ACEHSATU.COM | LHOKSEUMAWE – Heri Maulana Camat termuda alumnus IPDN di Kota Lhokseumawe meninjau lokasi peninggalan situs sejarah islam Kesultanan Sumatra (Sumatera Pasai) Senin, (4/2/2019).

Dalam kesempatan tersebut, Camat Muara Dua meninjau dua lokasi situs bersejarah peninggalan Kesultanan Sumatra (Samudra Pasai) di dua lokasi berbeda.

Camat Muara Dua Heri Maulana didampingi Tgk Malikulsaleh dan Almuzlir mengunjungi peninggalan situs sejarah islam Kesultanan Sumatra (Sumatera Pasai) Senin, (4/2/2019). Foto Almuzalir

Didampingi Tgk Malikulsaleh dan Almuzalir dari CISAH (Center Information Samudera Pasai Heritage) mengunjungi situs di Cot Kandeh Panggoi Kecamatan Muara Dua dan situs bersejarah di Keude Cunda.

Kepada ACEHSATU.com mengatakan
dirinya merasa prihatin terhadap Situs-situs pemakaman bersejarah di era kejayaan samudra pasai yang tidak terawat dan terbengkalai.

“kita telah melakukan kedurhakaan kepada leluhur yg telah membawa bangsa aceh sampai kepada puncak kejayaan, kita malah melupakan apa yg telah mereka perjuangkan terhadap kejayaan Islam dan Kejayaan Aceh tempoe dulu”. Ujar Heri Maulana

Heri Menambahkan, Semua warga wajib menjaga dan melestarikan sejarah, hal itu telah diatur dalam Undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Pada Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengamanatkan bahwa, Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Kutipan ini memiliki beberapa unsur yang penting sebagai pedoman kehidupan bernegara.

Pertama, adalah pengertian tentang kebudayaan nasional, yaitu kebudayaan yang hidup dan dianut oleh penduduk Indonesia.

Kedua, menempatkan kebudayaan itu dalam konstelasi peradaban manusia di dunia dan Ketiga, negara menjamin kebebasan penduduknya untuk memelihara dan mengembangkan kebudayaan miliknya.

Dengan demikian, Heri selaku Camat Muara Dua mengajak masyarakat Kota Lhokseumawe, Kecamatan Muara Dua khusunya untuk berkewajiban melaksanakan kebijakan memajukan kebudayaan secara utuh untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Tegas Heri.

Rumusan ini mejadi pedoman dalam menyusun fasal-fasal berisi perintah, larangan, anjuran, pengaturan, dan hukuman yang menguntungkan masyarakat.

Isu tentang adaptive reuse, good governance, desentraliasi kewenangan, atau hak-hak publik selalu mewarnai kalimat dan susunan pasal Undang-Undang Cagar Budaya.

Dengan demikian, Walikota Lhokseumawe Tgk Suaidi melalui Camat Muara Dua Heri Maulana menegaskan, dirinya akan menjaga,merawat dan memugar setiap lokasi situs bersejarah di Kecamatan Muara Dua. Tegas Heri Alumnus IPDN asal Aceh tersebut.

Pihaknya Dibantu tim CISAH Lsm yang bergerak dalam bidang pelestarian sejarah di Aceh Utara serta di dukung oleh generasi muda peduli sejarah PELISA akan mencari dan mendata semua titik lokasi situs yang tersebar di Kota Lhokseumawe untuk mengembalikan indentitas Aceh yang gemilang.

Untuk diketahui, saat ini Kecamatan Muara Dua telah terbentuk organisasi pelisa yang berpusat di SMAN 5 Lhokseumawe sebagai generasi pencinta sejarah di Kota Lhokseumawe

Kiriman serupa

1 Komentar

  1. Setuju pak camat, situs yg bersejarah harus dirawat dgn sebaik2nya. Selain sbg bentuk penghormatan kpd para pahlawan Islam n Aceh tempo dulu, jika dirawat dgn baik maka tak ayal dpt menarik kunjungan wisatawan, alhasil dpt pula menambah pundi2 gampong/kecamatan.
    Salam sukses inovatif. Barakallah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *