Cerita Pilu Suami Dipenjara Gegara Ramu Ganja Jadi Obat untuk Istri

Fidelis Arie Suderwoto, seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, memiliki kisah pilu terkait ganja yang dijadikan obat.
Suami ramu ganja untuk obat istri
Sidang vonis Fidelis (Foto: dok. Tim Pengacara Fidelis)

ACEHSATU.COM – Fidelis Arie Suderwoto, seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, memiliki kisah pilu terkait ganja yang dijadikan obat.

Cerita Fidelis bikin terenyuh karena dia meramu ganja untuk istri yang didiagnosis mengidap syringomyelia, suatu penyakit sumsum tulang belakang.

Namun usaha Fidelis meredakan sakit istri membuatnya berhadapan dengan hukum. Fidelis sempat dibui karena meramu ganja untuk istri, Yeni Riawati, yang menderita penyakit langka.

Fidelis sempat mengutarakan alasan tersebut. Hasil tes urine pun menunjukkan negatif narkoba. Tapi proses hukum tetap berjalan untuknya.

Awalnya Fidelis dilaporkan ke pihak yang berwenang, Badan Narkotika Nasional (BNN) setempat. Dia lalu mendekam di sel tahanan sejak 19 Februari 2017. Fidelis dinyatakan bersalah dan divonis delapan bulan penjara.

Selain hukuman kurungan, Fidelis dikenai denda Rp 1 miliar. Jika denda tidak dibayarkan, dia dikenai hukuman tambahan satu bulan penjara.

“Sudah selesai persidangan. Divonis 8 bulan penjara,” kata pengacara Fidelis, Marcelina Iin, ketika dimintai konfirmasi detikcom, Rabu (2/8/2017).

Setelah ditahan, Fidelis tidak dapat lagi menyediakan ganja untuk Yeni hingga meninggal pada 25 Maret 2017, meninggalkan dua anak. Padahal, selama mengonsumsi ganja, kondisi Yeni menunjukkan gejala membaik.

Fidelis dapat menghirup udara bebas pada 15 Oktober 2017. Sebelum vonis jatuh kepadanya, Fidelis menceritakan perjuangan agar istrinya dapat sembuh.

Terpidana kasus kepemilikan ganja, Fidelis Arie Sudarwoto, dikabulkan permohonan bebas bersyaratnya oleh pihak Kanwil Kemenkumham Kalimantan Barat. Terhitung sejak hari ini, Fidelis dapat menghirup udara bebas.

Fidelis Arie, yang menanam ganja untuk mengobati istri (Foto: dok. Istimewa)

Terpidana kasus kepemilikan ganja, Fidelis Arie Sudarwoto, dikabulkan permohonan bebas bersyaratnya oleh pihak Kanwil Kemenkum HAM Kalimantan Barat. Terhitung sejak hari ini, Fidelis dapat menghirup udara bebas. (Foto: dok. Istimewa)

Dia mengaku sudah mencoba berobat ke beberapa rumah sakit dan minum berbagai obat. Selain itu, ia mencoba berbagai pengobatan alternatif dan minum obat-obatan herbal.

Namun semua itu tidak membuat istrinya menjadi lebih baik, malah hanya menguras habis semua tabungan yang sudah susah payah dikumpulkan bersama. Rencana mereka mengecat rumah pun harus kandas lagi, padahal semenjak berhasil membangun rumah sederhana secara bertahap, mereka belum pernah mengecatnya, bahkan sampai atapnya ada yang bocor, Arie belum bisa memperbaikinya.

“Papa tak ingin Mama menjadi sedih. Yang penting Mama harus sembuh dulu. Tentu Mama masih ingat doa yang selalu kita selipkan di saat kita berdoa rosario bersama-sama: ‘Tuhan, kami serahkan segalanya kepada-Mu. Tunjukkanlah kami jalan selangkah demi selangkah menuju kebaikan-Mu agar semuanya menjadi indah pada waktunya’,” ungkapnya saat menyampaikan pleidoi pribadinya di depan mejelis hakim pada Rabu (19/7).

Fidelis Arie langsung mengunjungi makam istrinya Yeni Riawati, selepas menghirup udara bebas. Fidelis merupakan terpidana kasus kepemilikan ganja yang divonis pidana penjara 8 bulan, yang mendapat kebijakan bebas bersyarat hari ini.

Arie pun mengumpulkan informasi dari berbagai sumber hingga akhirnya berkenalan dengan pendiri situs Worldwide Syringomyelia and Chairi Task Force bernama Beth Nguyen. Nguyen lalu menjelaskan soal penyakit syringomyelia, dan mengajari Arie panduan untuk merawat dan mengetahui perkembangan penyakit istrinya secara sederhana hingga dapat melakukan perawatan sendiri di rumah.

Nguyen mengatakan penyakit ini sudah ada sejak 200 tahun lalu. Mirisnya, obat syringomyelia belum ditemukan hingga kini.

“Berbekal pengetahuan yang Papa dapat dari Worldwide Syringomyelia and Chairi Task Force, Papa bisa merawat dan mengetahui kondisi Mama,” ungkapnya.

Kondisi Yeni yang terus menurun dan luka bertambah parah membuat Arie semakin sedih. Yeni sudah tidak dapat menelan makanan meskipun sudah diblender. Kedua kakinya juga semakin kaku, bahkan menjalar ke tangan kiri Yeni hingga menjadi terlipat dan tak dapat digerakkan.

“Perawat yang setiap hari datang ke rumah mengobati luka Mama pun sampai kehabisan akal dan bingung karena luka-luka itu tidak kunjung sembuh,” ujar Arie.

Arie terus mencari informasi penanganan sakit yang diderita istrinya. Dia pun menemukan artikel dari seorang perempuan Kanada, Christina Evan, seorang perempuan Kanada yang telah menderita sakit syringomyelia sejak 2013. Serupa dengan Yeni, beragam pengobatan dan obat dengan dosis maksimum belum dapat menyembuhkannya.

Christina Evan lalu beralih pada pengobatan menggunakan ekstrak ganja. Ketika itu, hidupnya menjadi normal. Christina Evan kini dapat mengurusi keluarganya.

“Banyak peneliti yang menjelaskan bahwa ganja memang berpotensi untuk mengobati penyakit yang sulit atau bahkan tidak bisa ditangani oleh obat-obatan medis, seperti kanker, alzheimer, epilepsi, diabetes, schizophrenia, parkinson, artritis, asma, bahkan HIV/AIDS,” ujarnya.

Selanjutnya, Arie mendapatkan bimbingan untuk merawat tanaman ganja secara organik dari pasangan suami-istri John dan Amanda Seckar, yang tinggal di Washington, DC, Amerika Serikat. Dia juga mendapatkan panduan untuk mengekstrak ganja dengan proses moserasi yang dapat dilakukan di rumah hingga akhirnya dapat menjadi obat.

Perkembangan kesehatan pun dapat dilihat di istrinya. Hal ini terjadi ketika Arie mulai mencampurkan ganja ke dalam makanan dan minuman Yeni.

“Mama, Papa masih ingat di awal Januari 2017, ketika Papa terbangun dari tidur di antara buku-buku, sambil memegang tablet Lenovo di samping tempat tidur Mama. Papa mendengarkan Mama menyanyikan lagu ‘Pelangi Sehabis Hujan’. Papa sungguh bahagia bisa mendengarkan Mama bernyanyi kembali,” ujarnya.

Semenjak Arie mulai intensif memberi Yeni ekstrak ganja, istrinya juga mulai lancar berkomunikasi kembali. Yeni jadi sering berbagi cerita dan kenangan yang pernah dilalui berdua.

Arie mengakui, pemberian ekstrak ganja juga membuatnya tidak perlu lagi membeli Sanoskin Oxy seharga Rp 320 ribu sebagai obat luka Yeni, yang satu botolnya hanya bisa dipakai 3-4 hari. Selain itu, Yeni tak perlu lagi meminum obat-obatan kimia yang ternyata tak efektif.

“Mama, Papa jadinya banyak menghemat uang. Papa bisa membelikan sepeda kecil untuk Samuel. Mama belum pernah lihat, kan, betapa lincah Samuel mengendalikan sepedanya? Papa sebenarnya ada merekam videonya, tapi Papa belum sempat menunjukkannya kepada Mama,” tutur Arie.

Tapi hal itu sudah sirna ketika Arie ditangkap atas kepemilikan dan penggunaan ganja pada pertengahan Februari 2017. Arie harus menjalani hukuman dengan mendekam di penjara.

Seperti diketahui, Kementerian Pertanian (Kementan) memasukkan tanaman ganja sebagai salah satu komoditas binaan tanaman obat.

Hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian yang ditandatangani Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Menanggapi hal tersebut Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementan Tommy Nugraha menjelaskan penetapan ganja di Kepmentan itu sudah ada sejak beberapa tahun lalu.

“Ganja itu sudah ada di Kepmentan, ada sejak 2006, baru ramai sekarang ya,” kata Tommy kepada detikcom, Sabtu (29/8).

Dia mengungkapkan maksud dari binaan tersebut Kementerian Pertanian bertujuan untuk mengalihkan petani ganja untuk menanam komoditas lain, seperti pisang.

“Dulu dari sekian banyak pembahasan dengan petani, banyak yang menolak untuk dimusnahkan. Karena itu, ganja masuk ke Kepmentan dan Kementan memberikan pembinaan kepada petaninya agar tidak lagi menanam ganja. Jadi mengarahkan ke yang lain,” jelas dia. (*)