Budidaya Kepiting Lunak, Potensi Bisnis yang Terabaikan

Hampir tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, Tgk Zulfan (50 tahun) pembudidaya Kepiting Lunak di Cot Lamkuweuh Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh, tetap semangat menjalani usahanya.
Pembudidaya Kepiting Lunak di Gampong Lamkuweuh, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh sedang menebar bibit kepiting ke dalam wadah, Sabtu, (19/6/2021). Foto: dok acehsatu

Budidaya Kepiting Lunak, Potensi Bisnis yang Terabaikan

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Hampir tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, Tgk Zulfan (50 tahun) pembudidaya Kepiting Lunak di Cot Lamkuweuh Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh tetap semangat menjalani usahanya.

Saat ditemui ACEHSATU.COM, Sabtu, (19/6) di lokasi empang muara Cot Lamkuweuh, yang kini dijadikan sebagai tempat budidaya, Zulfan berbagi cerita tentang seluk beluk usaha budidaya kepiting lunak yang telah dijalani selama hampir 10 tahun.

Zulfan menuturkan, banyak kawan-kawannya yang dulu pernah sama-sama melakukan usaha budidaya kepiting lunak, namun tidak banyak yang mampu bertahan. Saat ini yang masih menggeluti usaha tersebut hanya 6 orang saja.

“Salah satu faktor adalah karena keterbatasan ilmu dan modal usaha.” ujarnya

Zulfan sedang menyiapkan bakalan Kepiting untuk dibudidaya

Perlu diketahui Budidaya kepiting lunak di Aceh merupakan jenis usaha baru, yang diperkenalkan oleh NGO yang datang membantu program rehab/rekon paska tsunami 2004 silam.

Hingga program rehabilitasi selesai dilakukan, beberapa kelompok masyarakat yang pernah mendapatkan life skill budidaya kepiting lunak tetap meneruskannya sebagai sumber pendapatan.

Minim Perhatian

Sementara pihak Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) sendiri tidak pernah memberikan penyuluhan atau bimbingan teknis kepada pembudidaya bagaimana cara melakukan budidaya yang baik untuk komoditas kepiting lunak ini.

“Hal itu sangat disayangkan”, ucap Zulfan lirih.

Padahal dari sisi kebutuhan pasar, kepiting jenis ini sangat besar. Tidak hanya pasar domestik bahkan kebutuhan lokal juga terus terjadi peningkatan, seiring pengetahuan masyarakat tentang Kepiting Lunak.

Pengamatan ACEHSATU.COM di lapangan, areal yang kini dikelola oleh Zulfan mencapai 500 meter persegi. Hamparan seluas itu dapat menampung sebanyak 6 rakit basket tempat bibit Kepiting Lunak, dimana setiap rakitnya berisi 900 basket yang berukuran kecil-kecil.

Wadah tempat membudidayakan kepiting yang butuh peremajaan

Potensi bisnis

Setalah 15 hari semenjak bibit ditanam dalam basket, Kepiting Lunak sudah dapat dipanen perdana. Masa panen sendiri bisa berlangsung 1-1,5 bulan tergantung masing-masing kecepatan bibit Kepiting berproses.

Selama proses budidaya, kepiting-kepiting tersebut diberikan pakan dua kali sehari. Pakan yang diberikan biasanya ceker ayam, tulang ikan, ikan-ikan buangan, dan kulit hiu yang diperoleh dari limbah-limbah di pasar ikan.

Modal yang dibutuhkan oleh Zulfan untuk menjalankan usaha ini lebih kurang Rp150 juta yang digunakan untuk investasi dan modal kerja.

“Tidak ada bantuan yang saya peroleh dari siapapun, padahal saya sangat membutuhkan peremajaan sarana dan prasarana budidaya”, kata Zulfan.

Foto Dok ACEHSATU.COM

Kebutuhan bibit Zulfan disuplai dari Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara, dengan harga kisaran Rp50 ribu per kilogram terima ditempat pembeli.

Bakalan kepiting yang ambil dari alam/hutan bakau ini diperoleh melalui pengepul.

Untuk pemasaran kepiting lunak saat ini selain dipasok ke pasar lokal seperti hotel-hotel dan restoran di Banda Aceh juga dikirimkan ke luar daerah dengan harga jual Rp120 per kilogram.

Meski minim perhatian dari pihak manapun namun Zulfan tidak mengeluh atau mempermasalahkannya. Sebab secara bisnis, usaha ini memang layak dijalankan. Itu pula rahasianya mengapa dia bertahan di usaha budidaya kepiting lunak hingga saat ini. (*)