Cara Cerdas Investasi untuk Akhirat

Banyak orang yang ingin menginvestasikan asetnya pada sektor produktif dan mampu memberikan keuntungan tinggi.
Hamdani.

ACEHSATU.COM – Banyak orang yang ingin menginvestasikan asetnya pada sektor produktif dan mampu memberikan keuntungan tinggi.

Jika ia memiliki uang maka ia berpikir bagaimana caranya bisa meningkat nilainya berkali kali lipat dari modal.

Begitulah konsep investasi bisnis duniawi.

Pemilik aset mengembangkan hartanya dengan mengharap return lebih besar secara langsung.

Instrumen yang diinvestasikan pun sangat beragam namun umumnya berupa uang atau dana.

Namun sebaliknya, sangat sedikit orang di jaman sekarang yang mampu berpikir cerdas untuk berinvestasi bagi akhiratnya.

Menurut Ahmad Shonhaji Investasi merupakan persiapan seseorang untuk jangka waktu yang sangat panjang dan menguntungkan.

Seseorang yang melakukan investasi tentu memiliki sesuatu yang berlebih pada dirinya, baik berupa harta, modal atau keahlian.

Sementara investasi akhirat menurut beliau dalam Islam, investasi akhirat itu disebut sadaqah jaariyah investasi abadi

Harta yang diinfakkan dan dikeluarkan di jalan Allah dalam bentuk zakat dan infak sedekah (ZIS), hibah, hadiah, serta wakaf, akan mengalir menjadi multimanfaat.

Sebagaimana Nabi Muhammad Saw bersabda:

“Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah semua amalannya kecuali 3 perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh yang mendoakan orangtuanya.”

Dari hadits tersebut jelas lah bahwa instrumen sadaqah merupakan salah satu alat untuk berinvestasi untuk akhirat, yang mana pahalanya terus mengalir meskipun orang yang bersedekah sudah meninggal dunia.

Apalagi bila ia bersedeqah untuk kepentingan agama, umat, dan sosial sekalipun.

Selain sadaqah, instrumen investasi akhirat juga meliputi waqaf. Dengan memberikan harta kita untuk Allah SWT maka Dia pun akan terus memberikan pahala atas aset yang telah kita waqaf kan tersebut.

Sekarang ini konsep waqaf sudah dikembangkan sedemikian luas, artinya seseorang boleh mewaqafkan apa saja yang ia memiliki tidak terbatas hanya pada aset tidak bergerak seperti tanah.

“Perumpaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada tiap tangkai ada seratu biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 261)

Sebagai sebuah contoh saat ini kita mengenal konsep waqaf tunai berbentuk uang, bahkan waqaf waktu, Ilmu, hingga nyawanya.

Sebagaimana dijelaskan di dalam hadits di atas ilmu yang bermanfaat juga dapat dijadikan sebagai alat atau modal untuk investasi akhirat.

Melalui ilmu yang dimilikinya seseorang dapat mengajarkan kepada orang lain agar hidupnya menjadi lebih baik dan memperoleh pencerahan, apalagi jika yang diajarkan itu adalah ilmu agama.

Rasulullah Saw mengatakan bahwa ilmu adalah salah satu ladang amal yang pahalanya terus mengalir hingga kita meninggal dunia.

Kemudian yang terakhir adalah anak yang saleh. Anak yang saleh yang selalu mendoakan orang tuanya saat mereka telah tiada.

Oleh karena itu mendidik dan membesarkan anak bukan saja soal tanggung jawab, tapi investasi bagi kedua orang tuanya.

Jika berhasil dan membuat anak-anaknya menjadi anak yang bertaqwa, tentu besar jasanya dan amal jariahnya tidak terputus.

Sebagai kesimpulan, mumpung masih di dalam bulan Ramadhan, maka manfaatkanlah kelebihan dan keagungan bulan tersebut sebagai momentum atau waktu yang tepat untuk berinvestasi bagi akhiratmu.

Di bulan ini seluruh kebaikan yang dilakukan dilakukan secara ikhlas karena panggilan iman walau sebiji zarrah, sungguh balasannya berlipat ganda

Rumus menghitung investasi akhirat pahala bulan Ramadan pun banyak disampaikan oleh para ustadz dimana setiap satu kebaikan kalikan dengan 10 kebaikan dikalikan pahala 70. Nah begitu besar “pendapatan” pahala dari Allah SWT. (*)