Cerita Perjalanan Hidup John Kei: Gagal Jadi TNI, Pertama Kali ke Jakarta Hingga 2 Jenis Binis yang Paling Dihindarinya

ACEHSATU.COM – Nama John Kei kembali ramai diperbincangkan dan namanya melambung lagi setelah terjadi penyerangan di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, dan Perumahan Green Lake City, Cipondoh, Kota Tangerang, pada Minggu (21/6/2020).

Dikutip dari Tribun-Timur.com, Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Nana Sudjana, mengatakan John Kei dengan Nus Kei masih memiliki keterikatan saudara.

Permasalahan tersebut tidak menemui penyelesaian hingga akhirnya terjadi aksi saling ancam.

“Dengan dilandasi tidak adanya penyelesaian, mereka saling mengancam melalui HP,” ujar Nana.

Sementara itu sejumlah mobil terparkir di rumah Joh Kei di Perumahan Tytyan Indah Blok N1 Nomor 2, RT 3/12.

Melansir Warta Kota, terdapat mobil mewah yang terparkir di rumahnya itu mulai dari BMW berwarna silver, Honda Jazz dan Jeep Rubicon.

Rumah pertama itu terletak blok paling ujung yang terparkir mobil BMW. Rumah kondisi lama dan cenderung kumuh, di teras rumahnya terdapat hewan peliharaan anjing, dan samsak tinju.

Untuk suasana di rumah sampingnya, tidak begitu jelas hanya terlihat terpakir mobil Honda Jazz warna merah dan Jeep Rubicon.

Rumah yang ini memiliki dua lantai dan lebih besar dari rumah di sampingnya.

Berdasarkan informasi, rumah ini yang merupakan tempat tinggal John Kei bersama keluarganya.

Sedangkan dua rumah lagi tempat tinggal anak buahnya.

Di rumah ketiga itu juga terdapat spanduk bertuliskan ‘Sekretariat Pemuda Kei AMKEI’.

Berdasarkan penelusuran dari situs jual beli rumah, harga pasaran rumah di kawasan itu berkisar Rp 600 juta hingga Rp 1 miliar lebih.

Kisah Sukses John Kei

Melansir Warta Kota, terlepas dari kasus terbaru ini, nama John Kei memang begitu lekat dengan kekerasan di Jakarta.

Tapi bagaimana sebenarnya John Kei memulai bisnisnya di Jakarta, sampai akhirnya dia terlibat dalam berbagai kasus kekerasan di Jakarta.

Bahkan John Kei pernah mengaku bahwa kekuatan di Jakarta terbangun seusai ia terlibat kasus pembunuhan dan di penjara.

John Kei pernah menceritakan kisah kehidupannya saat diwawancara Pendeta Gilbert Lumoindong, dan di-posting dalam program #KAMUHEBAT Pendeta Gilbert di akun youtubenya dengan judul ‘John Kei Menangis Ingat Keluarga’.

John Kei memulai ceritanya dengan mengisahkan peristiwa ketika ia keluar dari kampungnya pada tahun 1986.

John Kei berbohong pada ibunya untuk bisa pergi ke Jawa.

Dia mengaku hanya akan pergi ke Dobo sekitar satu bulan lamanya.

Dobo tidak jauh dari kampung halamannya di Kei, Maluku Tenggara.

Tapi nyatanya John Kei justru pergi ke Surabaya tanpa sepeser pun uang.

Di Surabaya, John Kei tinggal bersama keluarganya.

Dia lalu sempat mencoba mendaftar menjadi prajurit TNI Angkatan Laut pada tahun 1987.

Dia gagal mengikuti tes lantaran memukul peserta lain saat proses seleksi.

“Ada peserta yang panggil Ambon Itam. Ya, saya hajar,” ujar John Kei.

Akibat perkelahian itu, John Kei tidak sempat ikut tes, ia lekas dikeluarkan.

“Setelah itu saya tato badan untuk melupakan masuk Angkatan Laut,” ujar John Kei.

Tahun 1988, John Kei pergi ke Jakarta.

Di Jakarta ia ditampung di rumah kerabatnya yang lain di kawasan Berlan.

Lucunya, saat itu John Kei tidak tahu rumah kerabatnya di Jakarta.

Dia hanya diberitahu bahwa rumahnya ada di kawasan Berlan.

John Kei sempat bingung mencari rumah kerabatnya sampai melihat sebuah celana jins tergantung depan sebuah rumah.

John Kei ingat bahwa itu celana jins milik kerabatnya ketika datang ke Surabaya.

John Kei pun memilih masuk ke dalam rumah, dan ternyata benar.

Pendeta Gilbert Lumoindong tertawa lebar mendengar cerita bagaimana John Kei tiba di Jakarta pertama kali.

Dari sanalah John Kei mulai mengenal kehidupan malam.

Ia bekerja dari satu pub ke pub lain.

Pekerjaan di diskotek ini ia mulai kerjakan tahun 1988.

Sampai akhirnya bekerja menjadi satpam di satu diskotek di Jalan Jaksa.

Ia memperoleh gaji Rp 200 ribu per bulan.

“Tapi tiap bulan terima kertas saja karena banyak utang,” ujar John Kei.

Tapi ia tak lama menjadi satpam karena berkelahi dengan bosnya.

Dia menghancurkan semua barang-barang bosnya, lalu kembali ke kampung halamannya di Pulau Kei.

John Kei menceritakan, ketika ia pulang ke kampung halamannya, kondisi keuangannya sudah jauh lebih baik.

Bahkan ibunya sampai terharu dengan apa yang bisa didapatkan John Kei.

Dia kemudian kembali bekerja di Jalan Jaksa, lalu terlibat kasus pembunuhan di Jalan Jaksa di tahun 1992.

Dia divonis 5 tahun penjara, dan bebas pada tahun 1995.

Menurut John Kei, setelah ia keluar penjara untuk pertama kalinya, saat itulah kekuatannya mulai terbangun.

Dia jadi memiliki anak buah, dan banyak orang mulai memilih bergabung dengannya.

Hal itu membuatnya jadi seperti pimpinan geng.

Saat itu, John Kei mengklaim bahwa dirinya sudah memiliki pasukan di mana-mana.

Di awal bisnisnya, John Kei paling anti dengan pekerjaan menjaga tempat hiburan.

“Jadi kalau saya ketemu pengusaha, you kasih kerjaan saya kerja. Tapi kalau kerja jadi security saya tidak,” kata John Kei.

“Tapi kalau ada kerjaan jadi debt collector, itu pasti saya mau,” ujar John Kei.

Makanya kemudian John Kei menggerakakn anak buahnya untuk menjadi debt collector.

Ketika bisnisnya makin membesar, John Kei mengatakan punya 500 hingga 600 orang yang sangat setia kepadanya.

“Kalau saya suruh pergi ke neraka, mereka pergi ke neraka,” ujar John Kei.

Tapi di luar itu, John Kei masih memiliki banyak anak buah lain.

Bahkan, kekuatan anak buah John Kei tak terbatas. Segalanya sesuai kebutuhan John Kei.

“Kalau saya butuh berapa, maka mereka kumpul,” ujar John Kei.

2 Jenis Bisnis yang Dihindari John Kei

John Kei juga menceritakan, ada 2 jenis bisnis yang paling dia hindari.

Seingat John Kei, dia hanya pernah terlibat dengan bisnis menyangkut tanah satu kali saja.

Selain itu, selama menjadi bos preman, John Kei ternyata tidak mau menjalankan bisnis narkoba.

“Dari dulu saya tidak mau transaksi narkoba,” ujar John Kei.

Jadi ada dua jenis bisnis yang paling ia hindari. Pertama, menyangkut tanah. Kedua, menyangkut narkoba. (*)