Cemburu, Seorang ABG di Lhokseumawe Nekat Lakukan Penusukan, Korban Sempat Kritis

Cemburu, Seorang ABG di Lhokseumawe Nekat Lakukan Penusukan, Korban Sempat Kritis

ACEHSATU.COM | LHOKSEUMAWE – Seorang anak baru gede (ABG) berinisial AD dilaporkan ke polisi gara-gara ulahnya yang nekat menusuk MT (16). Parahnya, penusukan tersebut dilandasi motif cemburu.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto SIK MH di Lhokseumawe dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (14/7/2020), mengatakan peristiwa penusukan terjadi pada hari Minggu, (12/7/2020).

AD (17) warga Desa Mon Gedong Kecamatan Banda Sakti menusuk MT di pabrik PAG Desa Blang Pulo Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe.

Pelaku dan korban tergolong masih di bawah umur. Akibat penusukan itu, korban MT mengalami luka tusuk hingga kritis.

Saat ini, pelaku sudah diamankan tim Resmob Polres Lhokseumawe sekitar pukul 13.00 WIB siang tadi.

“Kondisi korban saat ini mulai membaik, dimana sebelumnya sempat mengalami kritis di rumah sakit Arun,” kata Eko Hartanto didampingi Waka Polres Lhokseumawe, Kompol Ahzan, dikutip dari Antara, Selasa malam.

Disebutkan, penganiayaan tersebut bermotif rasa cemburu pelaku terhadap korban MT. Polisi sendiri belum bisa mendapatkan keterangan dari korban karena masih dalam perawatan.

Saat ini, pelaku sudah diamankan tim Resmob Polres Lhokseumawe sekitar pukul 13.00 WIB siang tadi.

Dijelaskan Kapolres, saat penusukan orang tua korban, yaitu ZF (35) berada tidak jauh dari TKP, namun tak menyadari penusukan terhadap anak kandungnya. ZF baru menyadari setelah orang lain memberitahukan tentang kondisi anaknya yang sudah bersimbah darah dan tak sadarkan diri,

Dari keterangan saksi lainnya MF (15) yang juga teman korban dan melihat langsung pada saat AD memegang satu buah keris dan menusuk ke badan korban MT.

Pelaku terancam pasal 80 ayat 2 UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak Jo UU RI nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak.

“Karena pelaku masih tergolong di bawah umur maka akan dilakukan upaya diversi sesuai pasal L5 ayat 3 UU SPPA, namun apabila gagal diversi maka perkara akan diproses secara hukum,” kata Eko Hartanto melansir Antara. (*)