Cai Changpan yang Ditemukan Tewas Tergantung Seorang Mualaf, Nikahi Wanita Asli Tenjo

Cai Changpan Mualaf
Terpidana mati, Cai Changpan dan Kawasan Hutan Tenjo. Foto Net

ACEHSATU.COM — Terpidana mati Cai Changpan asal China yang kabur dari Lapas Klas I Tangerang, disebut sempat shalat sebelum masuk hutan Tenjo, Kabupaten Bogor.

Status kewarganegaraan Cai Changpan hingga ini masih WN China. Terpidana mati kasus narkoba ini sudah menjadi mualaf dan beristrikan warga asli Tenjo, Kabupaten Bogor.

Cai Changpan ditengarai sempat shalat di sebuah pondokan sebelum masuk lebih dalam lagi ke hutan Tenjo.

 “Istrinya warga negara Indonesia asli Tenjo dan Cai Changpan itu sudah mualaf,” ungkap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus kepada wartawan, Sabtu (3/10/2020).

Di kawasan Hutan Tenjo, terdapat pondokan. Cai Changpan ditengarai sempat beristirahat dan sholat di situ.

“Bahkan masuk di dalam itu, ada tempat di dalam hutan itu kayak rumah-rumah pondokan untuk orang sholat. Sempat dia di situ, dia sholat di situ,” ujar Yusri.

Selain keterangan saksi, ada beberapa barang milik Cai Changpan yang tertinggal di pondokan tersebut.

Saat ini ada lima tim gabungan yang dikerahkan untuk melakukan pencarian Cai Changpan di dalam hutan Tenjo Kabupaten Bogor.

Personel Brimob pun dikerahkan untuk memperluas pencarian Cai Changpan di hutan Tenjo.

Sebagaimana dikutip dari berkas putusan atas nama Cai Changpan, Senin (21/9/2020), Cai melakukan kejahatannya pada Oktober 2016 silam. Cai ditangkap pada 26 Oktober 2016 pagi di Jalan Raya Prancis, Dadap, Kosambi Timur, Tangerang.

Dari penangkapan pertama itu, didapati dari mobil Cai sabu seberat 20 kg. Dari penangkapan itu, polisi menyasar ke gudang di Maja Tangerang.

Di lokasi kedua ini, didapati 90 kg sabu. Ada 70 kg di antaranya disimpan di dalam 5 unit kompresor pembersih kandang ayam.

Aparat tidak tinggal diam dan mencari lagi lokasi penyimpanan sabu. Aparat menyasar sebuah rumah di Desa Tegal Wangi, Jasinga, Bogor. Dari lokasi ini, didapati 25 kg sabu.

Dari penangkapan itu, Cai diproses secara hukum dan berkasnya dilimpahkan ke pengadilan. Kepada majelis hakim, Cai menyatakan ia pernah tinggal di Indonesia selama lima tahun dan kembali lagi ke China. Setelah itu, ia kembali lagi ke Indonesia untuk bisnis jahatnya itu.

Cai mengaku ia hanya disuruh bosnya, Ahong untuk mengedarkan narkoba di atas. Tiap 1 kg sabu, ia mendapatkan upah Rp 4 juta.

Cai sudah menikahi orang Indonesia, Nurhayah pada 2012 dan dikaruniai seorang anak.

Pada 17 Juli 2017, PN Tangerang menjatuhkan hukuman mati kepada Cai. Hukuman mati itu dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Banteng pada 27 September 2017. (*)