BPS: Ekonomi Aceh Tumbuh 3,24 Persen, Didominasi Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan

Perekonomian Serambi Mekah masih didominasi lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan
Ekonomi Aceh
Ilustrasi Migas (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat ekonomi Tanah Rencong tumbuh sebesar 3,24% pada triwulan I-2022.

Perekonomian Serambi Mekah masih didominasi lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan.

Koordinator Fungsi Statistik Sosial BPS Aceh Dadan Supriadi, mengatakan, ekonomi Aceh secara years on years pada triwulan I-2022 dengan minyak dan gas (Migas) tumbuh 3,24% dan tanpa migas tumbuh 2,40%. Ada beberapa lapangan kerja yang mengalami pertumbuhan tertinggi pada triwulan tersebut.

“Dari sisi produksi pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 31,68%. Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi ada di komponen impor luar negeri sebesar 164,95%,” kata Dadan dalam konferensi pers secara virtual, Senin (8/5/2022).

Dia menjelaskan, sejumlah lapangan usaha di Aceh mengalami pertumbuhan negatif seperti konstruksi sebesar 8,47%, industri pengolahan sebesar 6,57% serta administrasi pemerintahan sebesar 2,40%.

Menurutnya, struktur perekonomian Aceh berdasarkan lapangan usaha atas dasar harga berlaku triwulan I- 2022 tidak menunjukkan perubahan signifikan. Sejumlah lapangan usaha disebut masih mendominasi pertumbuhan ekonomi.

Lapangan usaha tersebut adalah pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 30,47%, diikuti perdagangan besar-eceran reparasi mobil-sepeda motor sebesar 13,71%. Selain itu, pertambangan dan penggalian sebesar 9,20% dan konstruksi sebesar 8,68%.

Ekonomi Aceh
Ilustrasi Migas (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)

“Peranan keempat lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Aceh mencapai 62,06%,” ujarnya.

Dadan mengatakan, perekonomian Aceh triwulan I 2022 diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp47,95 triliun dengan migas dan tanpa migas adalah sebesar Rp44,86 triliun. Sementara itu PDRB atas harga konstan dengan migas adalah sebesar Rp33,13 triliun dan tanpa migas adalah sebesar Rp31,51 triliun.

“Ekonomi Aceh dengan migas triwulan I-2022 bila dibandingkan triwulan IV-2021 (q-to-q) mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 7,10%. Sementara q-to-q tanpa migas juga mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 7,61%,” ujarnya.

Bila dilihat secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Sumatera pada triwulan 1-2022 dibandingkan triwulan I-2021 (y-on-y) mengalami pertumbuhan mencapai 4,03%. Provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi yakni Sumatera Selatan sebesar 5,15%, diikuti Riau 4,72% dan Jambi 4,64%.

Sedangkan daerah dengan pertumbuhan ekonomi terendah adalah Provinsi Kepulauan Riau sebesar 2,83%, dan Lampung 2,96%. Bila dilihat berdasarkan kontribusi dari masing-masing PDRB provinsi di wilayah regional Sumatera, Provinsi Riau, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan merupakan daerah dengan kontribusi tertinggi yaitu masing-masing sebesar 24,56 persen, 22,92 persen, dan 13,05 persen.

“Kontribusi terkecil terhadap PDRB Sumatera adalah Provinsi Bangka Belitung yaitu sebesar 2,32 persen. Sementara itu, Provinsi Aceh memberikan kontribusi sebesar 4,88 persen terhadap PDRB Sumatera pada triwulan I-2022,” terang Dadan. (*)