terkonfirmasi oleh Halilintar Anofial Asmid. Diminta klarifikasi, pihaknya belum juga bicara. (*)